Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menemukan Kembali Arah Kepemimpinan dalam Keluarga Islam: Saat Rumah Kehilangan Kehangatan

31 Oktober 2026, 11:24 WIB • 2 menit baca
Prof. Ahwan Fanani M.Ag sedang menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At Taqwa Ngaliyan, membahas kepemimpinan dalam keluarga Islam.
Prof. Ahwan Fanani M.Ag saat menyampaikan khutbah Jumat bertema pentingnya kepemimpinan dalam keluarga Islam di Masjid At Taqwa Ngaliyan, Semarang.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Menjaga keharmonisan rumah tangga menuntut esensi kepemimpinan dalam keluarga islam yang utuh. Hal tersebut bukan sekadar urusan mencari materi di luar rumah. Suasana reflektif ini mengemuka dalam khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid At Taqwa Ngaliyan pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Prof. Ahwan Fanani M.Ag memaparkan materi tersebut di hadapan para jemaah. Selaku Ketua Takmir Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, sekaligus Guru Besar UIN Walisongo Semarang, ia mengingatkan realitas sosial saat ini. Banyak kepala keluarga melupakan kehadiran jiwa raga di dalam rumah. Akibatnya, hubungan emosional antara suami, istri, dan anak mulai merenggang perlahan.

Dalam pemaparannya, ia mengingatkan jemaah bahwa setiap individu memikul tanggung jawab penuh. Prof. Ahwan menyatakan, “Tanggung jawab terbesar seorang ayah bukan hanya mencukupi materi, melainkan menghadirkan kehangatan batin serta bimbingan moral bagi keluarga di rumah.”

Ujian Kepemimpinan dan Kisah Sahabat

Dinamika rumah tangga kerap menemui jalan terjal akibat krisis komunikasi. Sejarah Islam merekam kisah nyata ketika seorang sahabat wanita bernama Hindun binti Utbah mengadu kepada Rasulullah SAW.

Ia menyampaikan keluh kesah mengenai suaminya yang bersikap kikir dalam memberikan nafkah. Dengan lugas, ia menceritakan persoalan tersebut di hadapan nabi tanpa menutup-nutupi realitas rumah tangganya. Menanggapi hal itu, Nabi memberikan solusi bijak yang menjunjung tinggi keadilan.

Menakar Kewajiban Kepala Keluarga

Peristiwa klasik ini memberikan pelajaran berharga tentang kewajiban seorang kepala keluarga. Seorang suami dilarang keras mengabaikan hak-hak batin keluarga demi dalih kesibukan bekerja seharian.

Berkaitan dengan hal itu, Prof. Ahwan menjelaskan, “Seorang kepala keluarga wajib memahami bahwa penunaian nafkah lahir harus sejalan dengan kehadiran emosional yang utuh bagi istri dan anak-anaknya.”

Peran seorang ayah menuntut ketulusan hati dan teladan nyata setiap hari. Tanggung jawab tersebut kelak akan dimintai pertanggungjawaban mutlak di hadapan Sang Pencipta.

Membangun Madrasah Pertama yang Kokoh

Rumah berfungsi sebagai madrasah utama dalam membentuk karakter generasi masa depan. Ketika pemimpin rumah tangga gagal menjalankan fungsinya, luka pengasuhan akan berdampak luas bagi lingkungan sosial.

Menegaskan pentingnya hal tersebut, Prof. Ahwan menegaskan, “Ketika pemimpin rumah tangga gagal menjalankan fungsinya dengan baik, luka pengasuhan akan berdampak luas dan merusak tatanan sosial masyarakat.”

Oleh karena itu, setiap suami istri wajib saling menguatkan dalam membangun pondasi takwa. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bermula dari kesadaran merawat cinta di dalam rumah sendiri.

Kontributor: Media At taqwa Ngaliyan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: