Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 5 menit baca

Senjakala buku dan Tradisi Membaca, Pengalaman di Lingkungan Studi Islam

Prof. Dr. Ahwan Fanani, M. Ag.

Guru Besar Pemikiran Hukum Islam UIN Walisongo Semarang

Senjakala buku dan Tradisi Membaca, Pengalaman di Lingkungan Studi Islam
Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag., menyoroti pergeseran kultur akademik, krisis literasi, dan tantangan membangkitkan kembali tradisi membaca di kalangan mahasiswa perguruan tinggi pada era disrupsi digital. (Foto: Istimewa)

Membaca postingan tentang pudarnya tradisi membaca di kalangan mahasiswa dan kampus rasanya sulit untuk ditolak. Kemudahan yang disediakan dunia maya seharusnya memudahkan minat untuk membaca untuk terpenuhi dan berkembang. Namun senyatanya yang terjadi sebaliknya. Banyak buku e-book gratis tersedia mahasiswa belum tentu ada yang membaca, kecuali dosen memerintah mereka.

Padahal, awal tahun 1990-an, saat masih SMP dan indekos bersama beberapa mahasiswa UIN di Kediri, umumnya mereka punya buku di kamarnya. Saat itu buku belum bervariasi. Hanya ada karya Harun Nasution, Hanafi MA, Zakiyah Darajat, Nurcholish Madjid, dan Hasbi Ash-Shiddieqy yang menghiasi. Jika pun ditambah, maka karya Sayyid Qutb pun mulai dikenal tanpa prasangka.

Tujuh tahun kemudian, saat kuliah di Semarang, para mahasiswa masih memiliki tradisi membaca yang kuat dan memiliki buku yang semakin beragam. Ada karya Nurcholish Madjid, Amin Rais, Abdurrahman Wahid, Mansour Faqih, Romo Franz Magnis, Dawam Raharjo, Ahmad Syafii Maarif, hingga Masdar Farid Mas’fi dan Syafi’i Antonio.

Karya-karya tokoh-tokoh luar pun bertebaran, baik mewakili penulis muslim maupun umum. Karya-karya Ismail Raj’i al-Faruqi, Naquib al-Attas, Murtadla Muthahhari, Ali Syariati, Syed Hussein Nashr, Fazlur Rahman, Hassan Hanafi, Mohammed Arkoun, Moh. Abid al-Jabiri, Abdullahi A. An-Naim, hingga Fatimah Mernisi, Aminah Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid.

Tidak hanya karya tokoh kontemporer, kita pun mudah menemui karya terjemahan tokoh Islam. Seperti Hasan al-Bana, al-Tilimsani, Ramadhan al-Bhuti, Said Hawa, Taqiyuddin al-Nabhani, Muhammad al-Utsaimin, hingga Yusuf al-Qardlawi, Muhammad al-Ghazali dan Musthafa Azami. Pun juga karya-karya tokoh umum, seperti Hans Georg Gadamer, Marx Weber, Althousser, Antonio Gramsci, Jurgen Habermas, Michael Foucoult, hingga Karl Marx. Semua itu bagi mahsiswa Perguruan tinggi Islam menjadi hal yang biasa.

Turbulensi Sosial

Dunia akademik saat itu begitu dinamis, terbuka dan tanpa kecurigaan. Buku-buku yang tergolong “kanan”, “kiri”, hingga ” liberal” tersusun berdampingan di toko-toko buku dan lapak-lapak indie. Belum ada ketakutan akan liberalisme, radikalisme ataupun gerakan kiri di kalangan akademisi.

Banyak kelompok diskusi tumbuh menjamur. Kelompok diskusi ini bahkan menjadi tempat belajar utama dibandingkan ruang kelas. Penerbit-penerbit independen bermunculan, tidak lagi terbatas pada penerbit Bulan Bintang, al-Maarif, atau Pustaka Bandung.

Era tahun 1980 sampai awal tahun 2000-an adalah era keemasan buku. Di pasar kecil, semacam Pasar Jrakah Semarang pun ada dua lapak penjual buku, yang menjual buku Iqra’, Kamus, hingga tulisan Harun Nasution dan HM Rasjidi. Di pasar malam pun ada orang jual buku, yang biasanya bersifat populer dan untuk segmen bawah.

Reformasi mengubah segalanya. Kegaduhan, kekacauan, dan instabilitas membuat orang berubah pikiran. Muncul kecurigaan pada pemikiran liberal. Sebagai respon, muncul kecurigaan terhadap pemikiran Islam radikal. Lalu kecurigaan terhadap pemikiran kiri. Berbagai kecurigaan dan kontroversi itu membuat kajian keilmuan menjadi melemah.

Akhirnya orang mencari yang praktis-praktis. Ide AA Gym untuk mulailah dari sendiri, dari sederhana dan mulai sekarang juga mengemuka. Tradisi membaca buku agama diwarnai pencarian ketenangan dan amal praktis, seperti indahnya tahajud, indahnya pernikahan dini, tips untuk anak soleh dan lainnya. Pelajaran pun lebih berorientasi praktis daripada keilmuan.

Di tengah surutnya semangat ilmu itu muncul dua tren baru. Kajian agama sebagai majelis zikir dan majelis shalawat yang tidak perlu berpikir konsep atau terjebak dalam kontroversi. Diskusi-diskusi yang dilakukan para mahasiswa di masjid berganti dengan nada-nada indah dengan syair sama yang tidak mesti dipahami, tetapi membawa ketenangan, tanpa kontroversi.

Disrupsi Digital

Pukulan terakhir pada dunia kajian datang dengan berkembangnya internet. Dunia pendidikan ingin mengikuti tren teknologi informasi dan internet. Sekolah-sekolah berlomba memasang internet dan memberi tugas siswa untuk mencari informasi lewat google. Guru memberikan tugas agar siswa tidak kesulitan untuk mencari sumber dan memperkaya horizon wawasan.

Akibatnya, budaya mencari dan membaca buku menurun. Anak hanya tahu cara copy – paste tanpa diajari cara mengolah informasi, apalagi etika penulisan dan pengutipan. Ketika menjadi mahasiswa, modus copy – paste internet di sekolah itu masih dipakai untuk mengerjakan tugas.

Jika mahasiswa dahulu harus mencari buku, membaca, baru mengetik makalah, maka mahasiswa sekarang cukup ketik kata atau frase (atau bahwa A-Prompt) dan unduh info dari internet lalu di-copy. Tidak perlu lagi proses mengolah informasi apalagi membeli atau sekedar mencari buku.

Bahkan membuat presentasi pun bisa dilakukan hanya dua menit di program yang tersedia gratis. Presentasi tinggal baca yang tertulis. Saat tanya jawab, cukup buka HP, maka jawaban lengkap tersedia, berkat AI. Tidak perlu persiapan penguasaan materi sebelum presentasi seperti masa dulu.

Dahulu kalau tidak menguasai materi, maka bisa hanya bengong ketika ada tanya jawab. Sekarang, mahasiswa bengong pun bisa menjawab sangat runtut dan baik, berkat google dan AI.

Era Covid-19

Proses mahasiswa jauh dari buku ini diperparah era Covid-19, tahun 2020 sampai 2022. Kuliah dilakukan secara online, semua materi berupa file, mahasiswa tidak ke kampus, apalagi ke perpustakaan. Mahasiswa era ini menjadi jauh dari buku.

Demikian pula mahasiswa era tahun 2023 sampai sekarang sebagai akibat anak SMP dan SMA tahun 2020-2022 yang belajar secara daring juga.

Penurunan arti penting buku terjadi pula di kalangan dosen. Karya tulis yang bernilai tinggi saat ini adalah jurnal. Artikel jurnal menuntut referensi terbaru, setidaknya 5 tahun terakhir. Jika dosen punya koleksi buku ratusan buah dan terbit lebih lama dari 5 atau 7 tahun terakhir, praktis tidak bisa menjadi acuan untuk artikel jurnal.

Katakan dosen hendak mengutip pemikiran Harun Nasution, maka lebih baik mengutip kutipan orang tentang Harun Nasution dalam artikel jurnal tahun 2025 daripada mengutip langsung buku Harun Nasution asli terbitan tahun 1998.

Kondisi ini membuat nilai buku semakin menurun. Padahal sejak ribuan tahun tradisi membaca dan menulis itu sangat terikat dengan buku.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: