Ukuran Kemuliaan yang Sering Terlupa: Menemukan Esensi Muslim yang Bermanfaat dalam Keseharian
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Menjadi muslim yang bermanfaat bukan sekadar mengejar kesalehan ritual di atas sajadah, melainkan bagaimana kehadiran kita membawa kedamaian bagi sesama. Di tengah ritme zaman yang individualistis, tolok ukur kemuliaan seorang mukmin sering kali terabaikan dalam rutinitas harian.
Pesan mendalam tersebut mengemuka saat Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang menyelenggarakan salat Jumat pada Jumat, 6 November 2026. Di hadapan ratusan jamaah yang memenuhi ruang utama, Drs. H. Nurbini, M.S.I. selaku wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang menyampaikan khutbah yang menggugah kesadaran sosial umat Islam. Ia mengingatkan bahwa nilai seorang hamba diuji dari seberapa besar kontribusi positifnya bagi lingkungan sekitar.
Kehadiran seorang mukmin di tengah masyarakat menuntut tanggung jawab moral yang seimbang antara ibadah vertikal dan horizontal. Menurutnya, kesalehan spiritual harus berbuah nyata dalam bentuk kepedulian sosial yang tulus. Ia menegaskan bahwa Islam tidak pernah memisahkan antara ibadah kepada Sang Pencipta dan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat.
Menghidupkan Etika Sosial Islam di Tengah Masyarakat
Penerapan etika sosial islam menjadi fondasi utama dalam merawat keharmonisan hidup bertetangga. Ia menjelaskan bahwa manusia sering kali terjebak pada kuantitas ibadah privat tanpa peduli pada kondisi orang-orang di sekitar rumah. Padahal, integritas seorang muslim tercermin secara langsung dari bagaimana ia memperlakukan tetangga dan menjaga lisan dari menyakiti orang lain.
“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang kehadirannya meringankan beban orang lain, bukan justru menjadi sumber keresahan bagi tetangga dan lingkungan tempat tinggalnya,” tegas Ustad Nurbini di hadapan para jamaah.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa standar keimanan seseorang berkaitan erat dengan kedamaian yang ia ciptakan di ruang publik. Ketika seseorang mampu menahan lisan dan perbuatannya dari perbuatan dzalim, maka rasa aman akan tumbuh secara alami di tengah masyarakat.
Menjaga Lisan dan Menebar Kebaikan Setiap Hari
Kehidupan urban yang serba cepat kerap merenggangkan ikatan kekeluargaan dan kepedulian antartetangga. Menanggapi realitas tersebut, ia mengajak para jamaah untuk kembali menghidupkan semangat saling tolong-menolong dalam kebaikan. Setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk merawat kerukunan mulai dari lingkungan terdekat.
“Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil yang kita berikan kepada tetangga, sebab dari kepedulian-kepedulian kecil itulah martabat seorang mukmin diuji di hadapan Allah SWT,” tambahnya.
Pesan ini sekaligus menguji konsistensi kita dalam mencari kriteria muslim sejati yang tidak hanya diukur dari simbol-simbol keagamaan semata. Kualitas keimanan yang matang selalu diiringi oleh keluhuran budi pekerti dan manfaat nyata yang dirasakan oleh orang banyak.
Melalui momentum khutbah Jumat di jantung Kota Semarang ini, Ustad Nurbini berhasil merangkai sebuah refleksi penting tentang arti hidup yang bermartabat. Ketika setiap individu mampu mempraktikkan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan, maka kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan penuh berkah akan terwujud dengan sendirinya.
Sebab pada akhirnya, di hadapan Sang Pencipta maupun di mata sesama manusia, ukuran sejati seorang muslim yang bermanfaat terletak pada seberapa banyak luka yang ia sembuhkan dan seberapa tenang dunia karena ia pernah hadir di dalamnya.