Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Luangkan Waktu Sebelum Terlambat, Jangan Biarkan Keluarga Hilang Rasa

4 September 2026, 20:18 WIB • 2 menit baca
Al Ustadz Raad Noor Fatath mengenakan jas hitam dan peci berdiri di atas mimbar kayu ukir Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang saat menyampaikan khotbah Jumat.
Khatib Jumat Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Al Ustadz Raad Noor Fatath, S.Ag., M.Ag., menyampaikan khotbah bertajuk "Nabi Sebagai Kepala Keluarga: Kritik untuk Suami dan Ayah di Era Modern" mengenai pentingnya peran suami dalam keluarga.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Kesuksesan seorang laki-laki sering kali terukur dari capaian karir dan besarnya nafkah materi yang ia bawa pulang ke rumah. Oleh karena itu, Khatib Jumat Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Al Ustadz Raad Noor Fatath, S.Ag., M.Ag., memberikan sentilan mendalam mengenai esensi kepemimpinan rumah tangga pada Jumat (4/9/2026).

Di hadapan ratusan jamaah, pencerah agama tersebut menegaskan bahwa tugas utama kepala keluarga tidak berhenti pada urusan pemenuhan finansial semata. Sebab, seorang ayah memikul amanah besar sebagai pelindung, pendidik, sekaligus teladan moral bagi anak dan istri.

Pesan menyentuh bertajuk “Nabi Sebagai Kepala Keluarga: Kritik untuk Suami dan Ayah di Era Modern” ini mengajak jamaah menengok kembali pola interaksi di dalam rumah tangga. Khatib mengingatkan agar para suami tidak terjebak dalam rutinitas kerja hingga melupakan hangatnya kehadiran jiwa di tengah keluarga.

“Keberhasilan seorang suami bukan hanya diukur dari kesuksesan di luar rumah, melainkan dari kemampuannya membangun keluarga yang harmonis, beriman, dan berakhlak,” tegas Al Ustadz Raad Noor Fatath, S.Ag., M.Ag. saat menyampaikan khotbahnya.

Ancaman Layar Gawai

Selanjutnya, akademisi agama ini menyoroti fenomena era digital yang kerap merenggangkan ikatan emosional antaranggota keluarga. Kesibukan pekerjaan yang menumpuk serta kecanduan gawai sering kali membuat sosok ayah hadir secara fisik, tetapi menghilang secara batin.

Bahkan, sang khatib mendorong para suami untuk meneladani sifat Rasulullah SAW yang senantiasa meluangkan waktu berkualitas untuk mendengarkan curahan hati keluarga. Kehadiran utuh seorang ayah menjadi benteng utama dalam membimbing tumbuh kembang karakter anak.

Di samping itu, keteladanan nyata jauh lebih efektif ketimbang deretan nasihat lisan yang berapi-api. Penasehat keluarga ini meminta setiap ayah menunjukkan akhlak mulia dan kasih sayang secara langsung melalui tindakan sehari-hari.

Rumah Sebagai Sekolah Pertama

Sementara itu, keheningan ruang shalat berubah menjadi momen refleksi diri bagi para jamaah yang hadir. Banyak kepala keluarga menyadari pentingnya menata ulang prioritas hidup agar tidak kehilangan momen-momen berharga bersama buah hati.

Selain itu, khotbah Jumat ini menekankan bahwa rumah tangga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama dalam mencetak generasi beriman. Fondasi agama yang kokoh di dalam rumah bakal melindungi anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan luar.

Dengan demikian, ulasan mengenai peran suami dalam keluarga ini berhasil menggugah kesadaran publik Semarang. Langkah sederhana untuk meletakkan gawai dan menyapa keluarga dengan senyuman bakal menjadi awal baru menuju rumah tangga yang penuh ketenangan dan keberkahan.

Pada akhirnya, kepemimpinan seorang suami akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Mengasihi dan mendidik keluarga dengan penuh ketulusan menjadi investasi akhirat terbaik yang tak bernilai harganya.

Kontributor: Media Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: