Saat Jemari Pelajar Lepas dari Layar HP dalam Arena Dolanan SMK Muhammadiyah 2 Semarang
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Jemari yang biasa lincah menari di atas layar sentuh itu mendadak menggenggam erat bilah bambu egrang. Mata yang biasanya meredup menatap kilatan layar gawai, kini berbinar terang menyapa tatapan kawan di seberang lapangan pada Jumat (25/9/2026).
Pemandangan hangat ini mewarnai seluruh sudut halaman SMK Muhammadiyah 2 Semarang. Ratusan pelajar sepakat meletakkan telepon pintar mereka demi merayakan kebersamaan dalam Festival Dolanan Tradisional.
Melalui cara yang teramat manis ini, pihak sekolah menjawab terbitnya Permendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Sekolah tidak memilih jalur larangan yang kaku, melainkan merajut kembali tali silaturahmi lewat permainan rakyat.
Ketika Gelak Tawa Mengalahkan Riuhnya Dering Notifikasi
Tanpa gawai di tangan, suasana sekolah justru terasa jauh lebih bernyawa. Para siswa saling memberi semangat saat rekan mereka berjuang menyeimbangkan langkah di atas kayu egrang.
Pada sudut lain, kehangatan terpancar dari lingkaran kecil siswa yang sedang mengadu ketangkasan cublak-cublak suweng. Gemertak biji congklak, gesekan karet lompat, hingga helaan napas lega saat permainan ular naga berlangsung menumbuhkan kembali jiwa remaja yang jujur.
Saat dikonfirmasi via pesan singkat, Kepala SMK Muhammadiyah 2 Semarang, Asti Hanani, S.Si., membagikan rasa harunya melihat antusiasme para siswa. Pihaknya sengaja menghadirkan festival ini untuk menyembuhkan rasa asing antar sesama teman akibat benteng gawai.
“Kami ingin mempopulerkan kembali aneka dolanan tradisional anak-anak dan menumbuhkan keakraban rasa kekeluargaan antar sesama teman, sekaligus memperkuat aktivitas fisik anak,” ujar Asti Hanani saat memberikan keterangan online, Jumat (25/9/2026).
Pulih dari Keterasingan Digital Menuju Jiwa yang Mandiri
Setiap ayunan langkah dan kejar-kejaran di halaman sekolah hari itu menjadi obat penawar bagi budaya mager. Selama ini, kebiasaan mengurung diri bersama gawai perlahan mengikis kesehatan fisik serta kepekaan emosi para remaja.
Oleh karena itu, momen bermain bersama ini menjadi pengalaman emosional yang amat berharga bagi seluruh peserta didik. Mereka belajar memahami bahwa kebahagiaan sejati hadir dari tatapan mata dan teguran hangat, bukan dari angka suka di media sosial.
Pihak sekolah optimistis bahwa ingatan indah tentang kebersamaan ini akan membimbing siswa menjadi pribadi yang jauh lebih bijak. Pada akhirnya, para pelajar dapat menguasai teknologi tanpa harus kehilangan kehangatan sebagai makhluk sosial.
“Harapan setelah kegiatan ini, siswa mengenal aneka ragam permainan tradisional, semakin mencintai budaya lokal, serta tumbuh menjadi generasi yang kuat secara fisik dan mandiri. Mereka bisa menghindar dari budaya mager karena bermain gawai yang melemahkan fisik dan mental, sehingga akhirnya siswa mampu memanfaatkan gawai secara bijak,” tutur Asti Hanani menutup perbincangan.