MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – Pada mulanya pembentukan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) yang berasal dari Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) kemudian dihilangkan frase Dakwah Khusus lalu dibentuk lembaga tersendiri bernama LDK itu menjadi pertanyaan yang susah terjawab di tataran majelis di tingkat daerah. Adanya pelatihan dan bimtek yang ditangani langsung oleh pimpinan pusat sangat membantu memberikan arah yang benar terhadap jalannya kegiatan dakwah di tingkat daerah.
Dakwah komunitas lebih dipersiapkan untuk menangani kebutuhan khusus komunitas tertentu. Di identifikasi ada 6 kelompok yang boleh dijadikan acuan dalam menjalankan dakwah LDK di semua tingkatan. Komunitas ekonomi tinggi, ekonomi menengah, dan ekonomi bawah. Lalu di bawahnya ada kelompok marginal, komunitas khusus dan terakhir komunitas dunia maya.
Setiap kelompok tersebut memiliki karakteristik khusus, ciri khusus, dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karenanya dalam penanganan dakwah pun akan mbawa implikasi yang berbeda. Butuh persiapan dan pendekatan khusus dalam menyelami kebutuhan komunitas itu. Perlu di identifikasi secara detail.
Penanganan dan tindakan dakwah sesuai kebutuhan, tidak terbatas pada memberi tausiyah atau kasih makan gratis saja. Yang lebih penting adalah pendampingan agar aqidah mereka kuat menghadapi permasalahan spesifik mereka.
Dakwah LDK bisa jadi tidak di masjid, mushola atau majelis taklim. Sembarang tempat yang memungkinkan untuk melakukan tindakan perubahan dalam kasus yang ditangani. Materi dakwah juga lebih variatif, bisa bantuan barang, pendampingan maupun advokasi sesuai dengan konteks permasalahan yang di hadapi.
Oleh karenanya dana menjadi bagian penting dalam melaksanakan dakwah komunitas ini. Pencarian dana diharapkan dapat bekerjasama dengan berbagai fihak, Lembaga Amil, sponsor, dermawan dan sebagainya. LDK diharapkan mampu menjalin kerjasama mutualisme dengan berbagai lembaga pendanaan.
Tentu ada kriteria kapan LDK dibutuhkan menggarap komunitas itu. Diperlukan juga tolok ukur tertentu yang dijadikan acuan dalam penilaian keberhasilan hingga menentukan kapan komunitas itu dapat dilepaskan secara mandiri. Dengan harapan ketika dilepaskan mereka tidak akan kembali ke kondisi semula.
LDK Kota Semarang mengadakan pertemuan di sela-sela kesibukan para personilnya, Senin (10/6/24) di wedangan Kopi Blirik. Dalam kesempatan itu dibicarakan tentang agenda kegiatan kedepan yang mengacu pada hasil bimtek yang telah di ikuti 2 orang personilnya beberapa waktu sebelumnya.
Ketua LDK Kota Semarang, Ir. Pudjo Koeswhoro yang juga seorang arsitek landscape itu menyatakan perlunya tindakan ke depan dilakukan secara terstruktur. Keuangan yang kuat dan bidang garapan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Agar apa yang dilakukan menjadi amal jariyah betul, dan menjadi amalan baik yang dilakukan secara berkelanjutan.
Kontributor : Abdullah Hasan Pardjojo
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara