Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 14 menit baca

Naskah Khutbah Jumat: Bahaya Gaya Hidup Hedonis, Jeratan Hutang dan Pinjaman Online

Redaksi

Naskah Khutbah Jumat: Bahaya Gaya Hidup Hedonis, Jeratan Hutang dan Pinjaman Online
Ilustrasi: Seorang pria tampak tertekan dan putus asa saat menerima peringatan tagihan di layar gawai miliknya. Memaksakan gaya hidup hedonis di luar kemampuan finansial sering kali berujung pada lilitan hutang pinjaman online (pinjol) yang tidak hanya merusak ekonomi, tetapi juga menghancurkan ketenangan jiwa dan keharmonisan keluarga. (Ilustrasi/AI)

Di era serba digital saat ini, masyarakat kian mudah terpapar tren pamer kemewahan di media sosial yang memicu gaya hidup hedonis. Demi memenuhi hasrat untuk terlihat mapan dan mengikuti tren kekinian, tidak sedikit umat Islam yang akhirnya memaksakan diri di luar kemampuan hingga terperosok ke dalam jeratan hutang dan pinjaman online (pinjol). Lingkaran setan hutang pinjol ini tak hanya menghancurkan tatanan ekonomi keluarga, tetapi juga meruntuhkan ketenangan jiwa dan kehormatan di masyarakat.

Menyikapi fenomena sosial yang mengkhawatirkan tersebut, redaksi menyajikan materi naskah khutbah Jumat pilihan dengan tema “Bahaya Gaya Hidup Hedonis: Jeratan Hutang dan Pinjaman Online (Pinjol)”. Materi inspiratif ini merupakan Khutbah ke-19 yang disadur secara utuh dari buku “Naskah Khutbah Jum’at Satu Tahun Sesuai Kalender Hijriah”.

Naskah khutbah Jumat yang tajam dan solutif ini disusun langsung oleh Ustaz Kasmui, seorang akademisi sekaligus Pengurus Majelis Tabligh Muhammadiyah Kota Semarang.

Bagi para asatidz, khatib, maupun pengurus takmir masjid yang membutuhkan referensi naskah khutbah tematik yang relevan dengan isu-isu kontemporer selama satu tahun penuh, e-book ini dapat diunduh secara gratis melalui tautan resmi berikut: https://kasmui.cloud/khutbah/.

Berikut adalah sajian utuh naskah khutbah Jumat tentang bahaya pinjol tersebut:

NASKAH KHUTBAH JUM’AT 19

Tema: Bahaya Gaya Hidup Hedonis: Jeratan Hutang dan Pinjaman Online (Pinjol)

BAGIAN 1: KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Amma ba’du.

Ma’asyiral Muslimin wal Hadirin Rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa bukan sekadar lisan yang berucap, namun hati yang tunduk dan diri yang menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjauhi perilaku yang merusak kehormatan diri dan keluarga kita.

Hari ini, kita hidup di zaman yang penuh fitnah akhir zaman. Kita menyaksikan sebuah fenomena yang memprihatinkan melanda umat. Ada penyakit sosial yang diam-diam menggerogoti ketenangan rumah tangga kaum muslimin. Penyakit itu bernama Gaya Hidup Hedonis—sebuah keinginan berlebihan untuk memuaskan hawa nafsu duniawi, ingin terlihat kaya, ingin terlihat mewah, ingin dipuji di media sosial, namun dengan kemampuan finansial yang rapuh.

Akibatnya, muncullah badai yang kita kenal hari ini: Jeratan Hutang dan Pinjaman Online (Pinjol). Betapa bahaya pinjol sehingga banyak saudara kita yang hidupnya hancur, rumah tangganya berantakan, diteror siang malam, dipermalukan di hadapan umum, bahkan—naudzubillah—ada yang sampai mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menanggung beban bunga hutang yang mencekik leher.

Jamaah Jum’at yang Dimuliakan Allah,

Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Namun, Islam sangat keras melarang gaya hidup boros, berlebih-lebihan, dan memaksakan diri di luar kemampuan (takalluf). Akar dari masalah bahaya pinjol ilegal maupun legal yang menjerat leher adalah hilangnya rasa syukur dan merebaknya sifat Tabdzir (pemborosan).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dengan tegas dalam Surah Al-Isra ayat 26-27:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra: 26-27)

Dalam ayat ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menyandingkan perilaku boros dengan setan. Mengapa? Karena orang yang boros membelanjakan harta bukan pada tempat yang benar, melainkan demi gengsi dan syahwat. Menggunakan uang pinjaman untuk membeli barang konsumtif, gadget terbaru, atau liburan demi konten, adalah bentuk nyata dari “saudara setan” di era modern ini.

Hadirin Rahimakumullah,

Ketahuilah, hutang dalam Islam adalah perkara yang sangat berat, bukan hal sepele. Hutang bisa menjadi penghalang seseorang masuk surga, meskipun ia memiliki amal shalih yang banyak. Banyak dari kita meremehkan fitur “Beli Sekarang, Bayar Nanti” (PayLater) atau kemudahan aplikasi pinjaman, padahal di baliknya ada ancaman akhirat yang mengerikan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih riwayat Imam Tirmidzi:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab hutangnya, sampai hutang itu dilunasi. (HR. Tirmidzi, No. 1078, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Hadits ini memberikan peringatan keras! Ruh orang yang meninggal dunia tidak akan sampai ke tempat mulia di sisi Allah, tertahan, dan terpasung, selama hutangnya di dunia belum diselesaikan.

Bayangkan, wahai Saudaraku! Apakah demi sebuah gengsi dan gaya hidup sesaat, kita rela ruh kita tersiksa dan tertahan di alam barzah kelak?

Bahkan, lebih mengerikan lagi, dosa hutang adalah satu-satunya dosa yang tidak otomatis terhapus meskipun seseorang mati syahid di medan perang.

Perhatikan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ

Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang. (HR. Muslim, No. 1886)

Darah syahid yang mulia pun tidak mampu menebus hutang. Lalu bagaimana dengan kita yang amalnya pas-pasan, ibadahnya bolong-bolong, namun berani menumpuk hutang ribawi hanya demi memenuhi gaya hidup hedonis?

Ma’asyiral Muslimin,

Lalu, apa akar masalahnya? Mengapa banyak orang terjebak? Jawabannya adalah karena kita berlomba-lomba dalam kemewahan dunia. Kita sibuk melihat ke atas, membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial.

Allah menyindir perilaku manusia modern ini dalam Surah At-Takathur ayat 1-2:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. At-Takathur: 1-2)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa At-Takathur adalah kesibukan manusia memperbanyak harta, anak, dan kesenangan duniawi untuk saling berbangga-bangga, hingga mereka lupa tujuan hidup yang sebenarnya, dan baru sadar ketika maut menjemput.

Hadirin yang Berbahagia,

Islam memberikan solusi cerdas untuk menghindari jeratan ini. Solusinya adalah pola hidup Wasatiyyah (Pertengahan) dan Qana’ah (Merasa cukup).

Allah berfirman tentang sifat Ibadurrahman (hamba Allah yang disayang) dalam Surah Al-Furqan ayat 67:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqan: 67)

Solusi praktisnya diajarkan oleh Rasulullah agar hati kita tenang dan tidak tergoda gaya hidup orang lain. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia), dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu. (HR. Muslim, No. 2963)

Maka, mari kita hentikan kebiasaan “Gali Lubang Tutup Lubang”. Hiduplah sesuai kemampuan. Jangan biarkan Pinjol merampas kemerdekaan hidup kita dan menghancurkan kehormatan agama kita. Biarlah hidup sederhana, makan apa adanya, namun tidur nyenyak, hati tenang, dan yang paling penting bebas dari hutang dan bahaya pinjol.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

BAGIAN 2: KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلْقِ وَالْبَشَرِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sebagai penutup khutbah ini, mari kita renungkan kembali. Hutang bukan hanya masalah ekonomi, tapi masalah Izzah (harga diri) dan Akidah. Jangan korbankan akhirat kita demi kesenangan dunia yang menipu.

Jika saat ini ada di antara kita yang sedang terjerat hutang, bertaubatlah kepada Allah. Niatkan dengan sungguh-sungguh untuk melunasinya. Potong kartu kredit atau aplikasi yang menjerumuskan. Dan hiduplah dengan qana’ah.

Ingatlah, Rasulullah SAW selalu berlindung dari hutang karena hutang bisa membuat seseorang berdusta saat berbicara dan mengingkari janji saat berjanji.

Marilah kita menundukkan kepala, memohon kepada Allah agar dilepaskan dari lilitan hutang dan dijauhkan dari gaya hidup yang dimurkai-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

Berikut adalah Doa Khusus Terlindung dari Hutang dan Kebingungan yang dapat kita amalkan dalam kesehariab ibadah.

Doa Pertama (Berlindung dari kebingungan, kemalasan, dan lilitan hutang):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Latin:

Allahumma inni a’udzu bika minal-hammi wal-hazan, wa a’udzu bika minal-‘ajzi wal-kasal, wa a’udzu bika minal-jubni wal-bukhl, wa a’udzu bika min ghalabatid-dayni wa qahrir-rijal.

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.

Doa Kedua (Memohon kecukupan rezeki yang halal):

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Latin:

Allahummak-finii bi halaalika ‘an haraamik, wa agh-ninii bi fadhlika ‘amman siwaak.

Artinya:

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu sehingga aku tidak menyentuh yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain Engkau.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: