Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Rahasia Rumah Tangga Bahagia: Berhenti Tuntut Suami atau Istri Jadi Sosok yang Sempurna

28 Agustus 2026, 17:17 WIB • 3 menit baca
Ustadz Dr. H. Buyamin menyampaikan khotbah Jumat tentang rahasia rumah tangga bahagia dari balik mimbar kayu di Masjid At-Taqwa Wates.
Khatib Ustadz Dr. H. Buyamin, M.Pd. saat memaparkan rahasia rumah tangga bahagia dan cara mengatasi konflik suami istri dalam khotbah Jumat di Masjid At-Taqwa Wates, Jumat (28/8/2026).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Menikah tak selalu seindah dongeng. Banyak pasangan muda justru merasa kecewa usai melihat sifat asli pasangannya. Padahal, rahasia rumah tangga bahagia sebenarnya sangat sederhana. Anda hanya perlu berhenti menuntut suami atau istri menjadi sosok yang sempurna.

Realitas pahit ini sering memicu keretakan keluarga modern. Menanggapi fenomena tersebut, Ustadz Dr. H. Buyamin, M.Pd. Selaku wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang dan mantan kepala dinas Kota Semarang membagikan nasihat pernikahan Islam. Pesan ini ia sampaikan saat menjadi khatib salat Jumat di Masjid At-Taqwa Wates, Jumat (28/8/2026). Ia membedah akar masalah yang sering menghancurkan keharmonisan suami istri.

Mengubah Kekecewaan Menjadi Ruang Ibadah

Ikatan suci ini memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar urusan romansa. “Pernikahan dalam pandangan Islam bukan cuma tempat menyalurkan hasrat alamiah, melainkan sebuah ruang ibadah dan pengabdian panjang kepada Allah SWT,” tutur Ustadz Buyamin. Pernyataan ini menyadarkan jamaah tentang esensi pernikahan yang sesungguhnya.

Ekspektasi yang terlalu tinggi sering kali merusak kedamaian rumah. Oleh karena itu, setiap pasangan wajib memahami peran mereka masing-masing. Kekurangan pasangan jelas bukan sebuah alasan untuk saling menyalahkan. Tuhan sengaja menciptakan celah ini sebagai cara menerima kekurangan pasangan dengan lapang dada.

Cara Mengatasi Konflik Suami Istri

Kasus perceraian di Indonesia mencapai lebih dari 438 ribu kasus pada tahun 2025. Tingginya angka tersebut membuktikan betapa rapuhnya ketahanan keluarga saat ini. Guna mencegah hal tersebut, Ustadz Buyamin menekankan pentingnya sikap saling memahami. “Ketika masih mencari pasangan, kita boleh punya kriteria yang serba sempurna,” tegasnya.

Sang khatib kemudian melanjutkan pesannya dengan intonasi yang lebih dalam. “Namun, setelah menikah, kita harus menerima pasangan yang Allah kirimkan. Kekurangan pasangan bukan alasan untuk meninggalkan mereka, melainkan ruang bagi kita untuk saling melengkapi dan berebut kebaikan,” tambahnya. Sikap saling melengkapi ini sangat krusial dalam mengatasi konflik suami istri.

Menurunkan ego pribadi merupakan langkah awal untuk meredam pertengkaran harian. Seorang pria tidak akan kehilangan wibawa hanya karena ikut mengurus rumah. Tindakan nyata semacam ini justru meneladani kelembutan Rasulullah SAW dalam memimpin keluarga. Langkah kecil ini sangat efektif menyelamatkan bahtera rumah tangga dari badai krisis.

Menciptakan Surga di Rumah Sederhana

Pertengkaran hebat yang berujung perceraian selalu menjadikan anak-anak sebagai korban utama. Mereka sering kehilangan arah saat orang tua gagal mengendalikan emosi.

Mengingat dampak buruk ini, setiap pasangan harus segera bersedia saling mengalah. “Rumah yang sederhana sekalipun akan terasa sehangat surga jika dihiasi dengan tutur kata yang lembut, rasa saling menghargai, dan ikatan kasih sayang yang tulus,” ungkap tokoh agama tersebut menutup khotbahnya.

Menjaga keutuhan keluarga memang membutuhkan komitmen kuat dari kedua belah pihak. Anda sama sekali tidak perlu mencari sosok tanpa cela demi meraih kedamaian. Cukup hadapi kekurangan pendamping hidup Anda dengan kesabaran ekstra setiap hari. Inilah rahasia rumah tangga bahagia yang siap menenteramkan batin Anda selamanya.

Bagikan: