Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Cara Menjaga Keimanan Saat Arus Informasi dan Media Sosial Begitu Liar

24 September 2026, 15:53 WIB • 2 menit baca
Ust. Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. saat menyampaikan materi Kajian Syiar At Taqwa di Masjid At-Taqwa Petarukan
Ust. Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. memberikan pencerahan penting mengenai tantangan berislam dan merawat keimanan di era digital dalam Kajian Syiar At Taqwa di Masjid At-Taqwa Petarukan, Muhammadiyah Petarukan.

PEMALANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Gempuran arus informasi digital yang liar dan tiada henti kini menuntut setiap Muslim untuk lebih mawas diri dalam menjaga keimanan di era digital. Tanpa kesadaran yang matang, koneksi dunia maya yang luas justru membuat batin terasa hampa.

Persoalan krusial ini dikupas tuntas dalam Kajian Ahad Pagi edisi September bertajuk “Syiar At Taqwa”. Kegiatan keagamaan tersebut menghadirkan Ust. Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., selaku ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, yang diselenggarakan pada Ahad, 20 September 2026 bertempat di Masjid At-Taqwa Petarukan, Muhammadiyah Petarukan.

Tantangan Berat di Tengah Banjir Informasi

Perubahan teknologi dan media sosial berlangsung begitu cepat dalam kehidupan manusia modern saat ini. Arus data yang melimpah membuat perhatian manusia tersita sepenuhnya pada layar gawai.

Berkaitan dengan fenomena tersebut, ia menjelaskan bahwa kemudahan akses ilmu agama tidak otomatis melahirkan kedalaman pemahaman.

Berkaitan dengan fenomena tersebut, ia menjelaskan bahwa kemudahan akses ilmu agama tidak otomatis melahirkan kedalaman pemahaman.

Ia menambahkan bahwa algoritma internet kerap membentuk ruang gema atau echo chamber yang membatasi sudut pandang seseorang. Akibatnya, umat Islam perlu membangun literasi digital agar tidak terjebak pada validitas informasi keagamaan yang semu.

Krisis Konsentrasi dan Ancaman Budaya Pamer

Selain banjir informasi, tantangan berikutnya muncul dari hilangnya konsentrasi dan kekhusyukan ibadah harian. Stimulasi gawai yang konstan membuat pikiran sulit diajak fokus dan tenang.

“Dalam kondisi demikian, shalat dapat menjadi aktivitas yang secara fisik dilakukan tetapi secara mental tidak sepenuhnya dihayati,” tegas Dosen Kelas Internasional UII Jogjakarta.

Di samping itu, budaya visual di media sosial turut memicu krisis keikhlasan beramal. Terkait hal tersebut, ia mengingatkan pentingnya muhasabah diri di tengah maraknya tren pencitraan.

“Seseorang dapat tergoda menampilkan amal agar memperoleh pengakuan sosial,” ungkap Dr. Aang saat menguraikan ujian keimanan masa kini.

Solusi Praktis Melalui Digital Detox Spiritual

Menghadapi berbagai disrupsi sosial tersebut, setiap Muslim tentu memerlukan langkah konkret agar tetap istiqamah. Solusi utamanya adalah mengembalikan orientasi hidup kepada nilai-nilai tauhid yang kokoh.

Sebagai langkah nyata untuk merawat keimanan di era saat ini, ia menyarankan penerapan kebiasaan khusus di sela kesibukan.

“Salah satu langkah praktis adalah menerapkan digital detox spiritual: menyediakan waktu tertentu tanpa gawai, terutama menjelang shalat, setelah bangun tidur, sebelum tidur, dan ketika membaca Al-Qur’an,” pungkas Penasehat Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Jawa Tengah.

Bagikan: