Pergantian tahun Hijriyah adalah lebih dari sekadar perubahan angka. Ia adalah undangan untuk introspeksi mendalam dan perbaikan diri. Pada pengajian Ahad (29/6) di Joglo Sasana Manunggal Rasa Balai RT 05/RW 08, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang Ustadz Drs. Abdullah Muhajir menegaskan bahwa Tahun Baru Islam harus menjadi momentum krusial untuk membentuk karakter Islami, dengan meneladani jejak hijrah Nabi Muhammad SAW.
Ia mengawali ceramahnya dengan membahas keutamaan bulan-bulan dalam Islam, terutama bulan haram.
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram,” ujar Ustadz. Muhajir, mengutip QS At-Taubah (9): 36.
Ia merinci bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Penamaan “haram” pada bulan-bulan ini memiliki dua makna penting: diharamkannya berbagai bentuk pembunuhan, dan larangan perbuatan haram yang lebih ditekankan karena kemuliaan waktu tersebut. Istimewanya, bulan Muharram secara khusus disebut sebagai Syahrullah atau Bulan Allah.
Hijrah Nabi: Fondasi Kalender dan Identitas
Ustadz Muhajir kemudian menyoroti sejarah penetapan kalender Hijriyah, yang berakar kuat pada kearifan dan kebutuhan umat Islam di masa awal. Masyarakat Arab pra-kerasulan telah akrab dengan nama-nama bulan, namun belum memiliki sistem penomoran tahun yang terstruktur.
“Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah,” ungkapnya, memberikan contoh nyata.

Ustadz Drs. Abdullah Muhajir, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang di dampingi oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Bringin. (Foto: Adib)
Ide kalender Islam muncul dari kegelisahan Abu Musa Al-Asy’ari, gubernur pada masa Khalifah Umar r.a., yang mendapati surat-surat dari khalifah hanya mencantumkan tanggal dan bulan, tanpa tahun, sehingga menimbulkan kebingungan.
Setelah musyawarah mendalam dengan para sahabat senior, usulan cerdas dari Ali bin Abi Thalib r.a. untuk mendasarkan kalender pada momentum hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah disepakati bersama. “Maka usulan yang disetujui oleh semuanya adalah usulan Ali r.a., kemudian ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw,” terang Ust. Muhajir.
Nama-nama bulan dalam kalender Hijriyah sendiri diadopsi dari penamaan yang sudah berlaku di kalangan bangsa Arab saat itu.
Setiap bulan Hijriyah sarat makna dan sejarah. Ustadz Muhajir menjelaskan bahwa Muharram berarti “yang diharamkan” karena larangan pertumpahan darah di dalamnya. Shafar, dinamai demikian karena pada bulan itu kaum pria Arab dahulu biasa bepergian untuk merantau, berniaga, atau berperang, meninggalkan pemukiman yang kosong. Rabiul Awwal dan Rabiul Akhir menandai masa kembalinya dan menetapnya kaum laki-laki di rumah.
“Pada bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam, antara lain: Nabi Muhammad saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat pada bulan ini juga,” imbuhnya, menyoroti pentingnya Rabiul Awwal.
Sementara itu, Ramadan, yang berarti “sangat panas”, adalah satu-satunya bulan yang disebutkan dalam Al-Quran, penuh dengan keutamaan, kesucian, dan peristiwa penting seperti turunnya Al-Quran dan penetapan kewajiban puasa.
Memahami Doa dan Keutamaan Puasa Muharram.
Muhasabah: Kunci Karakter Islami di Tengah Arus Zaman.
Sebagai penutup, Ustadz Abdullah Muhajir menyampaikan pesan esensial tentang apa yang harus kita lakukan saat memasuki tahun baru dan bertambahnya usia. “Muhasabah dan perbaikan,” tegasnya.
Ini mencakup lima pilar utama: memurnikan akidah dan iman, memperbaiki ibadah, memperbaiki akhlak, meningkatkan amal kebaikan, dan menyempurnakan bacaan Al-Qur’an.
Dengan demikian, tahun baru Islam bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah kesempatan emas untuk mengevaluasi diri dan mengukuhkan tekad menjadi pribadi yang lebih baik. Ini adalah panggilan untuk senantiasa meneladani jejak langkah Nabi Muhammad SAW dalam hijrahnya, menuju kebaikan dan keberkahan yang hakiki.
Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kemudahan dan kekuatan bagi kita semua untuk mengamalkan segala kebaikan di tahun yang baru ini, membangun karakter Islami yang kokoh di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.