Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tangan Mungil Ketuk Langit lewat Sholat Istisqo di Semarang

23 Oktober 2026, 06:10 WIB • 3 menit baca
Ratusan siswa SD Muhammadiyah 08 Semarang duduk khusyuk beralaskan terpal saat mengikuti Sholat Istisqo di lapangan sekolah.
Ratusan siswa bersama guru SD Muhammadiyah 08 Semarang melaksanakan Sholat Istisqo di lapangan sekolah, Rabu (21/10/2026), sebagai sarana pendidikan tauhid anak di tengah musim kemarau.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Ratusan siswa berseragam sekolah bersila khusyuk beralaskan terpal di tengah halaman. Tangan-tangan mungil mereka menengadah pasrah, merajut asa di bawah sengatan matahari kemarau. Lewat pelaksanaan Sholat Istisqo ini, para murid diajak meresapi makna luhur pendidikan tauhid anak secara langsung. 

Suasana syahdu tersebut berlangsung saat Sholat Istisqo di SD Muhammadiyah 08 Semarang, Rabu (21/10/2026). Di balik pagar berhias rumput yang menguning kehausan, para guru mendampingi barisan siswa dengan kelembutan. Momen spiritual ini menghadirkan ruang perenungan mendalam di tengah krisis air bersih Kota Semarang. 

Langkah ini menjadi sarana belajar yang begitu nyata di era serba digital. Ketika teknologi tak mampu menurunkan hujan, para siswa diajak menyadari keterbatasan diri sebagai manusia. Mereka belajar bahwa kepasrahan murni kepada Sang Pencipta merupakan kunci utama menghadapi ujian alam.

Sekolah Tauhid di Bawah Terik Matahari

Kepala SD Muhammadiyah 08 Semarang, Rosid Ridlo, S.Pd., menegaskan kedalaman makna kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa momen di lapangan terbuka ini menjadi fondasi iman bagi para murid.

“Sholat Istisqo adalah Sekolah Tauhid. Hari ini kami bersama guru dan siswa SD Muhammadiyah 08 Semarang melaksanakan Sholat Istisqo. Ini bukan sekedar ritual meminta hujan, tapi pendidikan tauhid yang paling jujur,” tegas Rosid.

Melalui ibadah ini, ia menanamkan tiga pelajaran utama kepada para siswa. Pertama, anak-anak belajar menyadari bahwa Allah merupakan satu-satunya pemberi rezeki mutlak.

“Ketika kemarau panjang dan sumur mulai kering, tidak ada teknologi yang bisa mendatangkan hujan, kecuali Allah yang menurunkan,” tutur Rosid.

Muhasabah dan Adab Meminta

kedua berfokus pada pentingnya muhasabah diri saat krisis iklim terjadi. Menurut Rosid, kekeringan bukan sekadar perubahan cuaca biasa, melainkan teguran atas kekhilafan manusia.

“Istisqo mengajarkan bahwa kekeringan bukan hanya soal cuaca, tapi teguran agar kita banyak istighfar, menjaga alam, dan tidak dzolim pada lingkungan. Kami ajak anak-anak untuk peduli air dan tidak boros,” jelasnya.

Ketiga, para siswa dilatih mempraktikkan adab meminta sesuai sunnah Rasulullah SAW. Sebelum sholat bergema, anak-anak diajarkan cara berdoa, merendahkan hati, memakai baju sederhana, serta memperbanyak sedekah. 

Menurunkan Hujan Kebaikan

Melalui pengalaman spiritual ini, sang kepala sekolah menyimpan harapan besar bagi masa depan murid-muridnya. Ia ingin nilai kepedulian tersebut terus melekat hingga mereka dewasa.

“Harapan kami, setelah sholat ini, anak-anak pulang bukan hanya menunggu hujan turun dari langit, tapi menjadi generasi yang menurunkan ‘hujan kebaikan’ dengan akhlak, kepedulian, dan rasa syukur,” ucap Rosid menaruh asa.

Pada akhirnya, terik matahari Semarang hari itu menjadi saksi bisu pembelajaran karakter yang menyentuh. Ketika hujan air belum jua membasahi bumi, ketulusan doa anak-anak ini telah mengetuk pintu langit. Kepasrahan murni mereka mengingatkan kita bahwa jalan keluar dari krisis selalu dimulai dari kerendahan hati untuk bersujud.

Kontributor: Humas SD Muhammadiyah 08 Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: