Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Apa Makna Loyalitas Muhammadiyah di Tingkat Ranting?

7 November 2026, 13:30 WIB • 2 menit baca
Suasana Pengajian Pimpinan PCM Gombong di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kebumen
Suasana khidmat saat jajaran pimpinan pleno PCM Gombong mengikuti Pengajian Pimpinan bersama Dr. H. A. M. Jumai, S.E., M.M., di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gombong, Kebumen.

GOMBONG, muhammadiyahsemarangkota.org – Menjaga loyalitas bermuhammadiyah menuntut kesadaran kader untuk menempatkan aturan organisasi dan kemaslahatan umat di atas ambisi pribadi. Semangat tersebut digaungkan dalam Pengajian Pimpinan yang dihelat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gombong pada Kamis, 5 November 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri secara lengkap oleh jajaran pimpinan pleno Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA), ranting, serta unsur pimpinan ortom se-Kabupaten Kebumen. Suasana pertemuan malam itu terasa khidmat saat para pengurus meresapi kembali arti penting pengabdian tanpa pamrih. Di tengah arus zaman yang kerap menggoda nurani dengan pragmatisme jabatan, para pimpinan di tingkat akar rumput ini duduk bersimpuh merenungkan arah gerakan dakwah.

Meluruskan Niat dan Menolak Pragmatisme

Fenomena pergeseran orientasi organisasi dewasa ini sering kali menjadi batu ujian tersendiri bagi ketahanan moral sebuah gerakan. Menjawab tantangan tersebut, Dr. H. A. M. Jumai, S.E., M.M., yang hadir sebagai narasumber, menegaskan pentingnya memperkuat fondasi organisasi. Selain mengemban amanah sebagai Ketua LDK PWM Jawa Tengah, ia juga aktif menjalankan tugas sebagai wakil ketua PDM Kota Semarang.

Ia memaparkan bahwa kesetiaan di dalam Persyarikatan bukanlah bentuk kultus individu ataupun kepatuhan buta tanpa nalar kritis. Sebaliknya, komitmen kolektif tersebut diarahkan untuk senantiasa taat dalam perkara yang makruf. Melalui pendekatan spiritual, kultural, dan struktural, setiap kader diajak menjadikan aturan organisasi sebagai rumah bersama yang melindungi marwah dakwah.

Kepemimpinan yang Menghadirkan Manfaat

Ukuran kepemimpinan yang sejati bukanlah seberapa besar panggung kehormatan yang didapat oleh seseorang. Sebaliknya, kualitas pemimpin diukur dari seberapa besar amanah yang tertunaikan bagi kemaslahatan masyarakat luas.

“Loyalitas yang matang menyatukan komitmen, adab, tanggung jawab, dan keberanian memperbaiki, bukan sekadar hadir dalam struktur tetapi menghadirkan manfaat nyata bagi sesama,” ujar AM. Jumai di hadapan para pimpinan yang menyimak dengan antusias.

Pesan moral tersebut menemukan relevansinya ketika dikembalikan pada kompas gerakan melalui pengamalan khittah perjuangan muhammadiyah. Dokumen strategis ini menuntun setiap gerak langkah agar tidak terjebak dalam kepentingan sesaat. Kader diuji bukan saat fasilitas berlimpah, melainkan ketika mereka harus menempatkan kepentingan Persyarikatan di atas kepentingan pribadi.

Etika Kritik dan Budaya Musyawarah

Dinamika organisasi yang sehat menuntut adanya etika kepemimpinan islam yang menjunjung tinggi prinsip musyawarah serta budaya kritik yang beradab. Ketika perbedaan pendapat muncul di ruang rapat, penyelesaiannya tidak ditempuh melalui jalur emosional.

Sebagai solusi, setiap persoalan dikembalikan pada mekanisme AD/ART yang sah serta semangat tabayyun. Dengan demikian, struktur organisasi berfungsi secara efektif melindungi misi suci gerakan tanpa mematikan nalar kritis kadernya.

Kontributor: MPI PCM Semarang Selatan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: