Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.


MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG BARAT – Untuk lebih mengenalkan sejarah perkembangan Islam di Spanyol, maka Angkatan Muda Muhammadiyah Semarang Barat menyelenggarakan kajian Teras Milenial dengan tema “Taddabur Sejarah Andalusia, Bangkitkan Semangat Pemuda Islam”.


Ustadzah Tsania Arifianti S.Pd. ketika menjadi narasumber kajian teras milenial angkatan muda muhammadiyah Semarang Barat mengisahkan bahwa pada tahun 92H / 711M Spanyol berhasil ditaklukan oleh seorang pemuda mualaf yang baru 3th memeluk Islam yaitu Thariq bin Ziyad, Ia pemuda asal suku barbar (suku asli Afrika Utara) yang dipercaya oleh gubernur Islam Afrika Utara saat itu Musa bin Nushair untuk menjadi panglima.


Masuk nya Islam di Andalusia bermula dari banyaknya laporan dari warga negeri seberang (Spanyol) ,bahwa rakyat disana menderita, kelaparan, dan rajanya kejam ditambah raja Yulian kerjaan Ceuta mengirimkan surat ingin membantu kaum muslim muntuk menyerang kerajaan Visigoth yang dipimpin oleh raja Roderick. Raja Yulian menawarkan kerja sama kepada Musa bin Nushair karena anak dari Raja Yulian telah dilecehkan oleh raja Roderick. Namun, Musa bin Nushair menolak tawaran tersebut dan ingin membuktikan sendiri apakah benar hal itu terjadi. Musa bin Nushair mengirimkan Tharif bin Malik untuk menjadi menyelidiki apakah betul keadaan di negeri seberang seperti itu. Ternyata benar, Musa bin Nushair mengirimkan Thariq bin Ziyad membawa pasukan perang untuk menghadapi Spanyol.


Thariq bin Ziyad menyebarang selat Gibraltar. Nama selat Gibraltar merupakan bentuk penghormatan atas Thariq yang mana dalam bahasa Arab Jabal Thariq yang artinya Bukit Thariq. 12.000 pasukan muslim melawan 100.000 pasukan Visigot. Perang berlangsung 8 hari dan dimenangkan oleh kaum muslim. Perjuangan Thariq tak hanya di Spanyol namun juga mampu menaklukan Portugal dengan mudah. Dibangunlah dinasti Umayyah II berpusat di Cordoba, Andalusia setelah Abdurrahman Ad-Dhakil berhasil merebut Andalusia dari Abbasiyah. Secara geologis wilayah kekuasaan terbentang dari Portugal hingga sebagian besar wilayah Spanyol.


Pada zamannya, Andalusia dikenal bak surganya dunia karena begitu indah dan megahnya bangunan-bangunan disetiap sudut. Seperti Istana Medina Az-Zahra, Istana Al-Hambra, Masjid agung Cordoba,dll. Bukan hanya maju dalam bidang arsitektur namun ilmu pengetahuan berkembang pesat dan muncul para cendekiawan termasuk Ibnu Sina sang bapak kedokteran, Abbas Ibnu Firnas sang penemu pesawat terbang, Abdul Qasim az-zahrawi sang penemu alat bedah kedokteran, dll.


Ketika Universitas Cordoba dibuka, banyak toko buku dipinggir jalan. Adapun perpustakaan raja Al-Mahkam II memiliki koleksi 400.00 buku. Andalusia juga menjadi pelopor budaya mandi di Eropa, dengan menyediakan toilet umum untuk warganya. Namun yang kita saksikan saat ini seperti tak berasa nuansa Islam di Spanyol dan Portugal. Peradaban yang telah dibangun selama 8 abad , seakan lenyap begitu saja. Mereka para penyebar Islam di Spanyol tak pernah menyangka bahwa ternyata 800th kemudian Islam runtuh dan cucu cicitnya dihabisi dengan sangat keji.

Runtuhnya Islam disebabkan oleh mulai dirusaknya kaum mudanya dengan dikirimkan berbagai hiburan seperti musik untuk melalalaikan hafalan Qur’an, khamr gratis, wanita pelacur, diskotik,dll. Perlahan warga Islam Spanyol mulai lalai dan cinta dunia, begitupun rajanya. Kemudian Spanyol terpecah menjadi 27 kerajaan kecil dan raja-rajanya saling bermusuhan dan diadu domba oleh Kristen Eropa. Dan Granada sebagai benteng terakhir umat Islam Spanyol akhirnya jatuh ke tangan Ratu Isabella dari Castilla. Bahkan Sultan Muhammad XII raja terakhir Granada menyerahkan kunci istana secara cuma-cuma tanpa perlawanan. Lalu keluarga Kerajaan pun pergi meninggalkan istana dan sang Sultan menangis. Namun ibunya tak simpatik sedikitpun terhadap putranya, dan berkata “Menangislah seperti wanita, terhadap apa yang tidak bisa engkau pertahankan selayaknya laki-laki.”


Rakyat Islam Granada dibantai dengan disembelih oleh para pasukan salib Eropa ,mulai dari anak-anak sampai lansia. Bahkan air laut yang tadinya berwarna biru berubah menjadi merah kehitaman. Peristiwa pembantaian umat Islam ini terjadi pada 1 April dan kini Eropa bahkan hampir penjuru dunia selalu merayakannya dengan sebutan April MOP setiap tanggal 1 april dengan dalih hari bergurau,lelucon dan jahil terhadap teman. Padahal hari itu adalah hari berkabungnya umat Islam Andalusia karena telah dibantai oleh pasukan salib Eropa.


Andalusia harus menjadi pengingat bagi kaum muslim bahwa ketika umat Islam sudah mulai cinta dunia ,Ia akan menjadi lemah sehingga mudah diadu domba dan berujung melepaskan benteng pertahanannya. Maka sebagai generasi penerus bangsa dan agama, kita harus senantiasa menjaga Islam, iman, serta semangat dalam berdakwah dan menuntut ilmu. Karena jika bukan kita yang bergerak untuk bangsa dan agama ,lalu siapa lagi?. Mari terus belajar dan mengajarkan, jaga adik-adik, saudara maupun anak cucu kita nantinya agar mereka tetap teguh dalam iman Islam.





Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara