Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Ibadah Rajin tapi Minim Empati? Kenali Pentingnya Kecerdasan Spiritual dalam Hidup Sehari-hari

23 September 2026, 20:11 WIB 2 menit baca
Pria Muslim paruh baya mengenakan peci dan pakaian koko memegang tasbih sambil duduk di bangku taman masjid pada malam hari untuk menggambarkan ketenangan batin dan kecerdasan spiritual.
Ketenangan batin dan kecerdasan spiritual menjadi refleksi penting bagi seorang Muslim dalam meredam keletihan mental di tengah era modern.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.orgMemiliki kecerdasan spiritual yang matang menjadi fondasi penting agar ibadah harian tidak sekadar menjadi rutinitas kosong. Padahal, banyak orang terjebak dalam keletihan mental akibat gempuran arus digital yang serba cepat. 

Keluar dari Paradoks Spiritual Era Digital

Kajian penting ini diselenggarakan pada hari Ahad, 20 September 2026, bertempat di Kebun Dakwah PRM Muhammadiyah Banyumanik, Jl. Sendang Kembang RT 15 RW VI Pudakpayung. Acara tersebut menghadirkan Ustadz Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. sebagai pembicara utama. Di hadapan jamaah, ia mengupas tuntas paradoks kehidupan modern yang melelahkan mental. 

Menurutnya, manusia modern kerap dikelilingi teknologi canggih tetapi kehilangan ketenangan batin. “Al-Qur’an menggambarkan dzikir sebagai kesadaran yang menghidupkan hati, membentuk perilaku, dan mengارahkan manusia agar senantiasa terhubung dengan Allah,” tegas Aang. 

Melalui pemahaman tersebut, dzikir tidak boleh berhenti sebatas ucapan lisan semata. Selain itu, ia menjelaskan bahwa amalan ini harus menjadi kesadaran utuh yang menyertai seluruh aktivitas manusia. 

Menghindari Ibadah Kosong Tanpa Empati Sosial

Persoalan krusial muncul manakala kesalehan ritual terputus dari kepedulian sosial di masyarakat. Alhasil, kritik tajam kerap dialamatkan pada pola beragama yang abai terhadap kaum rentan. 

Untuk mengatasi hal tersebut, ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan ibadah sangatlah jelas. “Ukuran keberhasilan dzikir bukan hanya seberapa banyak kalimat yang diucapkan, tetapi seberapa jauh dzikir tersebut membentuk akhlak,” ungkap Aang. 

Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut menghadirkan etos kerja yang produktif dan berkeadilan. Konsep muslim berkemajuan menuntut keseimbangan antara hubungan vertikal kepada Sang Pencipta dan kontribusi horizontal kepada sesama manusia. 

Peran Muraqabah dalam Mengontrol Emosi

Pencapaian mulia ini tentu bersandar pada kemampuan mengontrol diri secara konsisten. Di samping itu, latihan mental ini melibatkan kesadaran konstan bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap langkah kita. 

Dalam hal ini, ia memaparkan urgensi konsep muraqabah sebagai pengendali moral internal. “Ketenangan spiritual justru berarti memiliki kemampuan menghadapi masalah tanpa kehilangan orientasi hidup,” jelasnya. 

Pada akhirnya, kecerdasan spiritual bertindak sebagai kompas moral di tengah dunia yang bising. Mari menghidupkan nilai-nilai dzikir dinamis dalam setiap denyut kehidupan demi mewujudkan peradaban yang berkeadilan.

Kontributor: MPI PCM Banyumanik
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: