Mengapa Islam Menuntut Umatnya Beragama dengan Ilmu?
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Memahami teks agama secara sepotong-sepotong sering kali melahirkan cara pandang yang kaku dan rawan memicu penghakiman sepihak. Padahal, Islam meletakkan ilmu dan konteks sebagai pijakan utama agar setiap syariat mendatangkan kemaslahatan, bukan kekacauan di tengah masyarakat.
Pesan mendalam tersebut menjadi muara pembahasan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Ustad K.H. Danusiri, M.Ag., dalam kajian rutin Kitab Bulughul Maram di Masjid As-Salam Wonodri, Semarang, Selasa (15/9/2026). Kiai Danusiri menegaskan bahwa hadis-hadis hukum seperti persoalan murtad hingga tindak zina harus dibaca secara utuh dan tematik, bukan dijadikan pembenaran bagi individu untuk bertindak melampaui kewenangan negara.
“Pembahasan hadis hukum harus dilakukan dengan ilmu dan kehati-hatian. Ketentuan dalam teks tidak serta-merta menjadi kewenangan individu untuk melakukan tindakan hukum sendiri,” tegas penceramah di hadapan para jamaah.
Ikhtiar Preventif Merawat Akidah Generasi Muda
Kajian ini memberi perhatian besar pada pembinaan rumah tangga. Ustad K.H. Danusiri meminta orang tua aktif mendampingi agama anak-anak mereka. Pendampingan hangat menjadi cara terbaik mencegah penyimpangan akidah.
Masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan rasa cemas atau ancaman hukuman. Orang tua memikul tanggung jawab moral membekali anak dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Langkah ini membuat generasi muda tangguh menghadapi pemikiran modern.
“Kita harus berusaha sekuat mungkin. Jangan sampai anak-anak kita membelot, murtad, atau pindah agama,” tutur Pengasuh Kajian Bulughul Maram Masjid As-Salam tersebut.
Kepedulian Sosial dan Doa Tulus untuk Masa Depan Bangsa
Keimanan yang matang mendorong muslim peduli pada lingkungan sekitar. Kesadaran beragama melahirkan perhatian nyata terhadap keadilan dan kepemimpinan bangsa. Umat tidak boleh bersikap acuh pada persoalan sosial.
Ustad K.H. Danusiri mengajak jamaah melangitkan doa untuk Indonesia. Bangsa ini membutuhkan pemimpin amanah yang memakmurkan rakyat. Kiai Danusiri juga menggaungkan kembali doa legendaris KH AR Fachruddin.
“Ya Allah, semoga Indonesia segera memperoleh pemimpin yang amanah. Pemimpin yang menghantarkan suasana adil dan makmur berdasarkan rida-Mu,” pimpin Wakil Ketua PDM Kota Semarang tersebut.