Jomblang Bersholawat ke-4 Jadi Bukti Nyata Ukhuwah NU Muhammadiyah
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Ribuan warga membuktikan eratnya ukhuwah NU Muhammadiyah dalam gelaran Jomblang Bersholawat. Melalui acara ini, masyarakat melebur tanpa sekat golongan untuk melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Pemandangan magis tersebut seketika menghadirkan kesejukan nyata bagi toleransi umat Islam.
Momen bersejarah ini berlangsung pada Ahad, 13 September 2026. Sejak petang, jamaah tampak memadati kawasan Bundaran Cinde Muhammadiyah, Kelurahan Jomblang, Kota Semarang. Berkat antusiasme yang tinggi, udara malam yang dingin seketika terasa hangat oleh semangat kebersamaan warga.
Kegiatan religius ini pada dasarnya merupakan agenda rutin dari Kelurahan Jomblang. Atas inisiasi Lurah Jomblang, perhelatan ini sukses memasuki edisi keempat. Pihak penyelenggara turut menggandeng 15 RW beserta seluruh RT di wilayah tersebut. Lebih lanjut, panitia juga secara khusus mengajak tokoh NU dan Muhammadiyah untuk menjalin kerja sama erat.
Pesona Kolaborasi Dua Tradisi Besar
Sebagai pembuka, rangkaian acara Jomblang Bersholawat ke-4 langsung memanjakan mata penonton. Para pesilat muda Tapak Suci Muhammadiyah unjuk gigi menampilkan jurus-jurus andalan mereka. Lewat setiap gerakan ritmis, mereka memancarkan aura ketegasan yang memikat ribuan pasang mata.
Memasuki acara inti, suasana perlahan berganti menjadi sangat syahdu. Kekompakan jamaah semakin terlihat saat Gus Ichanuddin dan Gus Lubabul Maali Ahmad melantunkan selawat. Lantunan nada merdu ini sukses menyatukan hati warga dalam harmoni yang mendamaikan jiwa di sekitar Bundaran Cinde.
Tausiyah Menggugah bagi Warga Jomblang
Selain berselawat, jamaah juga menyimak tausiyah menggugah dari Gus Ichanuddin. Dalam pesannya, ia menyampaikan bahwa selawat harus selalu berjalan beriringan dengan pilar kehidupan. Ia menyebutkan tiga fondasi utama yang wajib dijaga oleh masyarakat.
“Kunci tentram ada tiga, yaitu syariah, tatanan negoro, dan sosial masyarakat,” tutur Gus Ichanuddin tegas. Menurutnya, ketiga pilar ini memegang peran krusial bagi keseimbangan hidup beragama. “Insyaallah jika tiga hal ini jalan, Jomblang akan aman dan tentram,” tambahnya menyemangati jamaah.
Melengkapi pesan tersebut, Gus Lubabul Maali Ahmad turut memberikan pandangan spiritualnya. Ia mengingatkan warga agar selalu mengutamakan ibadah pokok di atas segalanya. “Prioritaskan yang wajib, seperti salat dan mengaji Al-Qur’an,” ungkap Gus Lubabul kepada ribuan hadirin.
Walaupun berselawat sangat baik, ia meminta umat Islam pantang melupakan kewajiban utama. Sebagai penutup, ia mengutip intisari Surah Az-Zalzalah untuk mengingatkan warganya. “Kebaikan sebesar biji zarah pun pasti dibalas oleh Allah,” jelasnya dengan penuh makna.
Pesan Mendalam tentang Sayap Garuda
Pemandangan menyejukkan malam itu sontak memantik haru dari perwakilan pemerintah daerah. Wakil Wali Kota Semarang, H. Ir. Iswar, menatap lautan manusia tersebut dengan sorot mata bangga. Di atas panggung, ia spontan menyematkan metafora indah mengenai kokohnya persatuan.
“Muhammadiyah dan NU layaknya dua sayap burung Garuda. Keduanya harus kerja sama saling mengokohkan,” ujar Iswar mantap. Ia menilai kerukunan dua organisasi besar ini sangat vital bagi kemajuan bangsa. “Kalau yang satu pincang, maka terbangnya akan terganggu,” tegasnya.
Mewujudkan Akhlak dalam Tindakan Nyata
Sejalan dengan pesan persatuan itu, visi serupa datang dari Ketua PCM Candisari, Dr. Abdul Kohar, M. Ia menekankan bahwa pertemuan akbar ini harus melampaui sekadar perayaan massal. Oleh karena itu, ia mengajak warga Jomblang untuk menyelami esensi sejati dari selawat.
“Bersholawat tidak hanya sebatas bacaan sholawat, tetapi bagaimana kita meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” kata Abdul Kohar. “Jika itu kita lakukan, insyaallah Jomblang akan menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur,” pungkasnya.