Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Ketika Arti “Mengaji” Dilebur dalam Kemandirian: Perjalanan Studi Tiru Pesantren Lansia ke Masjid At Taqwa Ngaliyan

13 Oktober 2026, 19:00 WIB • 3 menit baca
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Moga Pemalang berfoto bersama Direktur Pesantren Lansia Masjid At Taqwa Ngaliyan Semarang dalam kegiatan studi tiru
Delegasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Moga, Pemalang, mengabadikan momen bersama pengurus saat melakukan kunjungan studi tiru program "Lansia Tangguh" di Pesantren Lansia Masjid At Taqwa Ngaliyan, Semarang.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Sebuah delegasi dari Pemalang mendatangi Semarang dengan asumsi keliru mengenai tempat perawatan lansia yang kaku dan konvensional. Mereka mendapati kenyataan yang sama sekali berbeda ketika menapakkan kaki di pusat pembinaan sesepuh yang mendobrak seluruh batasan lama.

Pada Senin sore, 12 Oktober 2026, suasana hangat menyambut rombongan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Moga, Pemalang, saat tiba di Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates, Semarang. Kehadiran mereka membawa misi khusus untuk mempelajari praktik baik dari pesantren lansia inspiratif yang selama ini menjadi sorotan publik berkat inovasi sosialnya.

Semula, para pengurus PCM Moga membayangkan sebuah panti wreda biasa di mana para lansia hanya menghabiskan waktu dengan berbaring, mengaji secara pasif, dan menunggu hari berganti. Namun, bayangan tersebut langsung runtuh seketika saat mereka melihat aktivitas nyata di dalam kompleks masjid at taqwa ngaliyan. Di tempat ini, para sesepuh tampak bugar, bergerak dinamis, serta menjalani hari-hari dengan pikiran yang tetap tajam dan terarah.

Menghidupkan Makna “Ngaji” Lewat Aksi Nyata

Perbedaan radikal tersebut terletak pada cara pengelola menerjemahkan makna ibadah secara aplikatif ke dalam kehidupan sehari-hari. Alih-alih membatasi aktivitas hanya pada ritual keagamaan di atas sajadah, program lansia muhammadiyah merangkul seluruh aspek kebutuhan jasmani dan rohani para peserta didik seniornya.

“Mereka terheran-heran dengan konsep yang kita gunakan, gambaran mereka pesantren kita seperti pesantren yang lain, yang hanya ngaji dan ngaji terus, padahal di pesantren kita istilah ngaji dijabarkan dalam aplikasi keseharian,” ungkap Direktur Pesantren Lansia Masjid At Taqwa Ngaliyan, Drs. H. Solikhul Hadi, sewaktu menyambut delegasi PCM Moga dengan penuh keterbukaan.

Pendekatan kreatif ini mencakup pengaturan menu makanan yang disesuaikan secara presisi dengan kondisi kesehatan lansia, penyesuaian waktu istirahat selaras dengan ritme tubuh usia senja, hingga latihan fisik terukur. Setiap elemen harian dirancang secara saksama agar para lansia tidak mengalami kemunduran fungsi motorik maupun kognitif.

Merawat Kemandirian Tanpa Memutus Ikatan Keluarga

Di balik berjalannya program ini, tersimpan sebuah filosofi mendasar yang menolak keras tradisi meminggirkan orang tua dari lingkaran terdekat mereka. Pengelola meyakini bahwa institusi keagamaan tidak boleh mengambil alih tanggung jawab penuh keluarga dalam merawat orang tua tercinta.

“Kita tidak akan mengambil hak perawatan dari keluarganya, oleh sebab itu lansia harus mandiri tidak tergantung pada orang lain, lansia harus sehat lahir batin selalu bergerak dan berfikir,” jelas Solikhul Hadi sewaktu memaparkan visi besar lembaganya kepada para pengurus cabang dari Pemalang tersebut.

Prinsip tersebut menegaskan bahwa kemandirian adalah kunci utama agar para lansia tetap memiliki martabat tinggi di tengah masyarakat. Melalui pembekalan yang seimbang, mereka didorong untuk tetap aktif bergerak dan berpikir kritis tanpa harus merasa terasing dari kehangatan rumah tangga.

Menatap Senja dengan Jiwa yang Tangguh

Rangkaian kunjungan studi tiru sore itu ditutup dengan sebuah refleksi mendalam mengenai arti penting memanusiakan usia senja secara bermartabat. Pengalaman empiris dari Semarang kini menjadi bahan bakar berharga bagi PCM Moga untuk merintis inisiatif serupa di daerah asal mereka.

“Kata kuncinya, lansia harus tangguh sehat jasmani dan rohani, diusahakan tidak tergantung dengan orang lain, dan jangan kita lepas kehidupannya dari keluarganya,” pungkas Solikhul Hadi, meninggalkan pesan abadi bahwa hari tua bukanlah akhir dari produktivitas, melainkan masa paling indah untuk merayakan kehidupan dengan raga yang berdaya.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: