MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, Dinamika jaman dan pengaruh globalisasi menjadikan manusia kadang terjebak dalam kehidupan yang serba materi dan instant dalam mencapai tujuan hidup. Padahal Islam adalah agama yang sudah mengatur segala aspek kehidupan termasuk dalam membelanjakan harta. Terlebih lagi karena pengaruh faham barat ; materialisme, hedonisme, konsumtivisme, konsumerisme dan lain-lain. Paham ini menjadikan manusia termasuk umat Islam menjadikan materi sebagai tujuan dan bukan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga tidak jarang banyak umat Islam yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keberhasilan materi tersebut.
Islam tidak melarang umatnya untuk kaya, namun selain kekayaan itu untuk mendekatkan diri kepada Allah juga harus diperhatikan dari mana materi itu didapatkan. Hal ini karena materi tersebut akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah baik dari cara mendapatkannya maupun penggunannya. Oleh karena itu Islam sangat memperhatikan bagaimana cara mendapatkan dan penggunannya. Dalam makalah ini akan kita uraikan bagaimana Islam mengajarkan penggunaan materi itu agar tidak terjebak pada perbuatan israf atau berlebih-lebihan dalam penggunannya.
Oleh karena itu ada beberapa hal yang akan dikaji dalam makalah ini, antara lain; Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup, Bahaya Israf dan Solusi Menghindari isfat israf.

Al-Quran Sebagai Pandangan Hidup
Tidak ada satupun sisi dari sisi-sisi kehidupan kecuali telah dijelaskan oleh Islam atau al-Quran dan diterangkan hukum-hukumnya. Al-Quran adalah sebagai petunjuk bagi umat Islam, sebagaimana tercantum dalam QS Al-Baqarah ayat 2 :
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Terjemah Arti : Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
Ayat di atas menunjukkan bahwa Al-Quran adalah sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa dan tidak ada keraguan di dalamnya. Hanya saja yang sering terjadi Al-Quran hanya dijadikan sebagai bahan bacaan semata tetapi belum mampu difahami maknanya dan diamalkan isinya. Maka tidak heran ketika sering terjadi kontradiksi antara isi al-Quran dan perilaku umatnya. Islam menharuskan umatnya agar di dalam berIslam harus menyeluruh/kaffah, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 208.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Terjemah Arti : Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. hidup tanpa harta, tetapi hidup bukan untuk tujuan harta. Harta merupakan sarana untuk mempertahankan hidup dan memenuhi kepentingan hidup.
Bahaya Israf (berlebih-lebihan)
Dalam terminology syar’i israf adalah melebihi batas dalam segala hal. Ada yang mendifinisikan israf dengan “membelanjakan harta bukan untuk mentaati Allah atau tabzhir dan melebihi batas”. Sesungguhnya termasuk israf jika engkau makan apa saja yang engkau inginkan. (HR Ad Daaruqutni).
Bahaya israf dapat kita jumpai pada al-Quran surat al-A’raf ayat 31.
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
Terjemah Arti : Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
Ayat di atas menandaskan bahwa orang yang israf/berlebihan akan menjadi hamba yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Jika orang dibenci oleh manusia (walaupun tidak kita inginkan) tetapi masih ringan, tetapi jika dibenci oleh Allah tentu akan membawa kerugian dan kesengsaraan di dunia dan kaherat. Karena hal itu akan dijauhkan dari rahmat, hidayah dan inayah dari Allah SWT .
Sebab-sebab israf antara lain :
- Keluarga yang terbiasa hidup dengan gaya israf/berlebihan maka akan berpengaruh kepada anak-anak yang hidup dalam keluarga itu. Bagaiman tidak ? kebiasaan orang tua pasti akan menurun pada anak-anaknya. Orang jawa berpendapat “kacang mongso ninggalo lanjaran” atau “air hujan jatuhnya ke pelimbahan juga”.
- Kelapangan rejeki seteleh ditimpa kesulitan ekonomi. Banyak orang yang mampu bersabar ketika dilanda kemisikinan, namun sebaliknya tidak mampu bersyukur ketika mendapat kelebihan rejeki. Orang yang biasanya mendapatkan kesulitan dalam ekonomi kemudian diberi keleluasaan rejeki oleh Allah biasanya cenderung akan berbuat israf.
- Berteman dengan orang yang biasa hidup israf. Orang yang biasa bergaul dengan orang yang hidup israf, biasnya akan cenderung mengikuti temannya itu. Nabi bersabda orang yang bergaul dengan orang lain, maka akan serupa dengannya.
- Lalai terhadap kedahsyatan hari akherat. Orang cenderung melihat alam yang nyata (dunia) dan cenderung melupakan kehidupan ghaib (akherat). Hal ini belum lagi dipengaruhi oleh faham barat yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti materialisme, hedonisme, konsumtivisme, konsumerisme dan lain-lain.
- Lupa terhadap realitas kehidupan manusia yang tingkat kehidupannya lebih miskin atau susah dari padanya. Akan lain jika orang sering melihat realita kehidupan orang yang susah paling tidak akan berpengaruh terhadap kepekaan hati nurani orang itu.
Solusi Menghindari Sifat Israf
Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, termasuk penyakit hati di atas. Oleh karena itu ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai upaya menjauhkan diri dari sifat israf/berlebihan, antara lain :
- Merenungkan dampak negative dari israf sehingga ada upaya untuk menjauhinya.
- Memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari sifat israf, karena Allahlah yang bisa membolak-balikkan hati seseorang.
- Berjanji pada diri sendiri untuk menjauhi sikap israf dan membulatkan tekad dengan kesungguhan hati.
- Selalu memikirkan kematian yang kehidupannya lebih baik dan lebih kekal di banding kehidupan di dunia.
- Memperbanyak bergaul dengan kaum dhuafa’ dengan harapan membuka nurani kita, untuk lebih dekat dengan Allah SWT.
Penutup
Menyadari semakin sulitnya hidup pada era saat ini, maka sudah seyogyany sebagai seorang muslim kita harus mampu menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup kita. Al-Quran tidak sekedar bahan bacaan atau materi seminar, tetapi al-Quran harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Islam adalah agama yang mengajarkan segala aspek kehidupan, termasuk di dalamnya mengajarkan pula tentang bagaimana kita harus hidup di dunia ini.
Islam sangat melarang kepada hambanya untuk berbuat israf/ berlebihan, walaupun tidak berarti Islam melarang kita kaya. Boleh kita kaya tetapi kekayaan kita adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Harta adalah sarana dan bukan tujuan. Waallah A’lam.
Penulis : Suparno Abusina
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara