MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, SEMARANG – MCA Kota Semarang menghadiri undangan dari MCA Jawa Tengah pada hari Ahad (16/2) dalam agenda kajian dan pembagian buku gratis untuk Mualaf Center bertempat di masjid At Taqwa Ganesha, Pedurungan. Kegiatan ini dihadiri oleh anggota dan pendamping Muallaf Center Aisyiyah dari Semarang dan Kudus, serta komunitas mualaf lainnya.
Sebagai narasumber dalam pengajian tersebut adalah ustadz Ahmad Christian Tarigan, Pembina DNAP (Divisi Nasional Anti Pemurtadan). Beliau didalam tausiahnya membagikan pengalaman spiritualnya dari sebelum hingga setelah masuk Islam.
“Sebagai anak seorang pendeta, saya tumbuh dalam lingkungan Kristen yang kuat. Namun, saya selalu merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup saya. Saya merasa tidak puas dengan ritual-ritual keagamaan yang saya lakukan, dan saya mulai mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan spiritual saya.” Kata ustadz Ahmad Tarigan yang pernah meraih muallaf award termuda tahun 2016 (usia 26 tahun).
“Setelah mempelajari Islam lebih dalam, saya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan spiritual saya. Saya merasa lebih tenang dan damai setelah memeluk Islam. Saya juga merasa bahwa Islam memberikan saya pedoman hidup yang jelas dan membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik.” Jelas ustadz Ahmad Tarigan yang juga menjadi penulis buku Alasan Fenomenal Mengapa Kami Memilih Islam.
“Sebagai mantan pendeta yang kini menjadi muslim, saya ingin berbagi pengalaman saya dengan mualaf lainnya. Saya ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang. Saya berharap pengalaman saya dapat menjadi inspirasi bagi mualaf lainnya untuk terus meningkatkan iman dan taqwa mereka.” Tegas ustadz Ahmad Tarigan yang juga menjadi pengelola wakaf lisensi Badan Wakaf Indonesia (BWI).
Dengan membagikan pengalaman spiritualnya, Ustad Ahmad Christian Tarigan berharap dapat menjadi contoh bagi mualaf lainnya dan membantu mereka meningkatkan iman dan taqwa mereka.

Waspada Pemurtadan di Era Digital
Ustadz Ahmad Christian Tarigan juga menyampaikan tentang pemurtadan di era digital yang saat ini menjadi ancaman serius bagi umat Islam, terutama anak-anak muda. Orangtua muslim diminta untuk waspada dan selalu mengecek handphone putra-putrinya untuk mengantisipasi adanya upaya pemurtadan.
Lagu-lagu di aplikasi TikTok yang sedang trend dan mendayu-dayu ternyata adalah lagu-lagu gereja, pujian dan kerinduan kepada Yesus Kristus. Banyak anak-anak muda Islam yang tidak memahami hal ini dan mengira bahwa lagu-lagu tersebut adalah lagu umum.
Selain melalui handphone, pemurtadan juga dapat terjadi melalui hubungan romantis. Seorang perempuan muslim dapat dipacari, dinikahi, dan kemudian dimurtadkan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut. orangtua muslim diminta untuk selalu memantau kegiatan anak-anak mereka, terutama di media sosial. Dengan demikian, mereka dapat mengantisipasi adanya upaya pemurtadan dan melindungi aqidah anak-anak mereka.
Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan antara lain :
- Selalu mengecek handphone anak
- Memantau kegiatan anak di media sosial
- Mengajarkan aqidah yang kuat kepada anak
- Meningkatkan kesadaran anak tentang bahaya pemurtadan
Dengan waspada dan proaktif, orangtua muslim dapat melindungi anak-anak mereka dari ancaman pemurtadan dan menjaga aqidah mereka tetap kuat.

Buku Panduan untuk Mualaf
Kajian tersebut diakhiri dengan momen yang sangat spesial, yaitu pembagian buku yang ditulis sendiri oleh ustadz Ahmad Christian Tarigan secara gratis kepada seluruh anggota komunitas Muallaf Center yang hadir. Buku yang berjudul ‘Membaca Buku Ini InsyaAllah Tidak Akan Murtad’ ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi umat Islam dalam meningkatkan wawasan dan kemampuan untuk menolak upaya pemurtadan. Setelah pembagian buku, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan sholat Maghrib berjamaah bersama-sama.
Kontributor : Siti Arbainah
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara