Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 5 menit baca

Kepemimpinan Tanpa Podium: Perempuan yang Menumbuhkan Masa Depan

Prima Trisna Aji

Dosen Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)

Kepemimpinan Tanpa Podium: Perempuan yang Menumbuhkan Masa Depan
Prima Trisna Aji, Dosen Prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), menawarkan gagasan GERAK Ibu sebagai gerakan pemberdayaan perempuan dan literasi keluarga dari rumah. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Saya selalu terusik ketika mendengar sebuah kalimat yang tampaknya biasa: “Ia hanya ibu rumah tangga.” Mengapa harus ada kata “hanya”? Seolah melahirkan, mengasuh, mengenalkan kata pertama, membentuk karakter, dan menumbuhkan keberanian seorang manusia merupakan pekerjaan kecil.

Kita begitu mudah mengagumi seorang pemimpin ketika ia telah berdiri di podium, tetapi jarang bertanya: siapa yang dahulu mengajarinya berdiri? Sebelum dunia mengenal seorang pemimpin, ia adalah seorang anak.

Di sanalah saya melihat satu bentuk kepemimpinan yang sering luput dari perhatian: kepemimpinan tanpa podium. Kepemimpinan yang tidak selalu memiliki jabatan, ruang rapat, sorotan kamera, ataupun tepuk tangan. Ia bekerja melalui percakapan, keteladanan, pendidikan, kasih sayang, dan doa. Kepemimpinan yang tidak sibuk menciptakan pengikut, tetapi menumbuhkan manusia agar kelak mampu memimpin dirinya sendiri dan memberi manfaat kepada sesama.

Ibu dapat menjalankan kepemimpinan itu dari rumah.

Namun, mengatakan “ibu adalah pencetak generasi” saja tidak cukup. Kalimat indah itu bahkan dapat menjadi jebakan. Kita bisa memuji ibu setinggi langit sambil membiarkannya menanggung pengasuhan, pekerjaan domestik, pendidikan anak, dan kesehatan keluarga seorang diri.

Kita terlalu sering memuliakan ibu dalam kata-kata, tetapi belum selalu memuliakannya dalam kenyataan.

Jika kita menyebut ibu pendidik generasi, mengapa kita tidak selalu memprioritaskan kesempatan belajarnya? Apabila kita mengharapkan perempuan mendampingi anak menghadapi dunia digital, mengapa kita tidak sungguh-sungguh memperkuat literasi digitalnya? Jika begitu banyak kerja perawatan keluarga berada di tangannya, siapa yang memastikan perempuan itu sendiri tetap sehat dan memiliki kesempatan untuk bertumbuh?

Jangan bebani ibu dengan masa depan generasi tanpa membekalinya dengan masa depan bagi dirinya sendiri.

Kepemimpinan Perempuan dan Literasi

Menghargai ibu bukan berarti mengembalikan perempuan semata-mata ke wilayah domestik. Pendidikan anak bukan pula tanggung jawab ibu seorang diri. Ayah, keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara memiliki tanggung jawab dan kita tidak boleh memindahkan seluruhnya ke pundak perempuan. Perempuan berkemajuan harus memiliki ilmu, pilihan, kesempatan, dan keberdayaan untuk menghadirkan manfaat di mana pun ia mengambil peran.

Semangat itu telah lama hidup dalam ‘Aisyiyah. Pada 1923, ‘Aisyiyah telah menggerakkan pemberantasan buta huruf yang menjangkau perempuan muda hingga ibu rumah tangga. Tiga tahun kemudian, Suara ‘Aisyiyah lahir dan turut melembagakan tradisi literasi perempuan. Seabad perjalanan itu membawa pesan penting: literasi perempuan tidak pernah berhenti pada kemampuan membaca huruf. Literasi adalah jalan menuju keberdayaan.

Muktamar ke-48 ‘Aisyiyah memutuskan Risalah Perempuan Berkemajuan yang meneguhkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan keluarga, pemberdayaan masyarakat, serta partisipasi publik sebagai bagian dari komitmen perempuan berkemajuan.

Maka, rumah bukan lawan dari ruang publik; keduanya adalah medan kebermanfaatan perempuan. Menjadi ibu tidak pernah membatalkan hak perempuan untuk menjadi ilmuwan, pengusaha, tenaga kesehatan, aktivis, ataupun pemimpin. Sebaliknya, perempuan yang memilih mencurahkan banyak waktunya untuk keluarga juga tidak menjadi manusia yang lebih rendah. Kemajuan perempuan bukan semata perkara tempat ia berdiri, melainkan kemampuannya untuk terus belajar, menentukan pilihan, dan menghadirkan manfaat.

Ini bukan sekadar romantisme. Analisis UNICEF di enam negara menunjukkan bahwa anak dengan orang tua yang terlibat setiap hari dalam pembelajaran secara signifikan lebih mungkin memperoleh capaian lebih tinggi dalam membaca, menulis, dan matematika. Pesannya sederhana: apa yang berlangsung setiap hari di rumah ikut menentukan kesiapan seorang anak menghadapi dunia.

Memberdayakan lewat GERAK IBU

Karena itu, memuliakan ibu harus bergerak dari pujian menuju pemberdayaan.

Saya menawarkan GERAK IBU: Gali pengetahuan, Eratkan keluarga, Rawat karakter, Aktifkan literasi, dan Kembangkan generasi.

Gali pengetahuan berarti perempuan terus memperoleh kesempatan belajar. Eratkan keluarga berarti pendidikan anak menjadi kerja bersama. Rawat karakter berarti rumah tidak sekadar mengejar anak pintar, tetapi menumbuhkan manusia yang jujur, peduli, tangguh, dan beriman.

Aktifkan literasi berarti membiasakan membaca, berdialog, bertanya, serta kritis terhadap informasi digital. Kembangkan generasi berarti memberi anak ruang untuk bermimpi, mencoba, gagal, bangkit, dan bertanggung jawab.

GERAK IBU bukan gerakan untuk ibu seorang diri. Ayah harus bergerak. Keluarga harus bergerak. Sekolah dan masyarakat harus bergerak. Negara pun harus bergerak menyediakan ekosistem agar perempuan dapat terus belajar dan berdaya.

Membangun Ekosistem Keluarga Pembelajar

Gerakan ini tidak harus menunggu anggaran besar. Mulailah dengan “15 Menit GERAK IBU”: lima belas menit setiap hari untuk membaca, bercerita, berdialog, atau mendengarkan anak tanpa distraksi gawai. Bagi pekerjaan domestik agar ibu mempunyai waktu untuk belajar. Jadikan posyandu, sekolah, pengajian, dan kelompok perempuan sebagai ruang pertukaran pengetahuan. Jaringan ‘Aisyiyah dapat memperluas kebiasaan sederhana tersebut menjadi gerakan literasi keluarga yang menghubungkan pendidikan, kesehatan, literasi digital, ekonomi, dan kepemimpinan perempuan.

Bayangkan jika gerakan kecil itu hidup di ribuan keluarga. Kita tidak hanya sedang mengajari anak membaca, tetapi membangun keluarga yang belajar bersama. Kita tidak hanya sedang memberdayakan seorang ibu, tetapi menyiapkan ekosistem tempat generasi berikutnya bertumbuh. Mata rantainya sederhana: berdayakan perempuan, kuatkan keluarga, didik generasi, gerakkan peradaban.

Seratus tahun Suara ‘Aisyiyah telah menunjukkan bahwa literasi perempuan dapat menjadi jalan pencerahan. Memasuki abad berikutnya, tantangannya bukan sekadar membuat perempuan semakin banyak membaca. Literasi harus bergerak menjadi keberdayaan; keberdayaan menguatkan keluarga; keluarga menumbuhkan generasi; dan generasi itulah yang kelak menentukan wajah peradaban.

Maka, ketika lain kali kita mendengar seseorang berkata, “Ia hanya ibu rumah tangga,” mungkin yang perlu dihapus bukan perannya, melainkan satu kata yang mengecilkannya: “hanya”. Sebab, tidak semua pemimpin berdiri di podium. Sebagian sedang menumbuhkan pemimpin di rumah.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: