Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Ketika Mahasiswa Politik Belajar Mengelola Perbedaan dalam Islam Langsung dari Akar Gerakan Muhammadiyah

15 Oktober 2026, 06:05 WIB • 3 menit baca
Mahasiswa Ilmu Politik UNNES mendengarkan pemaparan Dr. H. AM Jumai mengenai pengelolaan perbedaan dan kiprah kebangsaan Muhammadiyah
Suasana dialog interaktif antara mahasiswa Program Studi Ilmu Politik FISIP UNNES dengan Dr. H. AM Jumai di ruang rapat FEHB Unimus, Rabu (14/10/2026).

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Buku teks jarang mengajarkan cara merajut kerukunan batin secara nyata. Melangkah keluar dari ruang kuliah, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (FISIP UNNES) menepis batas teori untuk mendalami seni mengelola perbedaan dalam islam langsung dari akar gerakan Muhammadiyah.

Agenda kunjungan ini berlangsung pada hari Rabu, 14 Oktober 2026, di ruang rapat Dekanat Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Bisnis (FEHB) Unimus. Dalam kesempatan itu, puluhan mahasiswa Program Studi Ilmu Politik UNNES berdiskusi intensif bersama Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., selaku wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang sekaligus Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jawa Tengah.

Menelusuri Jejak Sejarah dan Struktur Modern

Pertemuan ini bukan sekadar pemenuhan tugas akademik semata. Para mahasiswa menengok kembali momentum 18 November 1912 di Yogyakarta saat K.H. Ahmad Dahlan menanam fondasi gerakan pencerahan. Sejak saat itu, organisasi ini tumbuh menjadi pilar organisasi islam modern indonesia yang kokoh.

Selain sejarah, diskusi juga menguliti struktur organisasi muhammadiyah yang tersusun rapi dari tingkat pusat hingga ranting. Melalui sistem kaderisasi dan tata kelola terukur, gerakan ini membuktikan bahwa dakwah Islam berjalan seiring dengan profesionalisme kelembagaan.

Seni Mengelola Perbedaan dan Merawat Kebangsaan

Perbincangan menyentuh titik krusial ketika pembahasan bergeser pada dinamika sosial masyarakat majemuk. Melalui forum tersebut, ia menegaskan bahwa kedewasaan beragama menuntut kepekaan moral tinggi tanpa memelihara permusuhan.

“Memahami Muhammadiyah tidak cukup hanya melihat struktur organisasinya. Kita juga perlu memahami nilai, sistem kaderisasi, tata kelola, dan amal nyata yang dijalankan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar AM Jumai yang juga menjabat sebagai wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang.

Sebagai pelengkap, ia menambahkan bahwa gesekan identitas di ruang publik hanya bisa diredam melalui dialog konstruktif. Terlebih lagi, perbedaan pandangan politik maupun keagamaan harus dipandang sebagai ruang luas untuk memperkuat kedewasaan berpikir.

Amal Nyata dan Laboratorium Sosial Generasi Muda

Keteladanan tersebut menemukan wujud aslinya melalui berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Seluruh instrumen itu bergerak mandiri, membuktikan bahwa kiprah kebangsaan muhammadiyah konsisten hadir merawat denyut nadi Indonesia.

“Belajar organisasi bukan hanya memahami siapa pemimpinnya dan bagaimana strukturnya, tetapi juga mempelajari nilai-nilai yang diperjuangkan, cara mengelola perbedaan, serta kontribusi nyata yang diberikan bagi umat, masyarakat, dan bangsa,” tutur AM Jumai menegaskan esensi pengabdian.

Melalui momentum diskusi politik unnes ini, para mahasiswa mendapatkan perspektif segar yang utuh. Alhasil, mereka tidak lagi memandang ormas Islam sebatas obyek studi pasif, melainkan laboratorium sosial yang hidup.

Pada akhirnya, belajar merawat republik ini menuntut generasi muda turun langsung ke akar rumput. Persatuan sejati lahir dari ketulusan merangkul keragaman.

Kontributor: Humas Unimus
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: