Setiap manusia pasti melakukan aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kita bisa melihat praktik jual beli menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sayangnya, banyak orang melupakan tujuan utama mencari rezeki. Mereka sekadar mengejar untung besar tanpa memikirkan cara meraih bisnis berkah. Padahal, Islam memiliki panduan jelas mengenai adab berbisnis yang menjaga kita dari kerugian.
Peringatan Keras bagi Praktik Bisnis Bubrah
Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan keras kepada para pengusaha muslim. Beliau menyoroti mentalitas pebisnis yang sering mengabaikan kejujuran demi meraup keuntungan berlipat. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: بَلَى، وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ، وَيَحْلِفُونَ فَيَأْثَمُونَ
Sesungguhnya para pedagang adalah orang-orang yang durhaka (fujjar). Para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual beli? Beliau menjawab, Benar, namun mereka sering kali berbicara lalu berbohong, dan mereka bersumpah (palsu) sehingga mereka berbuat dosa – (HR. Ahmad: 14892, 15111).
Hadis ini menggambarkan realitas yang sering kita temui di pasar atau mal modern. Contoh sederhananya terjadi saat tawar-menawar harga antara penjual dan pembeli. Penjual sering melebih-lebihkan kualitas barang agar cepat laku. Sebaliknya, pembeli terkadang berbohong telah mendapat harga lebih murah di toko lain.
Praktik saling tipu ini menghancurkan pondasi bisnis berkah. Akhirnya, transaksi jual beli tersebut menjadi bubrah atau hilang keberkahannya.
Menjauhi Kecurangan Demi Keberkahan Usaha
Oleh karena itu, kunci utama mempertahankan keberkahan usaha adalah sikap jujur dalam berbisnis. Nabi SAW menegaskan hal ini melalui sabdanya:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا ، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Kedua pihak, penjual dan pembeli, boleh memilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan berterus terang, maka keduanya akan diberkahi dalam perdagangannya. Tapi jika keduanya menyembunyikan sesuatu dan berdusta, maka keberkahannya akan dihapus dari perdagangannya – (HR. Bukhari: 1937, 1940, 1968, Muslim: 2825).
Praktik kecurangan saat ini memiliki beragam bentuk yang makin meresahkan masyarakat. Beberapa pedagang nakal nekat mencampur barang asli dengan produk palsu. Oknum lain berani mengurangi timbangan demi keuntungan sesaat.
Bahkan, ada yang mendaur ulang makanan kedaluwarsa menjadi produk yang terlihat menarik. Tindakan culas ini otomatis melenyapkan keberkahan rezeki mereka.
Pembeli juga harus cerdas agar terhindar dari jerat pedagang culas tersebut. Anda perlu membekali diri dengan pengetahuan produk sebelum memutuskan berbelanja. Jika pedagang tetap menipu, ia akan memikul dosa besar hingga hari kiamat kelak. Ancaman ini tertuang jelas dalam sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنْ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ
Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang jahat (fujjar), kecuali orang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan jujur – (HR. Turmidzi: 1131, Ibnu Majah: 2137).
Sebagai penutup, meraih keuntungan materi memang penting bagi keberlangsungan usaha. Namun, mencapai kemapanan finansial tidak boleh mengorbankan nilai-nilai kejujuran.
Mari kita bangun mentalitas pengusaha muslim yang berintegritas untuk mewujudkan bisnis berkah yang mendatangkan ketenangan dan kebaikan sejati di dunia maupun akhirat.