Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mantan Ketua PWNU Jateng KH Muhammad Adnan Wafat, Tokoh Muhammadiyah Kenang Sosok ‘Bapak Kebangsaan’

8 Oktober 2026, 08:23 WIB • 3 menit baca
Foto arsip kenangan menyusul kabar KH Muhammad Adnan wafat, tampak tiga orang narasumber pria di studio siaran, di mana mantan Ketua PWNU Jateng KH Muhammad Adnan (tengah) tersenyum akrab bersama Wakil Ketua PDM Kota Semarang AM Jumai (kanan).
SEMARANG – Potret kenangan keakraban almarhum Dr. KH. Muhammad Adnan (tengah) bersama Wakil Ketua PDM Kota Semarang Dr. H. AM Jumai (kanan) saat rekaman siniar di Pesantren Mahasiswa Kebangsaan, Tembalang, Jumat (31/7/2026).

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Jawa Tengah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng sekaligus dosen senior FISIP Undip, Dr. KH Muhammad Adnan wafat pada Rabu (7/10/2026) pukul 21.00 WIB.

Kepergian ulama kharismatik ini secara mengejutkan meninggalkan rasa duka yang sangat mendalam bagi para pimpinan Muhammadiyah. Mereka mengenang almarhum sebagai ‘Bapak Kebangsaan’ yang selalu merangkul semua golongan tanpa sekat keorganisasian.

Para tokoh Muhammadiyah mengingat almarhum KH Muhammad Adnan bukan sekadar sebagai tokoh sentral Nahdlatul Ulama, melainkan sosok akademisi tangguh yang konsisten menyebarkan kesejukan di tengah umat.

Sekretaris Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Suparno, S.Ag., M.Si., mengungkapkan rasa duka citanya terhadap pakar politik Undip tersebut.

“Almarhum Dr. Muhammad Adnan adalah sosok yang baik, kritis konstruktif terutama jika bicara masalah kekerasan berbasis agama, radikalisme dan terorisme. Beliau juga figur akademisi yang dihormati karena kepakaran dan senioritasnya di FISIP Undip,” ujar Suparno.

Suparno yang juga merupakan dosen Psikologi Undip ini menilai almarhum sebagai aset umat yang sulit dicari gantinya. Ia mengenang kolaborasi erat mereka di lingkungan kampus kampus, meski berasal dari latar belakang ormas yang berbeda.

“Beliau adalah aset yg tak ternilai karena memadukan kedalaman ilmu sosial-politik dengan wawasan keagamaan yang luas karena almarhum pernah menjadi ketua PWNU Jawa Tengah. Di akhir masa pensiunnya selain mengelola Pesantren Kebangsaan miliknya juga mengajar Pendidikan Agama Islam di di FISIP Undip sampai meninggal saat ini. Kebetulan saya dan almarhum sama sama menjadi Dewan Syari’ah Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Undip,” tambahnya.

Humanis Tanpa Sekat Organisasi

Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. H. AM. Jumai, SE., MM., juga merasakan kehilangan yang sama. Ia mengenang momen-momen akrab saat berdiskusi di podcast Pesantren Kebangsaan bersama almarhum.

“Kesan yang humanis dan penuh keakraban dengan Pak Kyai Adnan. Beberapa kali saya dalam satu ruang diskusi dalam podcast bahkan juga ngobrol santai yang sangat sejuk, inspiratif dan memotivasi kader,” kenang Jumai yang juga berprofesi sebagai dosen Fakultas Ekonomi Unimus tersebut.

Jumai melihat kapasitas KH Muhammad Adnan sebagai tokoh pemersatu sangat terasa dari cara beliau berkomunikasi dan menghargai lawan bicaranya.

“Beliau tidak melihat perbedaan organisasi sekalipun saya adalah kader Muhammadiyah, pimpinan Muhammadiyah. Beliau sangat asyik dan humanis dalam setiap komunikasinya. Beliau Bapak Dr.KH.Muhammad Adnan,MA adalah orang baik, Bapak Kebangsaan serta sangat mengayomi kader dakwah, kader umat. Selamat jalan Pak Kyai ,” pungkas Jumai.

Rencana Pemakaman di Tembalang

Sebagai informasi bagi masyarakat luas, keluarga berencana memakamkan jenazah almarhum KH Muhammad Adnan pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.

Prosesi pemakaman akan berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Kebangsaan, Kramas, Tembalang, Kota Semarang.

Baca juga:

Tanpa Peran NU dan Muhammadiyah, Skenario Fatal Ini Ancam RI

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: