Masyarakat Indonesia sangat akrab dengan tradisi mengirim pahala bacaan ayat suci Al-Qur’an untuk kerabat yang telah wafat. Namun, pernahkah kita mempertanyakan bagaimana hukum kirim pahala orang meninggal menurut sunah Rasulullah?
Banyak orang merutinkan bacaan Al-Fatihah, surat Yasin, hingga ayat kursi dalam kemasan ritual tahlilan. Padahal, umat Islam perlu mengkritisi kebiasaan ini agar ibadah mereka tidak menyimpang dari syariat. Pemahaman yang keliru justru berpotensi membuat amal kebaikan kita menjadi sia-sia.
Pelu diketahui, praktik ritual tahlilan faktanya tidak pernah muncul pada era Nabi Muhammad SAW. Para sahabat dan tabi’in juga tidak mengenal amalan untuk orang meninggal tersebut dalam kehidupan mereka. Sejarah mencatat Nabi tidak pernah mentahlili Bunda Khadijah setelah beliau berpulang.
Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abu Thalib juga tidak saling mentahlili saat sahabat-sahabat mereka wafat. Begitu pula Hasan dan Husein yang tidak mempraktikkan ritual tersebut saat bapaknya meninggal dunia.
Fakta sejarah ini menuntut kita untuk mengkaji ulang landasan kebiasaan yang telanjur mengakar di masyarakat. Kita harus berani meluruskan niat dan mencari kebenaran beragama secara objektif.
Teguran Keras Nabi Muhammad untuk Keluarganya
Rasulullah selalu mendorong setiap Muslim untuk memperbanyak amal saleh secara mandiri. Saat menerima firman Allah dalam surat asy-Syura ayat 214, beliau langsung mengumpulkan kerabatnya. Allah berfirman: وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَۙ (Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat).
Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi segera memberikan peringatan keras. Beliau menegaskan ketidakmampuannya membela putri kesayangannya, Fatimah, jika sang putri tidak memiliki bekal amal sendiri. Beliau berseru lantang:
قَالَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا
Wahai Kaum Quraisy” atau ucapan semacamnya, peliharalah diri kalian karena aku tidak dapat membela kalian sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Bani ‘Abdi Manaf, aku tidak dapat membela kalian sedikitpun di hadapan Allah. Waha ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib aku tidak dapat membela kamu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat membela kamu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Fathimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa yang kamu mau dari hartaku, sungguh aku tidak dapat membela kamu sedikitpun di hadapan Allah – (HR Bukhari: 2548, 3264, Muslim: 303, 305, Darimi: 2616).
Pentingnya Kemurnian Amal untuk Meraih Syafaat
Lima riwayat hadis tersebut menepis telak keyakinan masyarakat seputar hukum kirim pahala orang meninggal. Sabda Nabi ini memperkuat 45 ayat Al-Qur’an yang mewajibkan penyatuan iman dan amal nyata. Kita harus beramal sendiri untuk mendapatkan surga Allah SWT.
Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
فاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَهُمْ فِيْ رَوْضَةٍ يُّحْبَرُوْنَ
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka bergembira di dalam taman surga – (QS ar-Rum: 15).
Banyak masyarakat mengharapkan syafaat Nabi melalui ritual tahlilan dalam Islam. Kenyataannya, Nabi justru mengancam pihak-pihak yang berani menambah atau mengubah syariat demi memperoleh syafaat. Banyak hadis sahih mencatat ancaman keras ini:
فَأَقُولُ إِنَّهُمْ مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي
Aku berkata, mereka adalah golonganku! tetapi dijawab, Sungguh engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu! Maka aku berkata, menjauh, menjauh, bagi orang yang mengubah sepeninggalku – (HR Bukhari: 6097, Muslim: 4247, Nasai: 894).
Lafal riwayat lain menyebutkan:
إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ
Kamu tidak tahu perubahan yang mereka lakukan sepeninggalmu! – (HR Bukhari: 6528, Muslim: 367, Ibnu Majah: 4296, Malik: 53).
Ada pula riwayat lain yang berbunyi:
إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ
Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu – (HR: Muslim: 4243).
Seluruh hadis ini selalu berujung pada pengusiran keras berupa ucapan سُحْقًا سُحْقًا (menjauhlah, menjauhlah). Peringatan menohok ini menuntut kita untuk segera kembali kepada sunah yang murni.
Berhentilah mengandalkan amal dari orang lain. Dan mulailah memperbanyak ibadah secara mandiri selagi hayat masih dikandung badan.
Baca juga:
Kekuatan Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal di Alam Kubur
Pendidikan Anak dalam Islam: Syarat Makbul Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal (Bagian 9)
Dapat Undangan Tahlilan, Bagaimana Warga Muhammadiyah Menyikapinya?