Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Awas Bencana Demografi! Ini Alasan Pentingnya Menjaga Ketahanan Ekonomi Keluarga

7 September 2026, 12:41 WIB • 3 menit baca
Seorang khatib pria muda mengenakan peci hitam dan baju koko krem sedang menyampaikan khotbah Jumat dari mimbar kayu berukir di dalam Masjid At-Taqwa Wates. Di belakangnya terdapat kaligrafi Islam emas.
Ustadz M. Burhan Khaerudin, S.Pd. saat menyampaikan pesan penting mengenai ancaman bencana demografi dan pentingnya menjaga ketahanan ekonomi keluarga di Masjid At-Taqwa Wates, Kulon Progo, DIY.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Kerapuhan finansial dan ancaman krisis moral kini membayangi generasi muda di tengah melimpahnya penduduk usia kerja. Jika tidak segera dibenahi, kondisi ini bisa memicu bencana demografi yang merusak masa depan bangsa. Oleh karena itu, menjaga ketahanan ekonomi keluarga menjadi benteng utama agar anak-anak terhindar dari bahaya kemiskinan dan maraknya bahaya pinjol ilegal.

Suasana khusyuk menyelimuti Masjid At-Taqwa Wates pada Jumat, 4 September 2026. Saat itu, Ustadz M. Burhan Khaerudin, S.Pd. menyampaikan pesan mendalam mengenai nasib bangsa menjelang puncak bonus demografi 2045. Lebih dari 70 persen penduduk Indonesia kini berada di rentang usia produktif. Fenomena ini membawa peluang besar sekaligus tantangan berat jika kualitas sumber daya manusia tidak dibenahi sejak dini.

“Hendaklah merasa takut orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka,” tutur Ustadz M. Burhan Khaerudin saat mengutip Surah An-Nisa ayat 9 sebagai pijakan moral khotbahnya.

Ancaman Kesehatan Fisik dan Ketertinggalan Literasi Anak

Kelemahan pertama yang mengintai masa depan anak-anak bermula dari masalah kesehatan fisik. Masalah stunting dan kurang gizi masih menjadi ancaman nyata yang memperlambat pertumbuhan raga serta perkembangan otak anak. Tanpa tubuh yang sehat dan bertenaga, sulit bagi generasi muda untuk bersaing di panggung global.

Selain masalah fisik, ketertinggalan intelektual makin memperkeruh keadaan. Data literasi membaca, matematika, dan sains anak-anak Indonesia saat ini masih membutuhkan pembenahan besar-besaran. Di era pesatnya kecerdasan buatan, ketertinggalan literasi berisiko membuat anak muda hanya menjadi konsumen teknologi.

Ia menegaskan bahwa perintah membaca dalam wahyu pertama harus menjadi pengingat bersama. Penguasaan ilmu pengetahuan merupakan syarat mutlak agar bangsa ini dapat meraih kemajuan.

Dampak Bahaya Pinjol Ilegal dan Judi Online

Sektor ekonomi keluarga juga menyajikan persoalan yang tidak kalah memprihatinkan. Maraknya judi online serta bahaya pinjol ilegal kian mengikis ketahanan finansial masyarakat. Akhirnya, kondisi ini memperparah angka pengangguran usia muda dan memicu krisis moral di tengah keluarga.

Ia pun mengingatkan pesan Rasulullah SAW mengenai pentingnya kemandirian ekonomi keluarga di hadapan para jamaah. Ia menekankan bahwa orang tua wajib menyiapkan masa depan finansial anak-anaknya secara matang.

“Lebih baik engkau meninggalkan anak keturunanmu dalam keadaan berkecukupan daripada meninggalkan mereka dalam keadaan lemah hingga meminta-minta kepada manusia,” ucapnya saat menyampaikan kutipan hadis tersebut.

Membentengi Karakter dan Akhlak Generasi Muda

Krisis karakter dan moral pada akhirnya menjadi muara dari seluruh ancaman sosial tersebut. Jumlah penduduk yang banyak tanpa benteng iman dan akhlak yang kokoh hanya akan menjadikan bangsa ini rapuh. Akibatnya, masyarakat mudah diombang-ambingkan oleh perubahan zaman bagaikan buih di lautan.

Puncak bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045 bukan sekadar hitungan angka di atas kertas. Sebaliknya, momen ini menjadi cermin kesiapan setiap keluarga dalam mendidik dan memberikan gizi terbaik bagi anak-anaknya.

“Menyiapkan generasi penerus yang tangguh hari ini adalah investasi terbesar agar Indonesia berdiri tegak dan bermartabat di masa depan,” pungkasnya di akhir khotbah.

Kontributor: Gahtan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: