Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Pentingnya kesalehan sosial di tempat kerja bagi pelayan umat

7 November 2026, 17:08 WIB • 2 menit baca
Sekelompok tenaga medis dan pimpinan menyatukan tangan di atas meja rapat dengan cetak biru, melambangkan kesalehan sosial di tempat kerja.
Jajaran pimpinan dan tenaga medis membangun kolaborasi harmonis untuk memperkuat etika kerja Islami dan kepedulian sosial di lingkungan lembaga pelayanan kesehatan. (Dok : AI Ilustration)

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Menjaga kesalehan sosial di tempat kerja bukan sekadar pilihan etis, melainkan fondasi mutlak bagi pelayan umat agar ruh pengabdian tidak luntur di tengah rutinitas administratif yang serba mekanis.

Kesadaran tersebut mengemuka secara mendalam saat Kajian Doa Pagi Struktural digelar di Aula Gedung Yusuf Lantai 3 RS Roemani Muhammadiyah Semarang pada Jumat, 6 November 2026. Di ruang permenungan itu, jajaran pimpinan dan staf meraba kembali celah-celah paradoks kelembagaan yang kerap menghambat integritas moral.

Meretas Sekat Paradoks di Amal Usaha

Dalam pemaparannya, Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. menyoroti bagaimana institusi pendidikan dan kesehatan kerap terjebak dalam kesalehan ritual yang terputus dari kepedulian nyata. Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang itu menilai bahwa rutinitas harian sering kali menepis nilai-nilai empati antarsesama.

Sebagai respons atas tantangan tersebut, ia menegaskan bahwa ibadah vertikal dan horizontal harus berjalan seirama dalam ekosistem organisasi. Menurutnya, kesalehan personal wajib ditularkan menjadi budaya kerja yang adil, transparan, dan terbuka di setiap amal usaha muhammadiyah.

“Spiritualitas tanpa kepedulian sosial berpotensi melahirkan kesalehan yang individualistik,” ujar Dr. Aang di hadapan para peserta kajian dengan penuh penekanan. Ia lantas menambahkan, “Sebaliknya, aktivitas sosial tanpa fondasi spiritual pasti akan kehilangan orientasi transendentalnya.”

Menghidupkan Ekosistem Melalui Circle Social Spiritual

Untuk menjembatani jurang pemisah tersebut, gagasan Circle Social Spiritual diperkenalkan sebagai solusi sistemik. Konsep ini memadukan pengembangan spiritual (spiritual development) dan pembangunan sosial (social development) secara berkesinambungan.

Melalui pendekatan ini, setiap insan pengabdi diajak merajut etika kerja islam aum yang aplikatif dan menyejukkan. Mulai dari penguatan psychological safety hingga penumbuhan budaya saling menghargai, semuanya dirancang untuk merawat kesehatan mental pekerja.

Pada akhirnya, fasilitas modern dan teknologi medis canggih tidak akan pernah cukup tanpa digerakkan oleh nurani yang tulus. Ketika kesalehan individual menyatu utuh dengan kesalehan sosial di tempat kerja, di situlah sebuah lembaga benar-benar menjelma sebagai mercusuar peradaban yang mencerahkan umat.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: