Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Asa Baru Muhammadiyah Semarang: Wacana Ekonomi Kreatif dan Konsep Masjid Ramah Musafir

5 November 2026, 21:37 WIB • 2 menit baca
Suasana Masjid Baiturrahman dengan fasilitas lengkap seperti area istirahat, tempat wudu bersih, air minum gratis, dan ruang bagasi untuk musafir.
Konsep visual Masjid Ramah Musafir yang mengintegrasikan fasilitas ibadah, ruang istirahat, tempat wudu bersih, hingga layanan penitipan barang bagi musafir dan wisatawan.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Geliat ekonomi kreatif muhammadiyah kini mulai diperbincangkan hangat di akar rumput. Melalui wacana segar seperti pengembangan UMKM dan konsep masjid ramah musafir, gagasan ini dihadirkan untuk merajut kemandirian umat di Kota Semarang.

Ide tersebut mengemuka dalam rangkaian kegiatan resmi organisasi. Pada Rabu, 4 November 2026, bertempat di aula utama Kantor PDM Kota Semarang, diskusi strategis digelar secara interaktif.

Dalam pemaparannya, Drs. H. Nurbini, M.S.I. menegaskan bahwa gagasan ini murni merupakan wacana pribadi dari dirinya untuk PDM Kota Semarang. Ia menilai bahwa potensi lokal warga persyarikatan harus dikelola secara terarah agar memberikan dampak sosial yang nyata.

“Itu hanya oleh-oleh dari silaturahim nasional lembaga pariwisata dan ekonomi kreatif PP Muhammadiyah, yang kebetulan saya yang ikut mewakili PDM Kota Semarang,” ujar ia menjelaskan sumber gagasan tersebut.

Menimbang Urgensi Kelembagaan di Tingkat Daerah

Meskipun wacana tersebut sangat menarik, langkah organisatoris tetap harus diperhitungkan dengan matang. Ia menjelaskan bahwa pembentukan struktur baru tidak boleh dilakukan secara sembarangan tanpa kebutuhan yang mendesak.

“Lembaga itu kan enggak harus ada, tapi kalau majelis baru harus ada sesuai dengan yang ada di PP,” kata ia menggarisbawahi perbedaan mendasar antara majelis dan lembaga.

Oleh karena itu, optimalisasi peran majelis yang sudah ada menjadi opsi yang jauh lebih rasional. Pihaknya memilih untuk memperkuat sinergi internal alih-alih terburu-buru membentuk struktur birokrasi baru.

Mengoptimalkan Potensi UMKM dan Masjid Ramah Musafir

Sebagai langkah lanjutan, fokus pengembangan diarahkan pada sektor riil yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Kehadiran umkm muhammadiyah semarang akan didorong melalui kurasi produk, pelatihan, serta perluasan akses pasar digital.

Selain itu, konsep pelayanan umat juga diperluas melalui program strategis yang terintegrasi. Hal ini bertujuan agar setiap amal usaha mampu menjadi pusat kemaslahatan yang mandiri.

“Jadi kalau PDM sudah sepakat, tidak perlu membentuk lembaga baru, kalau mau mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif ya sudah, biar di Majelis Ekonomi dan Pariwisata,” ungkap ia saat menutup sesi pemaparan.

Melalui langkah taktis ini, sinergi antara muhammadiyah creative market dan dukungan penuh dari LPEK muhammadiyah (Lembaga Pengembangan Ekonomi Kreatif) diharapkan mampu mengangkat daya saing lokal. Pada akhirnya, ikhtiar ini menjadi bukti nyata bahwa kemandirian umat selalu tumbuh dari ketekunan merawat potensi dari bawah.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: