Belajar dari Teladan Nabi dan KH Dahlan
GENUK, muhammadiyahsemarangkota.org – Ratusan pasang mata tertuju pada sosok di mimbar Masjid At-Taqwa Dongbiru. Sejuknya pagi Ahad,(13/7/2025), tak menyurutkan semangat jamaah di Kelurahan Genuksari, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, untuk menyimak setiap patah kata.
Hingga akhirnya, sebuah kalimat meluncur, menancap dalam benak: “Jangan mencari hidup di Muhammadiyah, tapi hiduplah untuk menghidupkan Muhammadiyah.” Pesan lugas namun penuh makna ini disampaikan oleh Dr. H. AM Jumai, SE., MM.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang sekaligus tokoh Muhammadiyah Jawa Tengah, menjadi penutup yang menggema dari Pengajian Ahad Pagi. Ini bukan sekadar wejangan biasa, melainkan sebuah seruan moral bagi setiap individu yang bernaung di bawah panji Muhammadiyah, terutama di tengah tantangan dakwah di wilayah yang secara struktural dan kultural tergolong minoritas.
Dalam pengajian bertema “Refleksi dan Muhasabah Menghidupkan Dakwah di Daerah Minoritas Warga Muhammadiyah dengan Pendekatan Penguatan Tauhid dan Akhlak” ini, Dr. Jumai mengajak audiens, yang meliputi tokoh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genuk, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA), kader Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, serta masyarakat luas, untuk merenungkan kembali esensi dakwah di wilayah yang secara kultural dan struktural, warga Muhammadiyah tergolong minoritas.
“Dakwah Muhammadiyah bukan soal jumlah, tapi soal kualitas pendekatan. Kita bukan sedang mendominasi, tapi menanam nilai dan meneladani akhlak Rasulullah,” tegas Dr. Jumai.
Lebih lanjut, Dr. Jumai menekankan bahwa teladan dakwah Nabi Muhammad SAW, yang mengedepankan akhlak ketimbang kekuasaan, sangat relevan untuk konteks Muhammadiyah hari ini.
Strategi Dakwah Muhammadiyah di Wilayah
Prinsip serupa menjadi landasan KH Ahmad Dahlan saat mendirikan Muhammadiyah, yang dibangun atas kemurnian akidah dan kekuatan akhlak, bukan politik, melainkan melalui pendidikan, pelayanan, dan keteladanan.
Ini adalah semangat yang harus dihidupkan kembali, terutama di daerah-daerah yang mayoritasnya bukan Muhammadiyah.
Untuk itu, Muhammadiyah perlu mengadopsi tiga pendekatan dakwah utama.
Pertama, pendekatan spiritual, yakni dengan menanamkan nilai tauhid dan memperkuat ibadah personal. Kedua, pendekatan kultural, di mana Muhammadiyah harus mampu merespons budaya lokal sembari menyematkan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Dan ketiga, pendekatan struktural, yang fokus pada penguatan jaringan serta manajemen organisasi dari tingkat ranting, cabang, daerah, hingga pusat. “Struktur Muhammadiyah sudah sangat kuat, bahkan hari ini telah berkembang hingga mancanegara. Tapi kekuatan itu hanya akan bermakna jika dilandasi tauhid dan akhlak,” imbuh Dr. Jumai.
Sejarah Muhammadiyah di Kota Semarang sendiri menjadi bukti nyata bahwa organisasi ini tidak dibangun oleh kelompok besar, melainkan oleh segelintir individu yang teguh memegang kemurnian tauhid dan keberanian moral. Komitmen inilah yang menjadikan Muhammadiyah tumbuh subur dan dipercaya hingga kini.
Ber-Muhammadiyah, menurut Dr. Jumai, adalah wujud ketulusan berdakwah, bukan untuk mengejar kemewahan atau jabatan. “Orientasi kita harus jelas: dakwah. Bukan fasilitas, bukan proyek. Tapi amal shaleh kolektif untuk menegakkan Islam berkemajuan,” tegasnya, sembari mengutip berbagai dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, seperti QS. An-Nahl:125, yang menyerukan dakwah dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta hadits tentang akhlak sebagai inti kenabian.
Pengajian ini berlangsung khusyuk dan penuh antusiasme, memberikan suntikan moral dan ideologis bagi para jamaah. Salah satu tokoh PCM Genuk menyampaikan, bahwa meskipun Muhammadiyah berada di posisi minoritas, ia bisa menjadi besar asalkan pondasinya adalah tauhid dan akhlak yang kuat.
Pengajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa Dongbiru ini bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang berharga untuk refleksi dan muhasabah gerakan dakwah Muhammadiyah di wilayah-wilayah strategis.
Dengan memadukan pendekatan spiritual, kultural, dan struktural, serta meneladani Rasulullah SAW dan KH Ahmad Dahlan, dakwah Muhammadiyah diharapkan akan terus hidup dan mengakar, menghadapi berbagai tantangan zaman dan demografi yang semakin kompleks. Semangat untuk berdakwah tulus, demi menghidupkan Muhammadiyah, menjadi panggilan bagi setiap kader dan simpatisan.