Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Hidup Bahagia Lewat 7 Filosofi Jepang dan Islam untuk Ketenangan Jiwa

7 September 2026, 18:49 WIB • 3 menit baca
Seseorang mengenakan kemeja biru berdiri membelakangi kamera dengan kedua tangan terentang lebar menghadap lereng bukit hijau berselimut kabut tebal.
Ilustrasi seseorang yang merefleksikan kunci ketenangan hidup dan kedamaian jiwa di tengah alam terbuka, selaras dengan integrasi nilai Islam dan filosofi Jepang yang dipaparkan dalam Kajian Ahad Pagi Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Setiap manusia pada dasarnya mendambakan kehidupan yang bahagia dan tenang. Namun, banyak orang kerap keliru mengukur kebahagiaan hanya dari tumpukan harta, tingginya jabatan, atau tingkatan pengakuan sosial.

Padahal, kenikmatan materi sekadar memberikan kesenangan sementara tanpa pernah menenteramkan batin. Dosen FTIK UIN Walisongo Semarang, Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., membedah resep ketenangan jiwa tersebut dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang pada Minggu (6/9/2026).

Pencerah agama tersebut menegaskan bahwa Islam membuka pintu kebaikan dari mana saja selama tidak bertentangan dengan syariat. Bahkan, nilai-nilai kearifan global seperti filosofi hidup masyarakat Jepang dapat menjadi sarana untuk memperkuat kualitas ibadah umat Muslim.

“Hidup tenang bukan karena tidak ada masalah, melainkan karena kita memiliki cara yang benar untuk menjalaninya. Kebahagiaan yang kokoh bersumber dari iman yang kuat, hati yang bersyukur, serta tujuan hidup yang lurus kepada Allah,” tutur Dosen FTIK UIN Walisongo Semarang tersebut.

Memaknai 7 Prinsip Hidup Jepang

Selanjutnya, akademisi agama ini mengurai tujuh filosofi Jepang yang berjalan selaras dengan prinsip Hayah Thoyyibah atau kehidupan yang baik. Konsep Ikigai yang menekankan pencarian makna hidup sangat sejalan dengan hakikat penciptaan manusia untuk beribadah.

Prinsip Wabi-Sabi atau penerimaan ketidaksempurnaan mencerminkan sikap qana’ah dan tawakal dalam menghadapi ujian. Sementara itu, semangat Kaizen atau perbaikan berkelanjutan mengajarkan konsistensi istiqamah, sedangkan Gaman melatih ketahanan jiwa melalui kesabaran.

Di samping itu, konsep empati Omoiyari memperkuat kepedulian sosial, Shinrin-Yoku mengajak manusia bertafakur menikmati alam, serta Mottainai mendidik umat agar mensyukuri setiap nikmat tanpa bertindak mubazir.

“Kedua konsep ini saling melengkapi. Kebijaksanaan dari mana pun, jika selaras dengan nilai Islam, akan menjadi jalan menuju hidup yang bermakna dan diridai Allah,” tegas Penasihat Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Jawa Tengah tersebut.

Mewujudkan Hayah Thoyyibah

Sementara itu, pembahasan mengenai harmoni budaya dan syariat ini memantik kesadaran ratusan jamaah yang memadati ruang shalat. Kehidupan yang baik tidak berarti terbebas total dari kesulitan, melainkan hadirnya kelapangan hati saat melewati dinamika zaman.

Selain itu, ketenangan sejati membutuhkan integrasi antara tauhid yang murni dan amal saleh yang nyata secara konsisten. Iman tidak boleh berhenti sebagai ucapan lisan semata, tetapi harus memancar melalui perbaikan akhlak serta kepedulian terhadap sesama.

Dengan demikian, ulasan mengenai kunci ketenangan hidup ini memberikan panduan praktis bagi masyarakat modern di Semarang. Menjalani hidup dengan niat yang lurus dan rasa syukur bakal melahirkan kebahagiaan abadi hingga ke akhirat.

Pada akhirnya, setiap ujian yang hadir merupakan bentuk kasih sayang Sang Pencipta untuk menaikkan derajat hamba-Nya. Menjaga kompas moral dan keikhlasan hati menjadi benteng terbaik dalam mengarungi ketidakpastian dunia.

“Iman yang benar membentuk hati, akhlak, dan tindakan yang benar. Mulailah dari sekarang untuk mewujudkan kehidupan yang baik dalam setiap langkah,” pungkas Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang tersebut.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: