Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Kolom 5 menit baca

Implementasi Nilai-Nilai Kemuhammadiyahan di Sekolah

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah

Implementasi Nilai-Nilai Kemuhammadiyahan di Sekolah
Fungsionaris ICMI Orwil Jawa Tengah, Gunoto Saparie. Penanaman nilai-nilai Kemuhammadiyahan di ekosistem sekolah menjadi pondasi utama dalam keberhasilan Pendidikan Muhammadiyah masa kini.

Sekolah sering kali dibayangkan sebagai sebuah gedung. Ada dinding, papan tulis, meja, kursi, halaman, dan bel yang berbunyi pada jam-jam tertentu. Tetapi sekolah, sesungguhnya, bukanlah bangunan. Ia adalah ruang tempat manusia dibentuk. Di sana pengetahuan ditanamkan, tetapi juga, dan barangkali lebih penting, cara memandang dunia diwariskan.

Sebab seorang anak tidak hanya datang ke sekolah untuk mengetahui berapa hasil dari dua ditambah dua. Ia datang untuk belajar bagaimana memperlakukan orang lain, bagaimana memahami perbedaan, bagaimana mengenali yang benar dan yang salah, dan bagaimana menempatkan dirinya di tengah kehidupan bersama.

Dalam konteks pendidikan Muhammadiyah, pertanyaan itu memperoleh makna yang khas. Sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Sekolah adalah bagian dari ikhtiar panjang Persyarikatan untuk menghadirkan pendidikan Islam yang mencerahkan kehidupan. Karena itu, Kemuhammadiyahan tidak seharusnya berhenti sebagai mata pelajaran yang tercantum dalam jadwal, lalu selesai ketika bel berbunyi.

Kemuhammadiyahan mestinya hidup dalam kebiasaan.

Di sinilah gagasan K.H. Ahmad Dahlan mengenai pendidikan menemukan relevansinya. Pendidikan tidak hanya berbicara tentang kecerdasan individu, tetapi juga tentang akhlak dan kehidupan sosial. Manusia yang berilmu tetapi kehilangan kepekaan terhadap sesamanya tentu bukan tujuan pendidikan yang ideal. Pengetahuan membutuhkan arah. Kecerdasan membutuhkan akhlak. Dan kebebasan membutuhkan tanggung jawab.

Muhammadiyah sendiri lahir pada 1912 melalui gagasan dan gerakan K.H. Ahmad Dahlan, dalam konteks masyarakat yang membutuhkan pembaruan dalam kehidupan keagamaan dan pendidikan. Sejak awal, pendidikan menjadi salah satu jalan penting bagi Muhammadiyah untuk melakukan perubahan sosial.

Karena itu, ketika kini sekolah-sekolah Muhammadiyah tersebar dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi, yang diwariskan sesungguhnya bukan hanya sebuah sistem kelembagaan, melainkan sebuah cita-cita: menjadikan pendidikan sebagai sarana membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berbuat.

Persoalannya kemudian menjadi lebih rumit.

Zaman berubah. Anak-anak yang belajar di sekolah Muhammadiyah hari ini hidup di tengah dunia yang berbeda dari dunia Ahmad Dahlan. Mereka mengenal dunia bukan hanya melalui guru dan buku, tetapi melalui layar yang dapat dibuka kapan saja.

Pengetahuan berada dalam genggaman. Informasi mengalir tanpa jeda. Teknologi membuat jarak menjadi pendek, tetapi sekaligus dapat membuat manusia semakin jauh dari manusia lain.

Di tengah keadaan semacam itu, pendidikan Islam tidak mungkin hanya mempertahankan bentuk lama. Nilai-nilai boleh memiliki akar yang sama, tetapi cara menyampaikannya perlu menemukan bahasa baru

Teknologi, dengan demikian, bukan lawan pendidikan. Ia adalah alat. Persoalannya bukan apakah teknologi harus digunakan, melainkan untuk apa ia digunakan.

Seorang siswa dapat menggunakan internet untuk mencari ilmu, tetapi ia juga dapat menggunakannya untuk menyebarkan kebencian. Media sosial dapat menjadi ruang dakwah, tetapi juga dapat berubah menjadi ruang penghukuman terhadap orang lain. Kecerdasan buatan dapat membantu seseorang belajar, tetapi juga dapat membuat manusia malas berpikir jika digunakan tanpa tanggung jawab.

Di sinilah nilai Kemuhammadiyahan memperoleh ujian yang sebenarnya.

Nilai tidak cukup diajarkan sebagai definisi. Ia harus menemukan bentuk dalam tindakan. Kejujuran, misalnya, tidak cukup dijelaskan melalui buku pelajaran. Ia diuji ketika seorang siswa mengerjakan ujian tanpa menyontek, ketika ia mengakui kesalahan, ketika ia tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Akhlak tidak hanya tampak ketika siswa menghafalkan dalil, tetapi ketika ia berbicara kepada petugas kebersihan sekolah dengan hormat, membantu temannya yang kesulitan, dan tidak merendahkan orang yang berbeda dengannya.

Dengan kata lain, pendidikan Kemuhammadiyahan mempunyai pekerjaan yang lebih sulit daripada sekadar menyampaikan pengetahuan. Ia harus mengubah pengetahuan menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi tindakan.

Karena itu, implementasi nilai-nilai Kemuhammadiyahan di sekolah semestinya berlangsung dalam seluruh ekosistem pendidikan. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, melainkan teladan. Kepala sekolah bukan hanya administrator, melainkan pemimpin budaya sekolah. Siswa bukan hanya penerima pengetahuan, melainkan subjek yang diberi kesempatan untuk mengalami dan mempraktikkan nilai.

Sekolah dapat membangun budaya kejujuran melalui kebiasaan sederhana. Budaya disiplin tidak harus selalu hadir melalui hukuman. Kepedulian sosial dapat ditumbuhkan melalui kegiatan pelayanan masyarakat, penggalangan bantuan, atau program yang membuat siswa berjumpa dengan realitas kehidupan di luar tembok sekolah.

Semangat amar makruf nahi mungkar pun dapat diterjemahkan secara kontekstual: keberanian menyampaikan kebenaran, tetapi sekaligus kemampuan melakukannya dengan cara yang santun dan bertanggung jawab.

Di sini pula prinsip Islam sebagai agama yang berkemajuan menemukan ruangnya.

Pendidikan Muhammadiyah tidak semestinya menghasilkan manusia yang hanya pandai berbicara mengenai agama. Ia perlu menghasilkan manusia yang mampu menghadirkan nilai agama dalam kehidupan. Kesalehan tidak berhenti di ruang ibadah. Ia bergerak menuju ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, lapangan olahraga, ruang digital, bahkan ke tengah persoalan masyarakat.

Seorang siswa Muhammadiyah yang memahami ajaran agamanya tidak cukup hanya menjadi seseorang yang rajin beribadah. Ia juga diharapkan menjadi manusia yang dapat dipercaya. Yang mampu bekerja sama. Yang menghargai ilmu pengetahuan. Juga yang peduli terhadap lingkungan. Manusia yang memiliki keberanian untuk memperbaiki keadaan, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati. Sebab pada akhirnya, pendidikan adalah persoalan manusia.

Sekolah Muhammadiyah menghadapi peluang sekaligus tantangan karena jumlah dan jenjang amal usaha pendidikannya terus berkembang. Semakin besar jumlah sekolah, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa identitas pendidikan Muhammadiyah tidak hanya tertulis dalam dokumen kurikulum atau terpampang pada papan nama sekolah.

Identitas itu harus terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Ia terasa ketika guru mengajar dengan kasih sayang. Ia terasa ketika siswa belajar tanpa rasa takut. Dan Ia terasa ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan. Juga ia terasa ketika ilmu pengetahuan tidak dipertentangkan dengan iman, melainkan dipertemukan untuk menghasilkan manusia yang mampu membaca tanda-tanda zaman.

Barangkali di situlah makna terdalam Kemuhammadiyahan di sekolah: bukan membuat siswa pandai mengucapkan nama-nama tokoh, sejarah organisasi, atau rumusan cita-cita Persyarikatan, melainkan membuat nilai-nilai itu tumbuh diam-diam dalam dirinya. Sebab nilai yang sejati sering bekerja tanpa suara.

Ia hadir ketika seseorang memilih jujur meskipun tidak ada yang melihat. Ia hadir ketika seseorang menolong tanpa menunggu pujian. Atau ia hadir ketika seseorang memiliki pengetahuan tetapi tidak menggunakannya untuk menyombongkan diri. Dan ia hadir ketika seseorang menyadari bahwa pendidikan bukanlah jalan untuk meninggalkan masyarakat, melainkan bekal untuk kembali kepadanya.

Maka sekolah Muhammadiyah pada akhirnya bukan hanya tempat untuk mencetak orang pintar. Ia adalah tempat untuk belajar menjadi manusia. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin cepat, itulah tugas pendidikan Muhammadiyah yang paling mendesak: mengajarkan manusia bagaimana tetap menjadi manusia.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: