
MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG BARAT – Rezeki atau rizki adalah salah satu perkara yang menjadi rahasia Allah SWT. Disebutkan Allah dalam ayat Al-Qur’an tentang rezeki bahwa rezeki sama halnya dengan kematian seseorang, umur, dan jodoh. Namun, Allah juga sudah menegaskan bahwa setiap makhluk di muka bumi telah dijamin rezekinya. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita sebagai umat muslim yang beriman kepada Allah untuk tidak lagi merasa gelisah mengenai masalah rezeki. Dikarenakan persoalan rezeki sudah diatur oleh Allah, maka kita sebagai hambanya hanya perlu berikhtiar mengusahakan yang terbaik untuk meraihnya.
Demikian penjelasan singkat mengenai rezeki dari ustadz H. Arief Istamam dalam kajian tematik AMM Semarang Barat. Menurut ustadz Arief yang juga merupakan ketua PCM Semarang Barat, bahwa Islam memandang rezeki bukan hanya sebatas materi, kenikmatan lain yang berupa non-materi seperti kesehatan, kebahagiaan, keharmonisan rumah tangga, ilmu pengetahuan, pekerjaan, dan lain sebagainya juga termasuk rezeki yang sangat berharga dan perlu disyukuri.
Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam yang menjelaskan tentang segala hal termasuk masalah rezeki. Dalam kitab suci itu, terdapat banyak Ayat yang menyebutkan tentang rezeki. Setiap manusia dan makhluk yang ada di muka bumi semuanya sudah ditentukan dan diatur rezekinya oleh Allah. Tugas manusia hanya mencari rezeki dengan cara halal dan mensyukurinya.
Rezeki merupakan pintu kehidupan yang seharusnya disyukuri dengan nikmat. Rezeki datangnya dari Allah SWT, karena Allah SWT merupakan Maha Pemberi dan Maha Kaya. Selain berusaha dengan cara bekerja untuk meraih rezeki, manusia juga harus bertawakal dengan banyak berdoa kepada Allah agar dimudahkan dan dibukakan pintu rezekinya. Amalan-amalan untuk mendatangkan rezeki diantaranya melaksanakan sholat dhuha, bersedekah dan banyak berdoa.
Seperti yang dijelaskan pada surat Ibrahim ayat 7 :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya : Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Dalam ayat ini Allah SWT kembali mengingatkan hambaNya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkanNya. Bila mereka melaksanakannya, maka nikmat itu akan ditambah lagi oleh-Nya. Sebaliknya, Allah juga mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya, dan tidak mau bersyukur bahwa Dia akan menimpakan azab-Nya yang sangat pedih kepada mereka.
Mensyukuri rahmat Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
1. Dengan ucapan yang setulus hati.
2. Diiringi dengan perbuatan, yaitu menggunakan rahmat tersebut untuk tujuan yang diridhai-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita lihat bahwa orang-orang yang dermawan dan suka menginfakkan hartanya untuk kepentingan umum dan menolong orang, pada umumnya tak pernah jatuh miskin ataupun sengsara. Bahkan, rezekinya senantiasa bertambah, kekayaannya makin meningkat, dan hidupnya bahagia, dicintai serta dihormati dalam pergaulan. Sebaliknya, orang-orang kaya yang kikir, atau suka menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah, seperti judi atau memungut riba, maka kekayaannya tidak bertambah, bahkan lekas menyusut. Di samping itu, ia senantiasa dibenci dan dikutuk orang banyak, dan di akhirat memperoleh hukuman yang berat.
Sebagai penutup, ustadz Arief mengingatkan bahwa orang yang cinta kepada akhirat akan memperoleh rezki yang telah Allah tetapkan baginya di dunia tanpa bersusah payah, berbeda dengan orang yang terlalu berambisi mengejar dunia, dia akan memperolehnya dengan susah payah lahir dan batin. Orang yang mencintai dunia secara berlebihan tidak akan lepas dari tiga macam penderitaan, antara lain kekalutan pikiran yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir. Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia secara berlebihan jika telah mendapatkan sebagian dari harta benda duniawi maka nafsunya tidak pernah puas dan terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan dalam hati/jiwa, dikarenakan kebahagiaan hidup dan keberuntungan di dunia dan akhirat hanyalah bagi orang yang cinta kepada Allah dan hari akhirat
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara