Genap 61 Tahun Menjaga Negeri, Komandan KOKAM Semarang Kobarkan Semangat Pengabdian Tanpa Tapi
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Peringatan Hari Ulang Tahun atau Milad ke-61 Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) pada Kamis (1/10/2026) menjadi momentum krusial untuk merawat ingatan sejarah. Sejak berdiri di tengah gejolak politik nasional tahun 1965, KOKAM terus konsisten membentengi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta mengawal dakwah kemanusiaan.
Menandai perjalanan enam dekade lebih tersebut, Komandan KOKAM ‘Surya Singosari’ Kota Semarang sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Semarang, Yuliyansah Masyhar atau yang akrab disapa Uda Yayan menyampaikan pesan refleksi mendalam. Pihaknya menegaskan bahwa keberadaan KOKAM bukan sekadar tentang atribut fisik maupun kerapian barisan parade. Lebih dari itu, KOKAM merupakan panggilan jiwa untuk mengabdi secara tulus kepada masyarakat dan bangsa.
Mengusung tema “KOKAM Tangguh Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban Bangsa”, Yuliyansah Masyhar mengajak seluruh kader untuk merefleksikan kembali sumbangsih nyata yang telah diberikan kepada persyarikatan dan Umat. Berikut adalah gagasan serta pesan refleksi utuh yang disampaikan oleh Komandan KOKAM Kota Semarang tersebut:
REFLEKSI MILAD KOKAM KE-61
“KOKAM Tangguh Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban Bangsa”
Oleh: YULIYANSAH MASYHAR a.k.a Uda Yayan
(Wakil Ketua PDPM Kota Semarang & Komandan KOKAM ‘SURYA SINGOSARI’ Kota Semarang)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hari ini kita memperingati Milad KOKAM yang ke-61. Enam puluh satu tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ada sejarah panjang, perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian yang telah dilalui oleh KOKAM sebagai bagian dari gerakan Pemuda Muhammadiyah dan Persyarikatan Muhammadiyah.
KOKAM lahir bukan sekadar sebagai sebuah organisasi yang memakai seragam, memiliki atribut, atau hadir ketika ada kegiatan besar. KOKAM lahir dari kebutuhan zaman. KOKAM dibentuk pada tahun 1965 dalam situasi bangsa yang penuh gejolak. Kehadirannya merupakan bagian dari ikhtiar Pemuda Muhammadiyah untuk menjaga keamanan, melindungi kegiatan dan aset Persyarikatan, serta ikut menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dari sejarah itu kita belajar satu hal penting:
KOKAM lahir untuk mengabdi.
Bukan untuk mencari keuntungan pribadi.
Bukan untuk mencari penghormatan.
Bukan untuk sekadar mendapatkan jabatan.
Dan bukan hanya untuk hadir ketika membutuhkan sesuatu dari Persyarikatan.
Justru sebaliknya, menjadi kader KOKAM berarti siap memberikan sesuatu kepada Persyarikatan.
“Apa yang sudah kau berikan untuk Persyarikatan?”
Pertanyaan ini harus selalu kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Jangan sampai prinsip kita berubah menjadi: “Apa yang bisa saya dapatkan dari Persyarikatan?”
Tetapi mari kita balik: “Apa yang sudah saya berikan untuk Persyarikatan?”
Apa tenaga yang sudah kita berikan?
Apa waktu yang sudah kita korbankan?
Apa pikiran yang sudah kita sumbangkan?
Apa ilmu yang sudah kita bagikan?
Apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga nama baik Muhammadiyah?
Dan ketika Persyarikatan membutuhkan kita, apakah kita hadir?
Inilah pertanyaan yang harus kita jawab sebagai kader KOKAM.
KOKAM Harus Lebih Masif Bergerak dan Menebar Keteladanan
Memasuki usia ke-61, KOKAM tidak boleh hanya menjadi pasukan yang terlihat ketika memakai seragam dan berdiri dalam barisan. KOKAM harus lebih masif bergerak. KOKAM harus hadir di tengah masyarakat, membantu ketika umat membutuhkan, serta ikut menjaga kegiatan dan aset Persyarikatan.
Tetapi yang tidak kalah penting, KOKAM harus membangun kualitas kadernya. Kader KOKAM harus kuat secara fisik, mental, spiritual, ilmu, dan loyalitas. Kita tidak ingin KOKAM hanya dikenal karena keberaniannya, melainkan karena pengabdiannya. Kita tidak ingin KOKAM hanya dikenal karena ketegasannya, melainkan karena keteladanannya.
Tema Milad KOKAM tahun ini sangat dalam: “KOKAM Tangguh Menjaga Persatuan, Membangun Peradaban Bangsa.” Kata tangguh berarti tidak mudah menyerah. Menjaga persatuan berarti mampu menjadi perekat, bukan pemecah. Dan membangun peradaban berarti pengabdian KOKAM harus memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan bangsa.
Kita boleh berbeda pendapat, latar belakang, maupun karakter. Tetapi kita memiliki satu rumah perjuangan: Persyarikatan Muhammadiyah. Jangan sampai perbedaan kecil membuat kita saling menjauh atau ego pribadi mengalahkan semangat pengabdian. Semua harus bergerak saling menguatkan sesuai kemampuan masing-masing.
Pada akhirnya, semua pengabdian kita harus kita niatkan karena Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Muhammad ayat 7:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Kepada seluruh kader KOKAM Kota Semarang, mari kita jadikan Milad ke-61 ini sebagai momentum evaluasi. Mari bertanya pada diri sendiri tentang sejauh mana kita telah mengabdi. KOKAM yang kuat bukan hanya karena jumlahnya banyak, melainkan karena kadernya memiliki jiwa pengabdian murni.
KOKAM bukan sekadar seragam. KOKAM bukan sekadar barisan. KOKAM adalah jiwa pengabdian.
Selamat Milad KOKAM ke-61. Terus bergerak, terus mengabdi, terus menjaga Persyarikatan. Fastabiqul khairat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.