Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Kiprah Pendekar Tapak Suci: Kisah Pesilat Muwahidun Asal Semarang Sabet Juara Ketiga Nasional

22 Oktober 2026, 15:31 WIB • 2 menit baca
Dua pesilat Tapak Suci berseragam merah dengan pelindung dada bersiap bertanding di atas matras hijau, diawasi wasit berseragam kuning dalam kejuaraan nasional silat UMKU Silat Star 2026.
Ketegangan memuncak di atas matras saat pesilat Muwahidun asal Semarang berlaga dalam kejuaraan nasional UMKU Silat Star 2026 di Universitas Muhammadiyah Kudus. Berbekal ketenangan dan mental baja, kontingen ini sukses menyabet Juara Ketiga. (Foto: MPI PDM Kota Semarang)

KUDUS, muhammadiyahsemarangkota.org – dari hiruk-pikuk ibu kota Jawa Tengah, sekumpulan pemuda asal Semarang justru menemukan nyali sejati mereka di lereng Gunung Muria. Menjadi pesilat di Pesantren Muwahidun Pati, tangan dingin Pendekar Tapak Suci sukses mengantarkan mereka merebut Juara Ketiga tingkat nasional.

Panggung pembuktian itu adalah ajang bergengsi UMKU Silat Star 2026. Kejuaraan nasional silat ini bergulir panas di Universitas Muhammadiyah Kudus pada Kamis hingga Ahad, 15–18 Oktober 2026. Sebanyak 730 pesilat tangguh dari berbagai penjuru daerah bertarung habis-habisan memperebutkan takhta tertinggi.

Di tengah kepungan ratusan atlet kota besar, ketenangan pesilat asal Semarang ini seketika mencuri perhatian. Mereka mematahkan setiap serangan agresif lawan dengan insting yang sangat tajam. Alhasil, gelar juara silat nasional di posisi ketiga sukses mereka genggam erat.

Menembus Standar Nasional

Pencapaian gemilang ini langsung mendapat sorotan khusus dari Wakil Pendekar Daerah/Nasional (WPDN) Tapak Suci. Perwakilan WPDN menilai porsi latihan silat santri dari kontingen ini sangat luar biasa. Kualitas bertanding mereka bahkan dianggap menyamai atmosfer kompetisi sekelas Pekan Olahraga Nasional (PON).

“Pencapaian Juara Ketiga ini adalah loncatan luar biasa, bukan sekadar dominasi semata. Kualitas teknik pesilat Tapak Suci Lereng Muria asal Semarang ini sudah terbukti mampu bersaing ketat di level PON,” tegas perwakilan WPDN saat mengevaluasi ketangguhan para atlet.

Racikan Taktik Lintas Kota

Kemenangan emosional ini tentu tidak lepas dari racikan taktik juara silat tim ofisial. Ustadz Haydar Maulana Malik Azizi dari PCM Semarang Timur mengambil peran sentral dalam memimpin tim. Ia berkolaborasi sangat erat dengan Pendekar Haryono di Pati untuk menyatukan visi bertanding para santri.

“Ketenangan adalah kunci utama saat berada di gelanggang. Mental bertanding anak-anak harus tertempa sekuat baja, dan hasil ini menjadi pijakan awal yang berharga bagi masa depan mereka,” ungkap Ustadz Haydar menceritakan rahasia di balik layar.

Lebih dari sekadar mengejar takhta juara pencak silat 2026, ajang ini membuktikan kokohnya jaringan keluarga Muhammadiyah. Sebagai contoh, keponakan Ketua PCM Candisari 1, Ari Puji Waluyo, ikut tampil gemilang membela tim. Simpul kekerabatan spiritual inilah yang terus memompa semangat bertanding mereka di atas matras.

Gelanggang Sesungguhnya

Para pesilat muda ini akhirnya pulang memanggul nama besar Tapak Suci Putera Muhammadiyah dengan penuh kebanggaan. Berdiri tegak di podium ketiga tentu menjadi sebuah kehormatan besar. Namun, pencapaian manis ini belumlah menjadi garis akhir dari perjalanan panjang mereka.

“Juara di atas matras ini murni bonus dari sebuah proses. Gelanggang sesungguhnya menanti di masyarakat, tempat mereka kelak harus berdiri membela kebenaran dengan penuh kerendahan hati,” pungkas Ustadz Haydar merangkum esensi perjuangan tersebut.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: