Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menatap Lelah Era Digital, Dzikir Dinamis Menjadi Kunci Ketenangan Jiwa

21 September 2026, 14:24 WIB 3 menit baca
Sepasang tangan pria berdoa dengan memegang tasbih kayu hitam di atas meja, dengan latar belakang mushaf Al-Qur'an yang terbuka.
Ilustrasi seorang Muslim yang menengadahkan tangan berdoa sembari memegang tasbih, melambangkan kedalaman batin dan penerapan dzikir dinamis untuk meraih ketenangan jiwa di tengah kepungan arus informasi era digital.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Kehidupan masyarakat modern saat ini terus bergerak serba cepat dan menghadirkan gelombang informasi yang tanpa henti. Rentetan notifikasi gawai serta tuntutan pekerjaan kerap memicu kelelahan mental, sehingga ketenangan batin terasa kian mahal dan makin sulit manusia dapatkan.

Menjawab tantangan zaman tersebut, Islam menawarkan solusi spiritual yang berakar kuat pada kedalaman jiwa. Dosen FITK UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Kunaepi, M.Ag., membedah gagasan dzikir dinamis dalam Kajian Ahad Malam di Kebun Dakwah PRM Pudakpayung, Banyumanik, Semarang pada Ahad (20/9/2026).

Pencerah agama tersebut menegaskan bahwa masyarakat perlu mengubah paradigma dzikir statis yang sekadar berhenti di lisan. Kedamaian jiwa sejati lahir ketika dzikir menjelma menjadi kesadaran hidup yang mengarahkan tindakan nyata sehari-hari.

“Dzikir dinamis merupakan praktik mengingat Allah yang tidak berhenti pada ucapan lisan, melainkan bergerak menuju kesadaran, pengendalian diri, dan tindakan nyata. Orang yang berdzikir bukan hanya mengucapkan subhanallah, melainkan juga menampilkan perilaku yang mencerminkan kesucian nilai tersebut,” kata Dosen FITK UIN Walisongo Semarang itu.

Dzikir Sebagai Disiplin Spiritual Digital

Selanjutnya, penceramah mengurai bagaimana fenomena scrolling media sosial dan dahaga instant gratification sering kali merenggut kedamaian hati manusia. Seseorang memang bisa terhubung dengan ribuan orang di jagat maya, tetapi ia berisiko kehilangan koneksi batin dengan dirinya sendiri.

Kondisi ini menuntut umat Muslim untuk menjadikan dzikir sebagai bentuk disiplin spiritual di era digital. Membiasakan jeda sejenak sebelum merespons pesan atau memberi komentar di media sosial menjadi langkah awal untuk merawat kendali moral internal.

Di samping itu, ruang aktualisasi ibadah ini tidak boleh terbatas oleh dinding-dinding masjid semata. Seseorang dapat mengubah perjalanan menuju tempat kerja atau momen menunggu kendaraan menjadi ruang refleksi yang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

“Dzikir mengajarkan jeda di tengah dunia yang serba cepat. Kita dapat menjadikan perjalanan menuju kantor sebagai ruang refleksi, serta sebelum mengomentari sesuatu bertanya apakah ucapan kita membawa maslahat bagi sesama,” tegas Penasihat Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Jawa Tengah tersebut.

Mewujudkan Muslim Berkemajuan

Sementara itu, pembahasan kajian ini menekankan pentingnya keseimbangan antara ketaatan ritual dan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Seorang Muslim yang aktif melafalkan kalimat-kalimat suci idealnya memiliki kepedulian tinggi terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Integrasi nilai spiritual tersebut selaras dengan pilar Muslim Berkemajuan yang mengedepankan etos kerja produktif dan akhlak mulia. Ukuran keberhasilan ibadah seseorang terpancar langsung dari seberapa besar kemanfaatan yang bisa ia hadirkan untuk lingkungan sekitar.

Dengan demikian, ulasan mengenai dzikir dinamis ini menyajikan panduan segar bagi masyarakat modern di Kota Semarang. Menjadikan iman sebagai kompas hidup bakal melahirkan energi perubahan yang membimbing manusia menuju kehidupan yang beradab dan berkeadilan.

Pada akhirnya, kesalehan sejati tidak boleh menjadi sarana pelarian dari riilnya tantangan zaman. Spiritual yang hidup di dalam dada justru menjadi modal utama untuk membangun tatanan sosial yang lebih berkemajuan.

“Muslim Berkemajuan bukanlah orang yang meninggalkan spiritualitas demi modernitas, melainkan sosok yang menjadikan iman sebagai sumber energi kemajuan dan akhlak sebagai kompas kehidupan,” tutur Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang tersebut.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: