Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Stop Tampil Kaya! Bahaya Besar di Balik Gaya Hidup Mewah Berlumur Utang dan Riba

4 Oktober 2025, 18:49 WIB • 3 menit baca
Stop Tampil Kaya! Bahaya Besar di Balik Gaya Hidup Mewah Berlumur Utang dan Riba

SEMARANG SELATAN,muhammadiyahkotasemarang.org–
Di era digital ini, dorongan untuk memamerkan gaya hidup mewah sering kali menjadi tuntutan sosial yang berat. Sayangnya, demi menjaga citra dan gengsi, banyak yang rela menempuh jalan pintas penuh risiko: berutang, bahkan terjebak dalam pusaran riba. Inilah pesan kunci yang disampaikan oleh Ustaz Ra’ad Noor Fattah, S.Sos.I., M.Ag., dalam khutbah Jumatnya di Masjid At-Taqwa Roemani pada Jumat (03/10/25). 

Khutbah yang berjudul “Tidak Bergaya Mewah Dengan Hutang” ini membuka mata kita tentang fakta pahit di balik tampilan gemerlap. Ustaz Ra’ad mengingatkan bahwa mengejar gaya hidup mewah dengan berutang sama saja dengan “menggadaikan ketenangan demi gengsi semu”. Perilaku ini bukan hanya tidak menambah kemuliaan, tetapi justru menambah parah beban hidup dan mengundang murka Allah. 

Utang: Dari Kebutuhan Darurat Menjadi Pemicu Gaya Hidup

Dalam ajaran Islam, utang-piutang (Al-Qardh) adalah transaksi yang dibolehkan, tetapi ada garis batas yang ketat. Utang, dalam konteks agama, seharusnya menjadi solusi darurat untuk memenuhi kebutuhan pokok yang tak terhindarkan. Namun, Ustaz Ra’ad menyoroti bagaimana modernisasi dan pertukaran budaya telah mengaburkan batasan ini.

Banyak orang kini kesulitan membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan yang bisa ditunda, yang ujung-ujungnya diselesaikan dengan berutang.

Ustaz Ra’ad secara khusus menyinggung tren yang membuat orang bangga memamerkan barang-barang yang dibeli secara cicilan berbasis riba, seperti mobil mewah atau gawai terbaru. Padahal, dampak dari jeratan utang ini sangat serius, bahkan dapat menentukan nasib akhirat seseorang. 

Ia juga mengutip peringatan keras dari Al-Qur’an mengenai bahaya riba yang berlipat ganda:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 130). 

Ayat ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati tidak datang dari kekayaan atau tampilan fisik, melainkan dari ketaatan dan ketakwaan kepada Allah. 

Mencari Ketenangan Melalui Qanaah dan Kesederhanaan

Lalu, bagaimana cara melepaskan diri dari tekanan untuk selalu tampil berlebihan? Solusinya, kata Ustaz Ra’ad, adalah dengan kembali pada ajaran kesederhanaan dan qanaah. 

Qanaah didefinisikan sebagai sikap menerima rezeki yang diberikan Allah dengan lapang dada, diiringi dengan usaha keras, menabung, dan menjauhi perilaku pemborosan. Hidup qanaah menjanjikan ketenangan sejati. 

“Tidak perlu risau tentang cicilan, tidak dihantui oleh tagihan, dan tidak tersiksa oleh rasa malu bila tidak sanggup membayar,” ungkap Ustaz Ra’ad, menggambarkan manfaat hidup bersahaja. 

Menjadikan sifat boros (tabdzīran) sebagai kebiasaan hanya akan menjerumuskan seseorang pada kebinasaan.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’ 17: 26-27). 

Ustaz Ra’ad juga memberikan tips praktis yang jarang disadari: memilih teman. Lingkungan pergaulan sangat memengaruhi dorongan untuk bergaya. Jika kita terus berada di lingkungan yang mengukur kehormatan dari kemewahan, kita akan cepat terjerumus ke dalam pola beban hidup yang sama. 

Ia menguatkan saran ini dengan hadis “Seseorang itu berada di atas agama temannya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud no. 4833, Tirmidzi no. 2378).

Daripada terbuai oleh gaya hidup mewah yang menipu di media sosial, mari kita fokus pada kekayaan batin, meneladani Rasulullah saw. yang mengutamakan kekayaan hati.

Dunia ini hanyalah tempat singgah. Sungguh disayangkan jika kita memaksakan diri tampil glamor dengan utang, padahal di hadapan Allah kita dicatat sebagai orang fakir karena terjerat riba.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: