Saatnya Masjid Hadir Bebaskan Umat dari Lapar dan Rasa Takut
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Pemenuhan kebutuhan perut dan ketenangan jiwa menjadi dua fondasi utama agar manusia sanggup menjalani kehidupan secara bermartabat. Tanpa jaminan pangan dan rasa aman, masyarakat akan kesulitan beribadah maupun beraktivitas secara optimal di tengah himpitan zaman.
Pesan spiritual nan mendalam tersebut mengemuka dalam mimbar salat Jumat di Masjid At-Taqwa Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Jumat (25/9/2026). Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. H. AM Juma’i, SE., MM., mengajak jamaah merenungi kembali hakikat dua nikmat mendasar yang Al-Qur’an tegaskan secara khusus.
Khatib mengupas pesan utama Surah Al-Quraisy ayat keempat, yang menggarisbawahi keagungan nikmat makanan setelah terbebas dari kelaparan serta rasa aman dari ancaman ketakutan.
“Kehidupan manusia membutuhkan kecukupan materi dan jaminan keamanan agar suasana batin tetap tenteram. Pangan menjaga keberlangsungan fisik, sedangkan rasa aman memungkinkan setiap orang bekerja, belajar, dan beribadah tanpa bayang-bayang kecemasan,” tutur Ketua LDK PWM Jawa Tengah tersebut di hadapan ratusan jamaah.
Menembus Dinding Ritual
Kebutuhan fisik dan batin masyarakat yang begitu nyata menuntut rumah ibadah untuk mengambil peran sosial yang jauh lebih berdampak. Masjid memegang posisi paling strategis karena berdiri tepat di tengah denyut kehidupan warga dengan ragam latar belakang sosial-ekonomi.
Melalui khutbah tersebut, khatib mendorong pengurus dan jamaah untuk menggerakkan masjid menjadi pusat pelayanan publik. Penguatan peran sosial ini akan menjadi jalan nyata dalam menjangkau warga yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi.
Langkah konkret tersebut mewujud melalui pengelolaan infak dan sedekah yang transparan, profesional, serta berorientasi pada pemberdayaan. Dana yang terkumpul dari jamaah tidak boleh mengendap semata, melainkan harus kembali menyapa masyarakat dalam bentuk program kesehatan, pendidikan, hingga bantuan pangan.
“Infak dan sedekah berfungsi sebagai instrumen penguat solidaritas sosial. Keberadaan masjid hendaknya memberi kemaslahatan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh lingkungan sekitar,” jelas tokoh dakwah komunitas itu.
Dari Kesalehan Pribadi Menuju Gerakan Kepedulian Bersama
Ibadah ritual seorang muslim idealnya berbuah pada kepekaan sosial yang tinggi terhadap sesama. Ketika seseorang menikmati sajian makanan yang cukup dan hidup di lingkungan yang aman, nuraninya tergerak untuk merangkul tetangga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup.
Gerakan kepedulian dari masjid ini sekaligus mengikis cara pandang bahwa beban hidup warga merupakan urusan individu semata. Gotong royong berbasis jamaah akan melahirkan ekosistem sosial yang saling menopang dan menguatkan.
Transformasi kesalehan individu menjadi kesalehan sosial ini selaras dengan ajakan untuk membangun ketahanan umat secara berkelanjutan. Dukungan penuh seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama agar program-program pemberdayaan masjid terus mengakar kuat.
Inisiatif memakmurkan masjid pada akhirnya akan bermuara pada tatanan masyarakat yang lebih sejahtera dan beradab. Dari balik mimbar Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, penceramah mengetuk kesadaran umat untuk menjadikan ibadah sebagai motor penggerak kebaikan di dunia nyata.