Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Ustadz Muhammad Burhan Khoruddin, S.Pd. ketika menjadi narasumber kajian AMM Semarang Barat


MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG BARAT – Muhammadiyah meyakini bahwa untuk mewujudkan ajaran Islam dalam kehidupan perlu dilakukan dakwah fi sabilillah. Kegiatan dakwah merupakan tanggung jawab setiap muslim yang dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan kehidupan.


Demikian penjelasan dari ustadz Muhammad Burhan Khoirudin S.Pd. ketika menjadi narasumber kajian Angkatan Muda Muhammadiyah Semarang Barat pada hari Kamis (15/06) bertempat di mushola At-taqwa, Jl. Gedung Batu Timur RT 03 RW 08, kelurahan Ngemplak Simongan, kecamatan Semarang Barat.


Ustadz Burhan didalam tausiahnya mengatakan bahwa dakwah muhammadiyah harus dilakukan dengan semangat amar ma’ruf  nahi mungkar dan diwujudkan atas sikap hikmah (kebijaksanaan), mauidzah hasanah (peringatan yang baik), dan semangat musyawarah atas dasar takwa. Proses dakwah muhammadiyah dibangun atas strategi basyiran (kabar gembira) dan tandzir (peringan) bagi umat Islam, dan strategi ajakan dan kabar gembira bagi umat yang belum memeluk agama Islam.

Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al-Mulk ayat 2 :

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

Artinya : Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.

Ustadz Burhan dalam penjelasannya mengingatkan bahwa salah satu tanda kekuasaan Allah adalah Dia yang menghidupkan dan mematikan; kehidupan dan kematian merupakan bagian dari makhluk-Nya. Dia memberi kehidupan bagi yang Dia kehendaki dengan menghidupkan sesuatu yang sebelumnya mati, dan setelah itu mematikannya tanpa ada kehendak dari makhluk itu; karena kehendak menghidupkan dan mematikan hanyalah milik Allah. Maka dari itu kita sebagi muslim haruslah berlomba lomba dalam kebaikan.


Sebagai generasi muda, kita haruslah menjadi cerdas maksudnya bagaimana sebagai generasi muda, sebelum kita berdakwah atau mengajak kepada kebaikan, kita harus melihat subjek dakwah kita, jangan sampai karena dakwah kita, mereka justru semakin menjauh dan benci kepada Allah Swt.

Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125 :

دْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk

Penjelasan mengenai ayat tersebut adalah hendaknya ajakanmu kepada umat manusia, yang Muslim maupun kafir tertuju kepada jalan Rabbmu yang lurus yang mengandung ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. “Dengan hikmah” maksudnya, setiap orang sesuai dengan keadaan dan pemahaman serta sambutan dan ketaatannya. Termasuk hikmah dalam berdakwah adalah berdakwah dengan dasar ilmu, bukan kebodohan, memulai dengan perkara yang paling penting (sesuai dengan skala prioritas), lalu yang lebih penting daripada (yang sesudahnya) dan yang lebih dekat dengan alam pikiran mereka dan mudah dipahami, dengan cara (simpatik) yang lebih mendatangkan sambutan lebih baik, dengan penuh kelembutan dan persuasive. Bila sudah tuunduk dengan cara hikmah, (maka itu sangat bagus). Jika tidak mempan, maka beralih kepada metode dakwah dengan pelajaran yang baik. Yaitu dengan perintah dan larangan, yang diiringi dengan targhib (anjuran keutamaan) dan tarhib (ancaman). Baik dengan (menyampaikan) kemaslahatan yang terkandung oleh perintah-petintah dan menghitung-hitungnya dan bahaya yang terkandung dalam larangan-larangan dan menginventariskannya, atau dengan menyebutkan kemuliaan yang diraih oleh orang-orang yang menegakkan agama Allah dan penghinaan dan diterima orang yang tidak menjalankannya. Maupun dengan menyebutkan sesuatu yang telah Allah sediakan bagi orang-orang yang taat berupa balasan baik di dunia dan akhirat, dan sesuatu yang dipersiapkan oleh Allah bagi para pelaku maksiat, berupa hukuman dunia dan akhirat.


Maka dalam berdakwah itu harus menggunakan cara yg baik, yaitu dg cara:
1. Dengan hikmah
2. Dengan nasehat yg baik
3. Jika terjadi perbedaan pendapat maka bermusyawarahlah


kita akan mendapatkan keuntungan jika kita mengajak kebaikan, sesuai dg hadits riwayat muslim no 1893 :

وعَنْ أبي مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قاَلَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ، فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فاَعِلِهِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Artinya : Dari Abu Mas’ūd al-Anshari, beliau berkata, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, baginya semisal pahala yang orang yang mengerjakan kebajikan tersebut.”


Sebagai penutup, ustadz Burhan menjelaskan bahwa dalam berdakwah itu pasti memiliki tantangan seperti tantangan dari orang sekitar seperti di katakan sok alim, ejekan dari orang orang yg menolak kita ajak kepada kebaikan, rasa malas karena tidak sesuia dg harapan kita dan yg paling parah adalah rasa permusuhan dari orang orang yg merasa di rugikan oleh dakwah kita.Oleh karena itu, kita harus selalu yakin dan tetap istiqomah sehingga kegiatan dakwah Muhammadiyah senantiasa diorientasikan pada upaya peningkatan kualitas diri dan membebaskan umat manusia dari cara pandang dan cara hidup yang yang tertutup (jumud) dan kesyirikan. sehingga dapat mewujudkan dakwah muhammadiyah yang berupaya untuk memberikan pencerahan dan cara pandang hidup yang modern dan berkemajuan berdasar Al-qur’an dan as-Sunnah.




Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara