Ada kota yang menyambut tamu dengan lampu. Ada yang menyambut dengan spanduk. Ada pula yang menyambut dengan suara. Semarang, September 2026, barangkali melakukan ketiganya.
Tetapi suara adalah sesuatu yang lain. Ia tidak berhenti di jalan, tidak seperti baliho yang akan diturunkan setelah acara selesai. Ia masuk melalui telinga, lalu entah bagaimana menemukan jalan menuju ingatan. Begitulah suara ayat Al-Qur’an: kadang hanya beberapa menit, tetapi gema yang ditinggalkannya dapat lebih panjang daripada sebuah perhelatan.
Di kota ini, Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional XXXI atau MTQ Nasional 2026 berlangsung pada September 2026. Jawa Tengah kembali menjadi tuan rumah setelah 47 tahun. MTQ Nasional sebelumnya di Jawa Tengah berlangsung pada 1979.
Kini, 38 provinsi datang membawa para qari, qariah, hafiz, hafizah, mufassir, kaligrafer, dan para penggiat Al-Qur’an lainnya. Pemerintah memperkirakan perhelatan ini melibatkan ribuan peserta dan pendamping.
Angka-angka itu besar. Tetapi mungkin bukan angka yang paling penting. Yang lebih menarik adalah pertanyaan sederhana: apa yang terjadi ketika sebuah kota menjadi tempat bertemunya begitu banyak orang dengan Al-Qur’an?
Di sinilah Muhammadiyah menemukan ruangnya. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang mengajak warga persyarikatan menyambut para kafilah dari berbagai provinsi dan ikut menyukseskan gelaran yang kembali ke Jawa Tengah setelah penantian panjang. Ajakan itu tampaknya sederhana. Tetapi dalam tradisi Muhammadiyah, menyambut tamu bukan sekadar urusan keramahan. Ia adalah bagian dari etika sosial: bahwa agama tidak hanya dibicarakan di mimbar, tetapi juga diwujudkan dalam cara seseorang memperlakukan orang lain.
Maka dukungan terhadap MTQ Semarang ini tidak harus berarti mengambil alih panggung. Justru sebaliknya. Ia bisa berarti menyediakan ruang agar panggung itu menjadi milik bersama.
Semarang adalah kota yang telah lama mengenal perjumpaan. Pelabuhan, pasar, sekolah, kampus, masjid, gereja, kelenteng, kawasan kota lama; semuanya menyimpan sejarah tentang manusia yang datang dan pergi. Dalam konteks semacam itu, MTQ bukan hanya kompetisi membaca Al-Qur’an. Ia adalah peristiwa perjumpaan.
Logo MTQ 2026 sendiri memakai unsur gunungan wayang dan ikon budaya Jawa Tengah, sementara maskotnya bernama Saqur, singkatan dari Sahabat Qur’an. Tema yang diusung adalah “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas Berkeadilan.” Kata “harmoni” di sini menarik. Sebab harmoni bukan keseragaman.
Dalam musik, harmoni justru lahir karena bunyi yang berbeda dapat ditempatkan dalam hubungan yang tepat. Begitu pula sebuah kota. Ia tidak menjadi indah karena semua orang berbicara dengan suara yang sama. Ia menjadi indah karena perbedaan suara tidak berubah menjadi permusuhan. Barangkali karena itu keterlibatan Muhammadiyah dalam menyemarakkan MTQ Nasional 2026 mempunyai makna yang lebih luas daripada sekadar dukungan terhadap sebuah festival keagamaan.
Muhammadiyah memiliki sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, masjid, majelis, dan berbagai amal usaha. Ia bukan hanya organisasi yang mempunyai struktur. Ia adalah jaringan kehidupan. Karena itu ketika sebuah momentum keagamaan hadir di kota, respons persyarikatan dapat bergerak melalui banyak pintu. Salah satunya adalah pendidikan.
Sekolah-sekolah Muhammadiyah di Semarang ikut menggemakan dukungan terhadap MTQ dan nilai-nilai Qur’ani. SMK Muhammadiyah 1 Semarang, misalnya, bahkan menggelar aksi yang melibatkan sekitar 400 siswa dan guru, membawa replika Al-Qur’an raksasa serta membentangkan bendera dalam rangka menyatakan dukungan terhadap MTQ Nasional XXXI.
Ada sesuatu yang simbolik dalam adegan itu. Anak-anak muda berdiri di ruang publik, membawa simbol Al-Qur’an. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang mereka bawa pulang? Sebab Al-Qur’an akan kehilangan sebagian maknanya jika hanya berubah menjadi dekorasi. Ia akan menjadi benda upacara jika berhenti sebagai suara yang merdu, poster yang indah, atau tema yang diulang-ulang.
Al-Qur’an meminta sesuatu yang lebih sulit: perubahan perilaku. Ia meminta keadilan ketika keadilan tidak menguntungkan kita. Ia meminta kejujuran ketika kebohongan terasa lebih mudah. Ia meminta kasih sayang ketika kemarahan lebih populer. Ia meminta manusia membaca dunia, bukan hanya membaca teks. Di sinilah lembaga pendidikan Muhammadiyah mempunyai pekerjaan yang sesungguhnya.
MTQ dapat menjadi momentum untuk bertanya kepada generasi muda: apakah menjadi dekat dengan Al-Qur’an berarti hanya mampu membacanya dengan indah? Ataukah juga berarti mampu hidup dengan nilai-nilainya? Pertanyaan itu penting karena zaman kita terlalu mudah mengubah agama menjadi tontonan.
Suara tilawah bisa viral. Video bisa ditonton jutaan kali. Tetapi akhlak tidak selalu demikian. Akhlak tidak memiliki tombol like. Ia bekerja diam-diam, dalam keputusan kecil sehari-hari.
Karena itu, dukungan Muhammadiyah terhadap MTQ semestinya tidak berhenti pada kemeriahan. Ia dapat menjadi kesempatan untuk mempertemukan syiar dengan pendidikan karakter, kompetisi dengan pembinaan, dan ritual dengan praksis sosial.
Di wilayah keilmuan, Majelis Tarjih dan Tajdid juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Tradisi kajian tafsir dan bimbingan keagamaan yang terus berlangsung dapat berjalan paralel dengan semarak MTQ. Muhammadiyah Jawa Tengah sendiri memiliki Majelis Tarjih dan Tajdid sebagai salah satu perangkat persyarikatan yang menangani pengembangan pemikiran keislaman.
Ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an mempunyai dua kehidupan. Yang pertama adalah kehidupan di suara. Yang kedua adalah kehidupan di pikiran. Ia dibaca dengan tajwid, tetapi juga dipahami dengan akal.
Ia dilantunkan dengan suara indah, tetapi juga direnungkan maknanya. Di antara keduanya terdapat jarak yang kadang jauh. MTQ mengingatkan kita kepada suara. Majelis ilmu mengingatkan kita kepada makna. Dan masyarakat membutuhkan keduanya.
Mungkin di sinilah kontribusi khas Muhammadiyah: tidak menjadikan syiar sebagai akhir, tetapi sebagai pintu menuju amal. Sebab sejak awal, Muhammadiyah mempunyai watak gerakan. Ia tidak puas dengan kesalehan yang hanya tinggal dalam diri. Kesalehan harus menemukan bentuk sosialnya. Pengetahuan harus melahirkan tindakan. Iman harus mempunyai akibat bagi manusia.
Maka ketika PDM Kota Semarang menyerukan agar warga persyarikatan menyambut para kafilah, seruan itu dapat dibaca sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada ajakan meramaikan acara. Ia adalah ajakan menjadi tuan rumah yang baik.
Tuan rumah, dalam pengertian ini, bukan orang yang berdiri di depan pintu dan tersenyum. Tuan rumah adalah orang yang membuat tamunya merasa aman. Ia tidak bertanya pertama-tama: “Siapa kamu?” Ia bertanya: “Apa yang dapat saya lakukan agar perjalananmu menjadi lebih ringan?”
Semangat seperti ini sejalan dengan suasana MTQ Nasional 2026 yang oleh Menteri Agama disebut bukan hanya sebagai perhelatan umat Islam, melainkan juga pesta rakyat yang dapat mempertemukan masyarakat lintas agama.
Di tengah dunia yang mudah terbelah oleh identitas, peristiwa semacam ini menjadi penting. Al-Qur’an datang bukan untuk membuat manusia kehilangan manusia lain. Ia seharusnya membuat kita semakin mampu melihat manusia lain.
Karena itu, mungkin makna terdalam MTQ di Semarang bukanlah siapa yang memperoleh juara pertama. Bukan pula siapa yang memperoleh nilai tertinggi dari dewan hakim. Ada sesuatu yang lebih sulit dinilai.
Apakah setelah para kafilah pulang, Semarang menjadi sedikit lebih ramah? Apakah anak-anak muda menjadi sedikit lebih dekat dengan Al-Qur’an? Apakah warga Muhammadiyah menjadi sedikit lebih sadar bahwa syiar adalah tanggung jawab sosial? Apakah kajian tafsir menjadi semakin hidup? Apakah masjid-masjid menjadi tempat yang lebih terbuka bagi masyarakat? Apakah perbedaan menjadi sesuatu yang tidak lagi menakutkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak memiliki piala. Tetapi justru karena itu ia penting. Piala akan disimpan di lemari. Medali akan kehilangan kilau. Spanduk akan diturunkan. Panggung Simpang Lima akan kembali menjadi ruang kota seperti biasa. Para kafilah akan pulang ke provinsi masing-masing. Yang tersisa kemudian adalah apa yang tidak tercatat dalam berita.
Barangkali seorang anak yang untuk pertama kalinya mendengar tilawah dan ingin belajar mengaji. Barangkali seorang guru yang menemukan cara baru mengajarkan ayat sebagai etika. Barangkali seorang warga yang menyambut tamu dari jauh tanpa bertanya dari organisasi mana ia berasal. Barangkali sebuah kajian tafsir yang membuat seseorang memahami satu ayat dengan cara yang belum pernah ia pahami sebelumnya.
Itulah sebabnya MTQ Nasional 2026 tidak semestinya hanya dilihat sebagai perlombaan. Ia adalah jeda. Jeda bagi sebuah kota untuk mendengar. Jeda bagi sebuah masyarakat untuk mengingat bahwa di tengah kebisingan zaman, masih ada suara yang meminta kita berhenti sejenak.
Muhammadiyah, dengan seluruh jaringan pendidikan, dakwah, sosial, dan keilmuannya, dapat ikut menjaga agar jeda itu tidak segera hilang. Karena Al-Qur’an tidak benar-benar singgah hanya ketika para qari datang ke Semarang. Ia singgah ketika manusia membuka dirinya untuk berubah.
Dan mungkin, itulah arti menjadi tuan rumah bagi Al-Qur’an dalam momentum MTQ Nasional 2026: bukan sekadar menyediakan tempat untuk suaranya terdengar, melainkan menyediakan kehidupan agar pesannya dapat bekerja.