Istisqa Dilaksanakan, Berhenti Merusak Alam Sebelum Minta Keberkahan!
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Fenomena kemarau panjang bukan sekadar persoalan perubahan cuaca ekstrem di atas langit. Lebih dari itu, kekeringan menjadi cermin nyata untuk menguji kedalaman introspeksi diri dan kepedulian manusia terhadap kelestarian alam.
Pesan penuh ketukan nurani ini menggema dalam Shalat Istisqa yang berlangsung di halaman SD Muhammadiyah 1 Semarang pada Kamis (8/10/2026). Ratusan siswa, guru, serta civitas akademika sekolah tampak khusyuk mengikuti ibadah memohon hujan berkah tersebut.
Hadir sebagai imam sekaligus khatib, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang yang juga Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jawa Tengah, Dr. H. AM. Jumai, S.E., M.M. Dalam khutbahnya yang menyentuh, ia menegaskan bahwa agenda ini merupakan panggilan jiwa untuk memperbaiki ketaatan.
“Shalat Istisqa adalah panggilan untuk melakukan introspeksi. Kita datang bukan karena merasa paling suci, kita datang justru karena menyadari bahwa kita memiliki banyak kekurangan,” tegas AM Jumai di hadapan para jamaah.
Menjadikan Hujan Sebagai Momentum Syukur dan Introspeksi
Meskipun Kota Semarang mulai mendapatkan siraman hujan secara bertahap, AM Jumai mengingatkan jamaah untuk terus melangitkan rasa syukur. Menurutnya, hujan yang turun harus menjadi sumber rahmat, keselamatan, dan kesuburan bagi seluruh makhluk hidup.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat untuk memperbanyak istighfar yang berakar dari dalam hati. Ia menekankan bahwa pertobatan sejati wajib terwujud melalui perubahan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, hubungan yang harmonis dengan Allah SWT akan berbanding lurus dengan hadirnya keberkahan di atas bumi. Ketika manusia menjaga ketaatan dan kejujuran, Allah SWT tentu membuka pintu-pintu kemudahan dari arah yang tidak disangka-sangka.
Mengubah Doa Menjadi Aksi Nyata Merawat Bumi
Selanjutnya, AM Jumai menyoroti berbagai musibah lingkungan di Kota Semarang, termasuk insiden kebakaran di TPA Jatibarang. Ia menilai peristiwa tersebut sebagai sinyal kuat agar masyarakat semakin bijak dalam mengelola sampah serta menjaga kualitas lingkungan.
“Istighfar harus berjalan bersama ikhtiar. Doa tanpa ikhtiar adalah kelemahan, sedangkan ikhtiar tanpa doa adalah kesombongan,” ungkap AM Jumai mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan.
Melalui momentum spiritual di SD Muhammadiyah 1 Semarang ini, para siswa tidak hanya belajar tata cara shalat memohon hujan. Lebih jauh, generasi muda ini menyerap nilai-nilai kepedulian lingkungan agar kelak tumbuh menjadi pelindung bumi yang penuh kasih sayang.