Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Wajah Baru Perjuangan Santri Modern Melawan Kebodohan dan Korupsi

20 Oktober 2026, 12:50 WIB • 2 menit baca
Deretan santri muda berpeci hitam dan berbaju koko putih sedang duduk khusyuk menyimak kajian dari arah samping belakang.
Barisan santri muda yang khusyuk menyimak materi Kajian Ahad Pagi bersama Dr. H. AM Jumai, S.E., M.Ag. di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Ahad (18/10/2026). Momentum Hari Santri Nasional 2026 menegaskan wajah baru perjuangan santri modern yang tidak lagi dengan angkat senjata, melainkan lewat jihad keilmuan, penguasaan teknologi, kerja nyata, dan pemberantasan korupsi.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Pemaknaan jihad sering kali terjebak pada narasi kekerasan yang sempit dan keliru. Padahal, Islam meletakkan ilmu, kerja nyata, dan perjuangan memajukan martabat manusia sebagai puncak tertinggi dari semangat pengorbanan tersebut.

Pesan mendasar itu mengemuka dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Ahad (18/10/2026). Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jawa Tengah, Dr. H. AM Jumai, S.E., M.Ag., menegaskan bahwa momentum Hari Santri Nasional wajib menginspirasi lahirnya gerakan jihad keilmuan dan ekonomi.

Penceramah mengingatkan bahwa seruan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 garapan KH Hasyim Asy’ari merupakan sejarah emas mempertahankan kemerdekaan. Namun dalam konteks hari ini, energi besar tersebut harus bergeser untuk membendung kemiskinan, kebodohan, serta praktek korupsi.

“Jihad tidak boleh dipahami secara serampangan sebagai tindakan kekerasan. Pelaksanaannya harus berlandaskan ilmu, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap hukum dan jiwa manusia,” tegas Ketua LDK PWM Jawa Tengah tersebut di hadapan ratusan jamaah.

Jihad Keilmuan dan Teknologi Sebagai Benteng Bangsa

Merujuk Surah At-Taubah ayat 20, perjuangan di jalan Allah menuntut keterlibatan harta, jiwa, serta komitmen yang nyata. Santri dan generasi muda masa kini memikul peran strategis untuk menguasai teknologi dan menjadi penggerak ekonomi umat.

Kekuatan karakter pesantren tidak boleh berhenti sebagai kenangan manis masa lalu. Generasi terdidik wajib hadir membawa solusi atas berbagai ketidakadilan sosial yang masih menghimpit masyarakat.

Semangat cinta tanah air tercermin dari keberanian memperkuat kompetensi diri agar sanggup bersaing secara global. Pelopor kedamaian harus lahir dari kalangan muda yang berilmu dan berakhlak mulia.

“Santri dan mahasiswa harus menjadi pelopor perdamaian, penggerak ekonomi umat, serta penyebar dakwah yang mencerahkan dan menggembirakan,” tutur Wakil Ketua PDM Kota Semarang tersebut.

Menghidupkan Semangat Perjuangan Lewat Kerja Nyata

Kajian yang memadati ruang utama MAJT ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merawat persatuan nasional. Kebangkitan suatu bangsa sangat bergantung pada kejujuran dan rasa peduli antar sesama.

AM Jumai menggarisbawahi bahwa jihad modern harus bermuara pada kemaslahatan publik yang konkret. Niat ikhlas dan ilmu yang matang menjadi modal utama untuk membangun tatanan Indonesia yang beradab dan sejahtera.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi pengingat agar setiap individu meninggalkan jejak manfaat di lingkungan masing-masing. Perjuangan memuliakan manusia merupakan jalan panjang yang membutuhkan konsistensi tanpa henti.

“Semangat Resolusi Jihad tidak berhenti pada catatan sejarah, tetapi harus hidup dalam kerja nyata, pengabdian, kejujuran, dan perjuangan memuliakan manusia,” pimpin Wakil Ketua PDM Kota Semarang tersebut menutup orasinya.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: