Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Gema “Waa Mu’tashimaah!”, Harga Diri Seorang Muslimah dan Ketegasan Sang Khalifah

1 November 2026, 05:45 WIB • 3 menit baca
Ilustrasi Khalifah Al-Mu'tashim Billah menunggang kuda memimpin ribuan pasukan keluar dari gerbang kota menuju Ammuriah untuk menjawab seruan Waa Mu’tashimaah.
Ilustrasi barisan pasukan Khalifah Al-Mu'tashim Billah yang bergerak dari Baghdad menuju benteng Ammuriah demi membela kehormatan muslimah dalam peristiwa Waa Mu’tashimaah.

Ada kisah-kisah dalam sejarah yang bukan sekadar rentetan tanggal dan peristiwa, melainkan denyut nadi kemanusiaan yang membakar jiwa. Salah satunya mengukir sejarah abadi dalam catatan Penaklukan Kota Ammuriah pada tahun 223 Hijriah (837 Masehi)—sebuah lembaran emas tentang arti kehormatan, kepedulian, dan tanggung jawab seorang pemimpin atas jeritan rakyatnya.

Kisah bermula di sebuah pasar yang riuh. Seorang wanita muslimah keturunan Bani Hasyim tengah berbelanja dalam kesederhanaan. Tanpa disadari, kebiadaban merendahkan martabatnya; seorang lelaki Romawi dengan lancang mengaitkan bagian bawah pakaiannya ke sebuah paku.

Ketika ia bangkit, kehormatannya tersingkap seketika. Di tengah rasa malu dan keterpurukan itu, hatinya menjerit memanggil sosok yang diyakininya mampu membela harga diri umat.

Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia meneriakkan sebuah seruan yang mengguncang angkasa: “Waa Mu’tashimaah!” (Di mana engkau, wahai Mu’tashim! Tolonglah aku!)

Jeritan itu melintasi jarak, menembus dinding-dinding istana, hingga akhirnya sampai di telinga sang Khalifah, Al Mu’tashim Billah.

Menurut riwayat, saat kabar itu berhembus ke hadapannya, Khalifah tengah memegang sebuah gelas. Seketika itu pula, saat mendengar jeritan tertindas dari seorang wanita yang menyebut namanya, gelas di genggamannya tak lagi bermakna.

Musuh telah menginjak-injak harga diri seorang muslimah, sehingga baginya, peristiwa itu adalah panggilan darurat yang pantang ia abaikan. Tanpa ragu, sang khalifah segera menggerakkan roda kekuasaannya. Bahkan, ia langsung mempersiapkan puluhan ribu pasukan untuk menerjang benteng pertahanan Ammuriah—sebuah wilayah yang kini terletak di perbatasan Turki.

Gelombang pasukan yang merespons seruan Waa Mu’tashimaah tersebut diterjunkan Al Mu’tashim begitu luar biasa masifnya. Konon, dalam riwayat yang masyhur, barisan prajurit itu begitu panjang hingga tak terputus; terbentang dari gerbang istana khalifah di Baghdad hingga jauh ke tanah Ammuriah.

Penaklukan Ammuriah

Dengan kesabaran dan tekad yang membaja, mereka mengepung benteng Ammuriah selama lima bulan lamanya. Hingga akhirnya, pada bulan Agustus, pasukan Islam menaklukkan kota tersebut dan meruntuhkan pertahanan musuh di bawah naungan keadilan Islam.

Pertempuran besar itu sukses membebaskan Ammuriah dari cengkeraman Romawi, menumbangkan tiga puluh ribu tentara musuh, dan menawan jumlah yang senada.

Namun, kemenangan megah itu bukanlah akhir dari cerita. Di balik megahnya panji-panji kemenangan, prioritas sang Khalifah tetaplah satu: wanita yang memanggil namanya.

Lalu segera Al Mu’tashim secara khusus mencari sosok yang telah meniupkan gelora perlawanan tersebut. Setelah menemukannya dan mengetahui kediamannya, sang Khalifah melangkah sendiri menuju rumah wanita itu.

Dengan penuh kerendahan hati sekaligus keagungan seorang pemimpin, beliau berdiri di hadapannya dan berkata lembut, “Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?”

Demi mendengar kalimat itu, air mata sang wanita tumpah. Ia mengangguk penuh haru, menyaksikan bagaimana seorang pemimpin agung sudi mengetuk pintu rumahnya demi memastikan keadilannya tegak.

Tidak berhenti di situ, Al Mu’tashim memerdekakan wanita tersebut. Bahkan, sebagai bentuk pemulihan harkat dan martabat yang tuntas, sang Khalifah menyerahkan lelaki Romawi yang dahulu melecehkannya itu untuk menjadi pelayan di bawah kekuasaan sang wanita.

Sebuah kisah abadi tentang kehormatan yang dijaga. Jeritan Waa Mu’tashimaah yang dijawab dengan tuntas, Dan ketulusan pemimpin yang membuat sejarah senantiasa mengenangnya dengan penuh takjub.

Kontributor: Tri Annisa
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: