Saat Harta Menguasai Hati: Mengembalikan Esensi Keseimbangan Dunia Akhirat Sebelum Batas Waktu Kehidupan Berakhir
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Mengejar kesuksesan material sering kali membuat manusia melupakan tujuan hidup yang hakiki. Padahal, keseimbangan dunia akhirat menjadi jangkar penenang agar jiwa tidak hanyut dalam pusaran ambisi duniawi yang tak ada habisnya.
Pesan mendalam tersebut mengalir dari mimbar Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang pada hari Jumat, 30 Oktober 2026. Di hadapan ratusan jamaah, Drs. Suparno BM S.Ag, M.Si selaku sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang menyampaikan khutbah Jumat inspiratif Semarang yang membedah kegelisahan manusia modern.
Jebakan Ambisi dan Ilusi Harta
Ia membuka ceramahnya dengan mengutip Surah At-Takatsur ayat satu sampai dua. Ayat suci itu memperingatkan bahaya sikap bermegah-megahan yang melalaikan manusia hingga kematian menjemput. Manusia sering menghabiskan seluruh waktunya untuk memperbesar aset pribadi dan menumpuk harta.
Padahal, harta dan jabatan hanyalah titipan sementara di dunia yang fana. Suaranya mengalun tegas saat mengingatkan para jamaah tentang skala prioritas hidup.
“Jangan sampai rumah kita semakin besar, tetapi kepedulian kepada sesama semakin kecil. Jangan sampai tabungan kita semakin banyak, tetapi tabungan amal kita justru semakin sedikit.”
Reorientasi Makna Harta dalam Islam
Islam tentu tidak melarang umatnya untuk meraih kemapanan materi atau menjadi orang kaya. Makna harta dalam Islam diposisikan sebagai sarana pendukung ibadah, bukan sebagai tujuan akhir kehidupan. Seseorang sah-sah saja menjadi pengusaha sukses atau pejabat tinggi.
Kuncinya terletak pada kehalalan cara memperoleh harta tersebut. Setiap rezeki yang didapat harus disalurkan kembali untuk mendatangkan kebaikan bagi sesama.
Panduan Praktis Menjaga Harmoni Hidup
Lantas, bagaimana cara mewujudkan harmoni tersebut di tengah kesibukan harian? Ia membagikan beberapa tips mengatur waktu kerja dan ibadah yang aplikatif bagi kehidupan urban. Langkah awal dimulai dari menjaga kualitas salat agar tidak tergilas jam kerja.
Selanjutnya, setiap Muslim wajib memastikan rezeki yang dibawa pulang bersumber dari kejujuran mutlak. Menyisihkan sebagian harta lewat zakat dan sedekah juga menjadi investasi abadi yang melipatgandakan pahala. Membangun keluarga saleh serta menebar manfaat luas menyempurnakan ikhtisar persiapan menuju keabadian.
Pada akhirnya, ketika tirai kehidupan ini ditutup dan dua perkara dunia—keluarga serta harta berbalik meninggalkan liang kubur, hanya amal saleh yang setia menemani. Kesuksesan sejati diukur dari seberapa kokoh kita menjaga keseimbangan dunia akhirat sebelum batas waktu kehidupan benar-benar berakhir.