Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Rahasia Sukses Dunia dan Akhirat: Cara Menggenggam Harta Tanpa Diperbudak

Dr. Aang Kunaepi, M.Ag

Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo

Rahasia Sukses Dunia dan Akhirat: Cara Menggenggam Harta Tanpa Diperbudak
Ilustrasi rahasia sukses kehidupan dunia dan akhirat melalui cara menggenggam harta tanpa diperbudak, di mana pencapaian materi cukup digenggam di tangan sementara orientasi akhirat tetap dijaga di dalam hati. (Foto: Ilustrasi AI)

Manusia pada hakikatnya menjalani peran sebagai seorang musafir. Kita datang mengunjungi bumi bukan untuk menetap selamanya, melainkan menempuh perjalanan panjang menuju keabadian. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib mencari rahasia sukses dunia dan akhirat.

Dunia sekadar berfungsi sebagai tempat persinggahan sementara. Sementara itu, akhirat senantiasa menjadi tempat kembali yang sesungguhnya. Islam sama sekali tidak menyuruh umatnya meninggalkan urusan duniawi. Sebaliknya, ajaran Islam menuntun kita mengetahui cara menggenggam harta tanpa diperbudak olehnya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”.

Ayat mulia ini memberikan panduan keseimbangan agar kita meraih kesejahteraan paripurna. Karena itu, kita tidak boleh menjadi manusia yang menolak dunia.

Mengelola Harta Sebagai Amanah, Bukan Tujuan

Banyak orang melakukan kesalahan fatal ketika mengubah alat menjadi tujuan utama. Mereka sering kali menjadikan kekayaan sebagai sumber harga diri, bukan sekadar sarana. Selain itu, mereka juga kerap menyalahgunakan jabatan sebagai simbol kekuasaan semata. Padahal, kunci rahasia sukses dunia dan akhirat membutuhkan niat yang lurus.

Al-Qur’an secara gamblang mengingatkan kita melalui QS. Al-Hadid ayat 20. Ayat tersebut menjelaskan bahwa dunia sekadar permainan dan perhiasan belaka. Manusia sering berlomba mengejar kekayaan hingga melalaikan tujuan ukhrawi. Meskipun demikian, Islam tidak mengharamkan pencapaian duniawi tersebut.

Seorang musafir tentu membutuhkan bekal perjalanan yang memadai. Mereka selalu memerlukan kendaraan, makanan, pakaian, dan tempat beristirahat. Namun, musafir yang bijak tidak akan menganggap tempat singgahnya sebagai rumah abadi. Pemahaman ini menjadi dasar penting dalam mempraktikkan cara menggenggam harta tanpa diperbudak.

Kita tentu sangat boleh mengejar kesuksesan finansial dan karier. Namun, jangan sampai pencapaian materi tersebut membuat kita melupakan kampung halaman abadi. Kesadaran tentang akhirat justru mengarahkan ambisi kita secara lebih baik. Seseorang pasti bersikap lebih hati-hati jika menyadari adanya pertanggungjawaban kelak.

Rasulullah SAW. memberikan nasihat indah melalui sabdanya:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir. (HR. Bukhari).

Hadis ini mengajarkan perspektif psikologis yang sangat kuat bagi setiap Muslim. Musafir tidak pernah melekat berlebihan pada tempat persinggahannya. Mereka hanya menggunakan fasilitas yang tersedia untuk melancarkan perjalanan panjang. Oleh karenanya, umat Islam harus menikmati dunia tanpa kehilangan orientasi sukses kehidupan dunia dan akhirat.

Integrasi Sukses Materi dan Ketenangan Hati

Ajaran Islam sama sekali tidak memusuhi kekayaan maupun kemajuan teknologi. Banyak sahabat Nabi saw. memiliki kemampuan ekonomi yang luar biasa. Persoalannya bukan terletak pada jumlah uang yang seseorang miliki. Masalah sebenarnya muncul ketika materi tersebut mulai menguasai hati manusia.

Allah Swt. menegaskan peringatan ini melalui QS. Al-Munafiqun ayat 9:
يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَلُكُمْ وَلَا أَوْلَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوَلِّئِكَ هُمُ الْخُسِرُونَ “
Janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.

Kesuksesan sejati tercapai saat capaian materi menjadi jalan menuju kebaikan. Ilmu yang bermanfaat akan mencerahkan kehidupan masyarakat luas. Kekayaan yang melimpah harus menjadi sarana berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Inilah esensi sebenarnya dari cara menggenggam harta tanpa diperbudak.

Era digital kini memicu manusia terjebak dalam perlombaan sosial yang melelahkan. Media sosial terus menampilkan kesuksesan semu orang lain setiap saat. Situasi ini sangat rentan memunculkan rasa iri dan kecemasan berlebih. Karena itu, konsep hidup sebagai musafir menawarkan solusi psikologis yang sangat menenangkan.

Hidup yang ideal selalu mensyaratkan integrasi yang harmonis. Dunia berfungsi sebagai ladang amal, sementara akhirat menjadi tujuan akhir. Pekerjaan kita otomatis bernilai ibadah ketika kita melakukannya secara halal. Mendidik keluarga juga menjadi ibadah jika kita melandasinya dengan tanggung jawab penuh.

Pada akhirnya, kehidupan dunia hanyalah cerminan sebuah perjalanan singkat. Kita semua bergerak perlahan menuju titik akhir yang pasti, yakni kematian. Kualitas bekal perjalananlah yang kelak membedakan derajat setiap manusia. Maka, terapkanlah rahasia sukses dunia dan akhirat secara seimbang.

Jadilah musafir yang cerdas, produktif, dan visioner. Terapkan cara menggenggam harta tanpa diperbudak dengan memastikan akhirat selalu bersemayam kuat di hati. Jadikan harta sebagai kendaraan andal untuk mencapai kebahagiaan abadi.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: