Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Saat Al-Qur’an Menyatukan Ribuan Warga di Simpang Lima

20 September 2026, 15:01 WIB 3 menit baca
Ketua PDM Kota Semarang Dr. H. Fahrurrozi bersama para tokoh masyarakat dan jamaah duduk berdampingan di bawah tenda panggung MTQ Nasional XXXI di Lapangan Simpang Lima Semarang.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. H. Fahrurrozi, M.Ag. (tengah, berkemeja batik marun) duduk berdampingan bersama jajaran tokoh keagamaan dan masyarakat menyaksikan jalannya perhelatan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Simpang Lima Semarang, Sabtu (19/9/2026).

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Angin malam di Lapangan Simpang Lima Semarang membawa hembusan yang berbeda. Gemerlap lampu panggung dan lautan manusia yang tumpah ruah merubah pusat kota menjadi arena perjumpaan batin yang hangat. Di tempat ini, Al-Qur’an tidak sekadar bergema sebagai materi perlombaan, melainkan hadir mengetuk dan menyatukan ribuan hati warga.

Kehadiran ribuan penonton tersebut dengan cepat menghapus kekhawatiran yang sempat membayangi benak tokoh masyarakat lokal. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. H. Fachrur Rozi, mengaku sengaja mendatangi arena perlombaan hingga empat kali guna menyerap langsung denyut antusiasme warga.

Rasa ragu mengenai redupnya kepedulian publik mendadak sirna tatkala gelombang pengunjung kian membludak menjelang malam penutupan. Melalui lantunan ayat-ayat suci, arena lomba membuktikan daya pikat magis yang sanggup meruntuhkan tembok perbedaan dan menggerakkan langkah kaki masyarakat.

“Saya semula khawatir, kok tidak ada gregetnya. Tapi saat final, masyarakat membludak. Ini menunjukkan bahwa MTQ adalah milik seluruh umat Islam,” kata Dr. H. Fachrur Rozi pada Sabtu (19/9/2026).

Anak Muda Membaca Senandung Tilawah

Selanjutnya, pemandangan paling menggetarkan justru terpancar dari barisan anak muda dan para santri di sekitar panggung. Mereka tidak sekadar berdiri menyaksikan visual megah, melainkan menikmati setiap lengkok nada tilawah yang membahana dari atas mimbar.

Kemampuan anak-anak muda dalam mengenali variasi lagu serta teknik bacaan Al-Qur’an menghadirkan secercah harapan baru bagi masa depan syiar Islam. Di tengah kepungan konten digital yang begitu agresif menyita perhatian gawai, kecintaan generasi muda terhadap kitab suci rupanya tetap berurat akar secara mendalam.

Bahkan, ruang publik yang inklusif seperti perhelatan MTQ terbukti ampuh menjembatani kerinduan spiritual anak muda. Mereka menemukan kebanggaan baru saat meresapi tiap bait ayat Al-Qur’an yang bersahut-sahutan secara merdu dan presisi.

“Mereka tahu ini lagu apa, jenis tilawah apa. Mereka bisa mengikuti dengan baik. Ini kabar yang sangat menggembirakan bagi kita semua,” ujar Dosen dan Tokoh Muhammadiyah Kota Semarang tersebut.

Hanya Ada Satu Identitas Umat

Sementara itu, keputusan panitia untuk tidak menonjolkan label organisasi keagamaan para peserta justru melahirkan narasi persatuan yang sangat kuat. Setiap qari dan qariah tampil secara murni mengusung nama daerah asal tanpa harus memikul sekat-sekat ormas yang sering kali memisahkan.

Fenomena ini menyadarkan banyak pihak bahwa perbedaan latar belakang kelompok bakal melebur saat Al-Qur’an berkumandang. Tidak ada ruang untuk mempertentangkan nama besar organisasi, sebab yang tersisa di panggung Simpang Lima hanyalah rasa persaudaraan sebagai sesama Muslim.

Dengan demikian, ulasan mengenai sekat ormas luluh di MTQ ini menyajikan perenungan mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat. Kemenangan berupa piala dan medali mungkin bakal berpindah tangan, tetapi warisan berupa rasa persatuan akan terus membekas di relung batin warga Semarang.

Pada akhirnya, pekerja panggung kelak akan membongkar arena megah Simpang Lima dan panitia bakal memadamkan lampu-lampu acara. Namun, pesan persatuan dari Al-Qur’an harus tetap menyala dan hidup dalam tatanan bermasyarakat.

“Biar ormas tidak menjadi sekat, tapi menjadi pemersatu. Al-Qur’an tidak meminta kita berdiri di balik sekat, tetapi memanggil kita untuk berdiri bersama,” tegas Ketua PDM Kota Semarang tersebut.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: