Program Unggulan LDK PDM Semarang Hadirkan Solusi untuk Ojol hingga Nelayan
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PDM Kota Semarang menggelar audiensi bersama Pimpinan Pleno PDM Kota Semarang. Pertemuan penting tersebut memaparkan program kerja strategis yang berfokus pada pengemudi ojek online serta nelayan.
Agenda tersebut dihelat pada 22 September kemarin di Ruang Rapat Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang Wonodri. Mereka mengusung tiga program kerja utama, yakni Komunitas Ojol Berkah Muhammadiyah, Komunitas Jalamu, dan pembentukan jaringan dai.
Transformasi Masjid dan Paparan Program oleh Ketua LDK
Dr. Abdul Kohar Mudzakir, S.Pi, M.Si selaku Ketua LDK PDM Kota Semarang menjelaskan bahwa gagasan ini bermula dari kebutuhan riil di lapangan. Ia menyampaikan bahwa program utama ini difokuskan untuk menjadikan masjid sebagai titik layanan dakwah.
“Ojol adalah komunitas pekerja yang dinamis dan membutuhkan pendekatan dakwah yang dekat dengan aktivitas sehari-hari,” ujar Dr. Abdul Kohar Mudzakir, S.Pi, M.Si saat memaparkan bahan audiensi.
Prof. Dr. Ahwan Fanani selaku Wakil Ketua PDM Kota Semarang memberikan apresiasi penuh terhadap inisiatif tersebut. “Lembaga Dakwah Komunitas fokus nelayan dan ojek online, terobosan yang bagus, prioritas, anggota 20 sudah bangun, ojek online di 2 masjid dan nelayan di 1 masjid, dari yang tidak ada menjadi ada,” ungkapnya.
Bapak Bunyamin selaku Wakil Ketua PDM Kota Semarang turut memberikan catatan strategis mengenai titik kumpul para pengemudi. “Pos ojek online harus dibaca, saat kereta mau datang, saat kereta mau sampai, ojek online sudah ada, Imam Bonjol, Tawang, seputar Karyadi, yang siap dulu dengan masjid adalah Masjid Candisari,” paparnya.
Pendekatan Hulu ke Hilir dan Penguatan Komunitas Pesisir
Aspek pembinaan dirancang secara komprehensif agar memberikan dampak jangka panjang bagi para penerima manfaat. Perencanaan matang ini mencakup aspek filantropi hingga penguatan ekonomi keluarga.
AM Jumai selaku Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Ketua LDK Jawa Tengah menjelaskan secara rinci arah gerakan ini. “Dua komunitas binaan di luar dua yang ditetapkan MMLC Muhammadiyah Mualaf orientasi pada filantropi, ojek online mu siap hulu dan hilir, tidak seprospek awal-awal, untuk pengajian 3 jam meninggalkan ojek ada uang pengganti, pemerintah kota ada orientasi ojek online, digilir Dinas Sosial, diawali dengan pembinaan, harus ada pancingan bank syariah, legal formal, dari jemaah kembali ke jemaah, bank infaq bagi yang tidak ter-cover BPJS, Lembaga Dakwah Komunitas 500 orang bagi stimulan bagi ojek online untuk bergabung jaminan risiko,” paparnya.
Ia juga menyoroti kondisi kawasan pesisir yang memerlukan perhatian khusus. “Dakwah Muhammadiyah di pesisir masih minim, bantuan 2 kapal kepada nelayan, mafia nelayan, 1 kapal tenggelam di Pekalongan, ada ancaman, komunitas pesisir. Kondisi saat salat masih tidur, Semarang Timur ada mualaf, barista buat kopi dapat sangu 50 ribu, Bikers Muhammadiyah menjelajah dan kuliner,” imbuhnya.
Catatan Implementasi dan Kolaborasi di Akar Rumput
Keberhasilan gerakan ini tentu tidak dapat dilepaskan dari sinergi berbagai elemen di tingkat akar rumput. Fachrur Rozi selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang memberikan sejumlah catatan penting terhadap konsep yang diajukan.
Ia menyatakan bahwa konsep dasarnya sudah sangat baik, namun implementasinya harus dikoordinasikan secara erat dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah. Selain itu, kegiatan perlu dimulai dari satu titik yang paling potensial mengingat sifat komunitas yang bergerak membuat kontrol pengajian menjadi cukup sulit.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan keberlangsungan pengajian Ahad pagi yang sudah rutin berjalan. Selaras dengan hal tersebut, pendataan yang jelas bagi para pengemudi ojek online melalui kepemilikan nomor induk menjadi hal yang esensial.
Komitmen memperkuat pemberdayaan umat ini diharapkan mampu mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat bawah secara berkelanjutan. Kehadiran masjid kini benar-benar bertransformasi menjadi oase yang menenangkan sekaligus pusat solusi bagi kehidupan umat.
Pada akhirnya, peradaban yang berkemajuan diukur dari seberapa tulus ia merangkul mereka yang paling lelah berjuang di garis depan. Ketika rumah-rumah ibadah membuka pintu selebar-lebarnya bagi ojek online dan nelayan, di situlah hakikat kepedulian sosial menemukan makna sejatinya.