Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Bukan Cuma Ibadah, Ini Rahasia Menjadi Muslim yang Bermanfaat dan Dicintai Allah

Drs. H. Nurbini, MSI

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

Bukan Cuma Ibadah, Ini Rahasia Menjadi Muslim yang Bermanfaat dan Dicintai Allah
ILUSTRASI. Salah satu langkah nyata menjadi Muslim yang bermanfaat adalah dengan menumbuhkan kepedulian sosial dan membantu warga yang membutuhkan di lingkungan sekitar. (Foto: AI Generated)

Islam selalu mengajarkan keseimbangan hidup kepada umatnya. Kita tidak hanya wajib menjaga hubungan dengan Allah (ḥablun minallāh). Kita juga harus membangun hubungan harmonis dengan sesama manusia (ḥablun minannās). Oleh karena itu, seorang muslim yang bermanfaat pasti selalu menghadirkan kebaikan bagi keluarga dan lingkungannya. Rasulullah SAW bahkan mengukur kemuliaan seseorang dari sejauh mana ia membawa kebaikan bagi orang lain.

Saat ini, umat Islam tentu menghadapi banyak tantangan kehidupan. Kita masih sering melihat kemiskinan, kebodohan, dan krisis moral di tengah masyarakat. Karena itu, Islam memanggil setiap individu untuk tampil menjadi bagian dari solusi. Allah SWT berfirman:

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah: 195)

Ayat tersebut menuntut kita menjadi muhsin atau pembawa kebaikan. Selanjutnya, Allah juga berjanji membalas setiap amal yang kita kerjakan.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. (QS. Az-Zalzalah: 7)

Melalui firman ini, Allah memberi kabar gembira yang sangat menenangkan hati. Kebaikan sekecil apa pun tidak akan pernah sia-sia. Oleh karena itu, Rasulullah SAW mempertegas pesannya melalui sabda beliau:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Dalam riwayat lain, beliau juga bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Kedua hadis ini membuktikan prinsip yang sangat kuat. Ukuran kemuliaan kita sangat bergantung pada apa yang kita berikan, bukan sekadar apa yang kita miliki.

Keutamaan Menjadi Muslim yang Bermanfaat

Mengapa kita harus menebar manfaat? Pertama, Rasulullah SAW telah memberikan teladan manusia terbaik. Sepanjang hidupnya, beliau selalu melayani umat. Beliau giat mengajarkan ilmu, menyelesaikan perselisihan, dan membela kaum lemah. Aisyah radhiyallahu ‘anha bahkan bercerita bahwa Nabi SAW sering membantu pekerjaan rumah tangga. Fakta ini menunjukkan bahwa kebermanfaatan harus berawal dari lingkungan keluarga terdekat.

Kedua, menjadi muslim yang bermanfaat akan membuka pintu amal jariyah. Pahala kebaikan ini terus mengalir deras meskipun kita telah wafat. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)

Ketiga, Allah sangat mencintai orang yang rajin berbuat baik. Kita tentu merasa sangat mulia ketika meraih cinta Sang Pencipta. Oleh sebab itu, kita harus berlomba-lomba menebar kebaikan.

Langkah Nyata Menebar Kebaikan Sehari-hari

Setiap orang bisa menebar manfaat sesuai kemampuannya masing-masing. Kita bisa menggunakan ilmu untuk mengajar anak atau berdakwah. Kita juga bisa menyalurkan harta untuk membantu fakir miskin, memberi beasiswa, atau menyantuni anak yatim.

Jika tidak memiliki harta, kita masih bisa menyumbangkan tenaga. Kita bisa mengikuti kerja bakti, membantu tetangga, atau menjadi relawan sosial.

Selain itu, lisan kita pun berpotensi menjadi sumber pahala besar. Kita bisa memberi nasihat, menghibur teman yang sedih, atau mengajarkan Al-Qur’an.

Terakhir, jika Allah menitipkan amanah jabatan, gunakan posisi itu murni untuk melayani masyarakat. Jabatan adalah sarana memberi manfaat luas, bukan sarana minta dilayani.

Sejarah mencatat kisah inspiratif Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Suatu hari, beliau rela meninggalkan ibadah sunnah demi membantu saudaranya yang sedang kesulitan. Beliau sadar bahwa kepedulian sosial memiliki nilai pahala yang luar biasa besar.

Para ulama pun sering mengingatkan kita. Keberagamaan yang benar harus tecermin dalam kepedulian sosial, bukan hanya terlihat di atas sajadah.

Oleh karena itu, mari kita mengevaluasi diri sendiri hari ini. Apakah keluarga sudah merasakan kebaikan kita? Apakah masyarakat merasa kehilangan jika kita tidak ada? Jika jawabannya belum, mari kita segera memperbaiki diri.

Kesimpulannya, kita harus terus berjuang menjadi muslim yang bermanfaat di mana pun kita berada. Mari jadikan sisa umur ini lebih bermakna. Kita harus proaktif menebarkan ilmu, harta, tenaga, dan kasih sayang. Jangan hanya puas menjadi orang baik. Jadilah orang baik yang selalu membawa kebaikan bagi sesama manusia.

Semoga Allah memberkahi setiap langkah perjuangan kita. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: