Saat Banser NU dan Kokam Muhammadiyah Berbagi Peluh di Genuk Semarang
GENUK, muhammadiyahsemarangkota.org – Matahari belum sepenggalah naik di langit pesisir Genuk, Kota Semarang. Namun, peluh sudah membasahi seragam loreng milik seorang pria. Ia mengangkat lengan dengan tegas untuk membelah arus lalu lintas. Rombongan jamaah terus menyemut menuju lokasi Hari Ber-Muhammadiyah dan Ber’Aisyiyah, Ahad (12/4/2026).
Pria itu tampak seperti panitia keamanan biasa. Padahal, emblem di dadanya menunjukkan identitas yang berbeda. Ia merupakan anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU). Pagi itu, Banser NU dan Kokam Muhammadiyah berdiri bahu-membahu menjaga perhelatan akbar tersebut.
Lebur dalam Pengabdian
Di simpang jalan yang bising, sepatu lars mereka menapak aspal secara bergantian. Seragam loreng Banser sesekali bersinggungan dengan loreng Kokam berbaret merah. Mereka berbagi ruang jalan dengan sangat harmonis.
Selanjutnya, tangan mereka bergantian memberi isyarat berhenti pada angkot yang melintas. Mereka membuka jalan bagi rombongan ibu-ibu ‘Aisyiyah dengan sigap. Di sela padatnya lalu lintas pesisir, mereka kerap bertukar senyum dan anggukan. Bahasa isyarat ini membuktikan perbedaan bisa lebur dalam satu pengabdian.
Menjinakkan Prasangka di Tengah Tantangan
Genuk memang bukan wilayah yang mudah bagi warganya. Kawasan pinggiran industri ini sering menghadapi kerasnya cuaca pesisir dan banjir rob. Oleh karena itu, masyarakat kelas pekerja di wilayah ini membentuk ikatan komunal yang kuat.
Di tengah demografi padat ini, warga berhasil meredam gesekan perbedaan afiliasi keagamaan. Warga Genuk lebih memilih saling merangkul demi membangun harmoni sosial.
Dua barisan ini membawa dua nama besar yang sering dipertentangkan. Di ruang maya, identitas Muhammadiyah dan NU kerap memicu perdebatan panjang. Perbedaan cara pandang tak jarang melahirkan kata-kata yang saling berseberangan. Akibatnya, api kecil prasangka seringkali menyala menjadi jarak.
Tetapi pagi itu, semua narasi perpecahan runtuh seketika. Pelataran Kantor Kecamatan Genuk dan halaman Majelis Wakil Cabang (MWC) NU menjadi saksi bisu. Pengurus NU meminjamkan lahan parkir dengan tulus untuk acara tersebut. Di sana, tidak ada sekat dan tidak ada kecurigaan sama sekali.
Merawat Ukhuwah Tanpa Adu Domba
“Ini sebenarnya sudah biasa di Genuk,” tutur Yuliansyah, Komandan Kokam Muhammadiyah Semarang. Baginya, sinergi antara Muhammadiyah Kota Semarang dan NU bukan sekadar etalase toleransi. Sinergi ini tumbuh subur dari kebiasaan saling membantu di akar rumput. Selain itu, mereka sadar bahwa persaudaraan umat jauh lebih urgen daripada ego sektoral.
Penegasan serupa meluncur dari Wakasatkoryon Banser Majelis Wakil Cabang (MWC) Genuk, Muhammad Syohim. Kepada wartawan muhammadiyahsemarangkota.org, ia menolak keras segala upaya perpecahan umat. Suaranya terdengar tegas namun tetap hangat di sela deru mesin kendaraan.
“Kami tidak akan mau diadu domba,” katanya sambil terus mengurai kemacetan.
Kalimat sederhana itu memikul makna yang sangat berat. Masyarakat Genuk tidak membiarkan benih prasangka tumbuh menjadi gulma. Mereka selalu menjinakkannya dengan silaturahmi dan saling membuka pintu.
Pada akhirnya, persatuan sejati lahir dari langkah kecil di jalan raya, bukan sekadar pidato elite. Dalam hal ini, Banser NU dan Kokam Muhammadiyah membuktikan hal tersebut secara nyata.
Saling Menguatkan, Bukan Berhadapan
Hari itu, seragam loreng tidak lagi menjadi lambang ketatnya perbedaan identitas. Pakaian tersebut justru menjelma menjadi saksi bisu keutuhan sebuah persaudaraan. Mereka tidak lagi berdiri berhadap-hadapan untuk berdebat. Sebaliknya, mereka saling menopang dan menguatkan satu sama lain.
Kawasan Genuk menitipkan pesan sosiologis yang sangat dalam bagi kita semua. Perbedaan sama sekali tidak perlu kita hapus atau musuhi agar bisa bersatu. Kita hanya butuh merawat dan menghormati ruang perbedaan tersebut.
Di tengah dunia yang kian rapuh, sepotong aspal pesisir Semarang ini memancarkan harapan baru. Kolaborasi antara Banser NU dan Kokam Muhammadiyah menghadirkan laku ukhuwah yang sunyi. Meskipun jauh dari keriuhan panggung, pesan persaudaraan ini teramat nyata menggetarkan hati.
baca juga:
Potret Sejuk Ukhuwah Muhammadiyah Nahdliyin: Banser NU Amankan Hari Ber-Muhammadiyah Semarang
Apresiasi Sinergi Banser NU, PP Muhammadiyah Puji Hari Ber-Muhammadiyah Semarang
Berebut Rumah di Surga, Lelang Masjid Muhammadiyah Semarang Tembus Rp205 Juta dalam Sekejap