Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Pentingnya Tafakur di Era Modern untuk Ketenangan Jiwa

6 November 2026, 18:29 WIB • 3 menit baca
Ustadz Mustofa S.E. mengenakan peci putih dan sorban berdiri di atas mimbar kayu memberikan khotbah Jumat di hadapan para jamaah masjid
Ustadz Mustofa, S.E. saat menyampaikan khotbah Salat Jumat yang membahas pentingnya tafakur dan refleksi diri di Masjid At-Taqwa, Ngaliyan, Wates.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Jantung manusia berdetak tanpa henti, memompa ribuan liter darah setiap hari demi menjaga kelangsungan hidup kita. Namun, di tengah sibuknya mobilitas perkotaan, nikmat biologis yang begitu besar ini kerap terabaikan begitu saja.

Refleksi spiritual tersebut mengemuka dalam khotbah Salat Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Mustofa, S.E. di Masjid At-Taqwa, Ngaliyan, Wates, pada Jumat, 6 November 2026. Di hadapan para jamaah yang memadati ruang utama masjid, ia menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya merawat kesadaran batin.

Dalam khotbahnya, ia menjelaskan bahwa ketenangan jiwa tidak akan pernah tercapai tanpa adanya proses perenungan yang mendalam. “Bayangkan jika jantung kita berhenti berdetak meski hanya sepersekian detik saja, tentu akibatnya sangat fatal bagi kelangsungan hidup kita,” ujarnya saat memaparkan materi refleksi di hadapan para jamaah.

Tafakur sebagai Cahaya Penembus Hati

Kebutuhan akan jeda ini menemukan akar teologisnya melalui warisan intelektual ulama klasik. Ia menuturkan bahwa tafakur adalah cahaya, sementara proses merenung merupakan pancaran nur yang menembus hingga ke lubuk hati terdalam. Ketika seseorang meluangkan waktu untuk meresapi ciptaan Tuhan, keimanan secara otomatis menuntun jiwa menuju ketundukan yang tulus.

Kesadaran tersebut tidak hanya terhampar pada luasnya alam semesta, tetapi juga bersemayam begitu dekat di dalam diri manusia. Otot jantung yang ukurannya sekepalan tangan terbukti bekerja tanpa lelah mengalirkan darah sebanyak lima liter setiap menitnya. Aktivitas biologis yang luar biasa ini bekerja secara otomatis tanpa pernah meminta imbalan sedikit pun dari kita.

Menghindari Sifat Kufur Nikmat

Sayangnya, kemudahan-kemudahan fisik yang diberikan secara cuma-cuma ini sering kali dilupakan nilainya oleh manusia modern. Kebutuhan oksigen harian yang jika dikalkulasikan secara finansial bernilai belasan juta rupiah dapat dinikmati secara gratis setiap detik. Ketika nikmat-nikmat besar tersebut diabaikan, manusia perlahan tergelincir menjadi pribadi yang kufur.

Padahal, Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 7 telah menegaskan adanya janji penambahan nikmat bagi hamba yang pandai bersyukur. Sebaliknya, ancaman siksa yang pedih menanti bagi mereka yang senantiasa mengingkari karunia Tuhannya. Oleh karena itu, refleksi diri islami menjadi instrumen penting untuk melawan kelalaian hidup di era serba cepat ini.

Merawat Kewarasan Batin di Dunia Bising

Melalui kesadaran spiritual inilah pentingnya tafakur menjadi relevan diterapkan demi merawat kewarasan batin. Hidup hakikatnya bukan sekadar perlombaan mengejar materi duniawi yang fana dan melelahkan. Meluangkan waktu untuk merenung adalah investasi rohani terbaik agar kita senantiasa berjalan di atas ridha-Nya.

Sebab, pada akhirnya, kekayaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan di dunia. Ketenangan jiwa yang hakiki hanya akan hadir saat kita mampu meresapi setiap detak kehidupan dengan rasa syukur yang utuh.

Kontributor: Gahthan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: