Alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah Dituntut Jadi Agen Pencerahan Umat dan Bangsa
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Kehadiran perguruan tinggi persyarikatan tidak sekadar mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, melainkan menyiapkan kader umat yang siap mencerahkan masyarakat. Bekal integritas, spiritualitas, dan nilai-nilai keislaman menjadi pilar utama sebelum para sarjana melangkah ke dunia pengabdian nyata.
Hal tersebut ditegaskan oleh Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., dalam kajian strategis bertajuk “Muhammadiyah dan Peran Alumni di Masyarakat”. Materi ini disampaikan dalam rangkaian Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) bagi para calon wisudawan Institut Teknologi Statistika dan Bisnis (ITESA) Muhammadiyah Semarang, Ahad (25/10/2026).
Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo sekaligus Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang ini mengupas tuntas pentingnya kiprah lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam membawa gerakan pencerahan yang progresif.
Empat Pilar dan Teologi Al-Ma’un
Aang memaparkan bahwa alumni perguruan tinggi Muhammadiyah yang berkemajuan wajib mengintegrasikan empat pilar utama. Keempat pilar tersebut mencakup penguatan iman dan tauhid, penguasaan ilmu dan kompetensi profesional, penjagaan akhlak serta integritas, serta aksi nyata dalam memajukan dakwah dan gerakan pembaruan.
“Alumni Muhammadiyah harus mampu menghadirkan rahmat bagi semesta alam melalui penguasaan kompetensi profesional yang dilandasi nilai spiritual yang kokoh,” ujarnya di hadapan para peserta pembinaan.
Lebih lanjut, pemateri mengajak para peserta untuk meresapi kembali semangat perjuangan KH. Ahmad Dahlan melalui Teologi Al-Ma’un. Gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar menuntut keseimbangan antara pemahaman teologis dan aksi kemanusiaan nyata, seperti membela kaum dhuafa dan kelompok rentan di tengah dinamika sosial.
Para alumni juga dituntut menjadi agen perubahan yang mengemban tujuh pilar pengabdian konkret. Mulai dari agen dakwah pencerahan, penggerak literasi digital, kontributor kesehatan masyarakat, hingga pengembang ekonomi umat berbasis kewirausahaan sosial. Seluruh materi tersebut bermuara pada penguatan ideologi persyarikatan untuk menjawab tantangan zaman.
Adapun pelaksanaan BAPS ini dirancang secara komprehensif untuk membekali mental mahasiswa sebelum lulus. Para calon wisudawan mendapatkan berbagai materi strategis selama dua hari penuh, Sabtu-Ahad (24-25/10/2026). Mulai dari pembekalan tazkiyatun nafs dan spiritualitas di dunia kerja oleh Prof. Suparman Syukur, penguatan etos kerja profesional oleh Dr. Hasan Asy’ari Ulamai, wawasan kepemimpinan milenial bersama Drs. Wahyudi, M.Pd., hingga sesi persiapan dunia kerja oleh Rektor ITESA Nurul Huda, S.Kom., M.Kom.