Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, TEMBALANG – Pimpinan Ranting Muhammadiyah Meteseh secara rutin mengadakan kajian tentang tafsir Al-Quran yang diperuntukkan bagi masyarakat umum pada 2 pekan sekali setiap bulannya. Bertempat di masjid Saubari Bening Hati, kompleks Pondok Tahfidz Ash Saubari, Meteseh, Semarang. Untuk tanggal 20 Januari 2022, kajian tersebut diisi oleh narasumber ustadz Drs. H. Danusiri M.Ag., saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah, yang akan memulai kajian tafsir Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 92-101.

Ustadz Drs. H. Danusiri M.Ag. ketika mengisi kajian tafsir Al-Quran di PRM Meteseh

Surat Al-Baqarah ayat 92-96 :

وَلَقَدْ جَاۤءَكُمْ مُّوْسٰى بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ

92. Dan sungguh, Musa telah datang kepadamu dengan bukti-bukti kebenaran, kemudian kamu mengambil (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim.

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَۗ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاسْمَعُوْا ۗ قَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاُشْرِبُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۗ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهٖٓ اِيْمَانُكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

93. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.” Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman!”

قُلْ اِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ عِنْدَ اللّٰهِ خَالِصَةً مِّنْ دُوْنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

94. Katakanlah (Muhammad), “Jika negeri akhirat di sisi Allah, khusus untukmu saja bukan untuk orang lain, maka mintalah kematian jika kamu orang yang benar.”

وَلَنْ يَّتَمَنَّوْهُ اَبَدًاۢ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِالظّٰلِمِيْنَ

95. Tetapi mereka tidak akan menginginkan kematian itu sama sekali, karena dosa-dosa yang telah dilakukan tangan-tangan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim.

وَلَتَجِدَنَّهُمْ اَحْرَصَ النَّاسِ عَلٰى حَيٰوةٍ ۛوَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا ۛيَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍۚ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهٖ مِنَ الْعَذَابِ اَنْ يُّعَمَّرَۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا يَعْمَلُوْنَ

96. Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

PEMBAHASAN

Satu Variasi Keingkaran Ahli Kitab

Ahli Kitab hanya akan beriman kepada kitab yang turun kepada mereka. Kenyataannya, setelah Musa membawa bukti risalahnya, tetap saja mereka mengingkarinya. Mereka dibebaskan oleh Allah dari menyembah Fir’aun melalui risalah Musa, agar menyembah Allah Yang maha Tunggal, malah menyembah patung anak sapi. Dengan demikian, mereka menganiaya diri  sendiri (92). Penyembahan kepada patung anak lembu itu telah merasuki rasa dan pikiran mereka sehingga meskipun diancam terhimpit gunung, tetap saja kufur.

Allah menyatakan bahwa kekufuran mereka amat buruk. Mereka memang keras kepala dengan keyakinan sebagai bangsa yang handal dan mulya, di akhirat diistimewakan Allah melebihi bangsa lain. Sebenarnya tidak. Kalau memang benar, cobalah kamu (bani Israil) minta mati (sebagai bukti) karena kehidupan dunia tentu tidak ada artinya dibanding kehidupan surga di akhirat, yang umumnya orang takut menghadapi mati. Kenyataannya, mereka tidak meminta mati. Mendengar kata ‘mati’ saja sudah takut. Mengapa? Dosa sudah terlalu banyak, dan semuanya diketahui oleh Allah.

Keadaan umat Yahudi dan kaum muslimin di waktu itu dapat diambil sebagai ibrah (pelajaran). Tipologi Yahudi salah besar dengan sikap dan perbuatannya, sementara kaum muslimin benar dengan sikap dan perbuatannya. Dalam berperang melawan kaum muslimin, kaum Yahudi takut mati sehingga bersungguh-sungguh mengalahkan umat Islam. Umat Islam sungguh-sungguh mempertahankan kebenaran Islam mati-matian dan tidak takut mati karena jika mati beneran tergolong syahid. Dalam kaitannya di akhir surat Ali Imran, surga yang tinggi derajatnya hanya diperoleh bagi kaum mukminin setelah ditebus dengan berbagai ujian kesulitan dari Allah, terusir musuh, membunuh dan dibunuh dalam membela agama Allah.

Kesediaan mati karena iman adalah ujian penting bagi si mukmin. Pepatah mengatakan “al-mautu ayatul hubbi ash-shadiq (mati adalah bukti cinta sejati). Jika dibanding sikap dan perilaku bani Israil yang menentang kebenaran itu, meskipun mengaku iman kepada taurat, mereka sebenarnya amat loba terhadap hidup melebihi kaum musyrikin. Mereka mencari kemegahan hidup, menumpuk-numpuk harta, menternakkan uang (riba), menguasai perekonomian di mana mereka berada, dan memeras keringat si lemah. Sehingga, kalau bisa, mereka, orang-orang perorang ingin hidup 1000 tahun. Karena begitu terpautnya dengan kepada dunia, mereka lupa mati. Meskipun lidah tidak mengatakan  ‘ingin hidup seribu tahun’, namun sikap dan sepak-terjangnya dapat dipahami seperti itu. (penulis: mereka sangat ngongso dalam mencari kehidupan dunia).

Nasihat Islam adalah keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat:

إعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا, واعمل لآ خرتك كأنك تموت غدا

Catatan : Mengapa kaum Yahudi begitu terpaut dengan kehidupan dunia? Di dalam kitab taurat tidak dijelaskan hal-hal keakhiratan, demikian suatu pendapat.  

Pertimbangan HAMKA

Meskipun di dalam Taurat tidak menjelaskan soal akhirat, sanubari seorang beriman tentu ada kesan tentang keakhiratan. Pelajaran Budha tidak banyak menyinggung tentang akhirat, tetapi mereka tidak rakus terhadap kehidupan dunia (harta). Hanya perlu diingat, dengan panjangnya umur tidak bisa menunda akan datanganya azab dari Allah. Secara realistis, berapa pun panjang umur, akhirnya mati juga. Khairil Anwar mengatakan: “Hidup hanyalah menunda kekalahan” kekalahan pasti datang. Allah melihat apa yang mereka kerjakan. Artinya, manusia pasti mempertanggungjawabkan perbuatannya itu (baik atau buruk). Karena itu, (penulis) kerjakanlah kebaikan sebanyak mungkin, hindarilah amal sayyiah agar tenang ketika mempertanggungjawabkan perbuatan di hadirat Allah.

Kesimpulan

Dengan harta banyak, hidup kita memang menjadi nyaman, tetapi hanya dengan harta, tidak menjamin kebahagiaan hidup. Carilah harta sebanyak-banyaknya, tetapi jangan lupa hak-hak otomatis yang harus dibayarkan dan kewajiban yang harus ditunaikan.

Masjid Saubari Bening Hati, tempat berlangsungnya kajian tafsir Al-Quran PRM Meteseh

Surat Al-Baqarah ayat 97-101 :

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَاِنَّهٗ نَزَّلَهٗ عَلٰى قَلْبِكَ بِاِذْنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

97. Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.”

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّلّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَرُسُلِهٖ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكٰىلَ فَاِنَّ اللّٰهَ عَدُوٌّ لِّلْكٰفِرِيْنَ

98. Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir.

وَلَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍۚ وَمَا يَكْفُرُ بِهَآ اِلَّا الْفٰسِقُوْنَ

99. Dan sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad), dan tidaklah ada yang mengingkarinya selain orang-orang fasik.

اَوَكُلَّمَا عٰهَدُوْا عَهْدًا نَّبَذَهٗ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ ۗ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

100. Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman.

وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيْقٌ مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَۙ كِتٰبَ اللّٰهِ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِهِمْ كَاَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَۖ

101. Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul (Muhammad) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah itu ke belakang (punggung), seakan-akan mereka tidak tahu.

PEMBAHASAN

Bani Israil Musuh Jibril

Ayat-ayat yang lalu menjelaskan bahwa mereka hanya beriman kepada kitab yang diturunkan kepada mereka, dan tidak mau beriman kepada kitab Alquran, meskipun sebenarnya mereka juga banyak mengingkari kitab mereka sendiri. Pembahasan ayat ini,  98 menyatakan bahwa mereka memusuhi Malaikat Jibril. Abdullah bin Shuriya, tokoh mereka, mengatakan kami memusuhi Jibril. Mengapa?

Disebutkan bahwa Abdullah bin Shuriya bertanya kepada Rasulullah ‘dari siapa wahyu diterima’. Jawab beliau dari Allah melalui malaikat Jibril. Dia menolak untuk beriman kepada kitab Alquran karena yang membawa malaikat Jibril. Kalau yang membawa malaikat Mikail, mungkin akan dipertimbangkan untuk dipercayai. Ia memusuhi Jibril karena dulu menurutnya Jibril pernah berkata bahwa suatu saat baitul maqdis akan hancur, dan memang hancurlah baitul Maqdis, yaitu ketika diserang oleh Nebukat neshar (Bukhtu Nashr) kaisar dari babilonia. Beribu-ribu bangsa Yahudi ditawan di sana. 

Versi lain menyebutkan bahwa suatu saat Umar bi khatahab memasuki madrasah Yahudi. Banyak omong-omong dengan mereka. Suatu saat Umar ngomong tentang Jibril. Serta-merta Yahudi menolak pembicaraan dan menyatakan sebagai musuh Jibril. Mereka memusuhinya karena menurut mereka Jibril itu terlalu banyak membuka rahasia Yahudi untuk disampaikan kepada Muhammad saw. Dia, kata mereka banyak membawa kerusakan dan azab, berbeda dari Mikalil. Dia membawa kesuburan dan kedamaian. Intinya, mereka memusuhi Jibril. Mengapa harus menurunkan wahyu lagi. Taurat sudah cukup. Mengapa datang nabi lagi. Lebih-lebih nabi tersebut bukan dari Bani Israil. Dengan ini, martabat mereka merasa menjadi rendah karena ada nabi lain di luar bani Israil, yaitu dari bangsa Arab.

Pemahaman HAMKA.

Amat Dangkal pemahaman Bani Israil dengan memusuhi Jibril. Bukankah ia hanya utusan dari Allah? Di sisi lain, Isi Alquran juga sama dengan Taurat, yaitu sama-sama mengajarkan tauhid kepada Allah swt. jadi, intinya mereka memusuhi Allah, memusuhi Rasulullah, dan memusuhi Malaikat Jibril. Terhadap sikap permusuhan bani Israil, Allah menurunkan bukti-bukti yang jelas yang dapat dinalar dan dapat dibandingkan antara taurat dan Alquran. Kok mereka masih menolak, memang mereka itu rusak (fasiq) logikanya, rusak jiwanya, dan rusak perasaannya. Dalam hal ini relefan dengan syair.

قد تنكر العين ضوء الشمس من رمد. وينكر الفم حلو الماء من سقم

QadTunkirul ‘ainudlauasy-syamsi min ramadin. Wayunkirulfammuhilwalmaai min saqamin

(Kadang-kadang mata melawan matahari  karena dia ditimpa trachom. Dan mulut menentang manisnya air karena ditimpa demam).

Karena terlalu rusaknya mentalitas bangsa Israil apapun yan di tentang. Perjanjian mereka kepada Allah melalui Musa yang semula disetujui, pada akhirnya  ditentang pula. Setelah datang utusan Allah berikutnya, mereka sebagian tidak mau berjanji alias mengufurinya, sebagian berjanji, tetapi mengingkarinya. “janji hanya di atas kertas” karena memang tidak percaya.

Kesimpulan :

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kasus kemungkaran kaum Yahudi. Semoga kita ikhlas menerima petunjuk apapun dari Alquran dan berlanjut pada perbuatan konkrit, yaitu melaksanakan petunjuk itu dengan ikhlas pula. Amin, ya Rabbal ‘alamin.

Penulis : M. Danusiri
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara